Mau jadi member BCI gmn caranya ??? Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message----- From: Tras No Wan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 25 Jul 2010 07:06:12 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [baleno] Re: Suzuki Buka Pengaduan Fuel Pump Itulah... nasionalisme selalu dianggap "selalu berada/berpijak di negeri sendiri dan makan produk negeri sendiri". padahal negeri ini mengeluarkan surat pernyataan merdeka nya sendiri, pelaksana nya harus usaha ke luar negeri juga. akhirnya si produsen terlena, menganggap sudah menguasai seluruh pasar, karena dia adalah si pemilik wilayah, dengan atau tanpa usaha. ibarat anak raja yang dari lahir sudah disiapkan tempat untuk berkuasa. jadi menurut saya, kotak pengaduan kerusakan FP sudah tidak ada artinya, kecuali hanya untuk pengumpulan saja. ini wilayah kekuasaan, bukan perdagangan bebas yang terkendali (dan bukan terkendala). dan pada dasarnya, saya hanya peduli dengan negeri ini, dengan orang-orangnya. bukan dengan pertamina nya. pertamina adalah institusi kekuasaan. baik atau bobrok, dia tidak akan hancur. seandainya kejadian ini ada di produk shell, petronas atau total, dengan mudah pertamina kembali menjadi "one man show". produk-2 asing itulah yang mudah hancur. makanya, mereka berusaha sebagus mungkin menjaga kualitas. SPBU mereka, berusaha dijaga kerapihannya. SPBU Pertamina, sebelum ada "Pas", hanya beberapa saja yang rapih. Sisanya ga jauh beda dengan SPBU plat hitam yang menggunakan botol. so, sekali lagi saya tulis, sia-sia saja akhirnya berpikir keras hubungan antara FP dan Pertamina. dan berita ini juga akan cuma menjadi debu saja di bulan mendatang. pil pahit sudah ditelan dengan seksama oleh pemilik kendaraan. rgds, Yose. 2010/7/24 Didin Syafrudin <[email protected]> > > > Haha simple saja, sy ingin mengomentari paragraf terakhir > Kesimpulan saya dari panjangnya pembahasan ini, kita sama2 berkepentingan > dengan masa depan Pertamina. Hanya saja arah kita berlawanan, betul? > > Oknum memang harus diberantas, saya yakin di kantor anda pun ada oknum > > Thnks > Didin > > On 24 Jul 2010 21:21, "Tras No Wan" <[email protected]> wrote: > > > Maaf, OOT sejenak. > > Sebenarnya yang nasionalis dengan Indonesia itu banyak, sayangnya > kebanyakan "lupa" ketika bertemu dengan dunia yang (kelihatannya) lebih > luas, enak dan berkuasa dibandingkan apa yang dipikirkan sebelumnya. Saya > pun tidak terima jika bangsa ini disepelekan karena disamping saya lahir dan > besar di negeri ini dan masih cari makan di negeri ini pula, Indonesia > adalah produsen ahli-ahli IpTek. Tetapi ternyata bukti berbicara lain. > Kebanyakan para ahli yang seharusnya bisa menjelaskan teori-2 ini sudah > "disewa" lebih dulu oleh bangsa lain. > > Dan sebenarnya, "pihak asing" yang dimaksud juga melaksanakan UUD pasal 33. > Mereka tidak memiliki "tanah ladang" minyak dan gas di Indonesia ini (saya > tidak tau dengan kandungan mineral lain dalam dunia pertambangan). Jika om > dan tante pernah ke lapangan minyak (atau sederhananya, lihat iklan-2 > lowongan kerja dan tender dari perusahaan minyak asing di suratkabar) maka > akan terpampang lebar-lebar tiga logo : pertamina, bp migas dan si "pihak > asing" itu. Jadi tidak ada teori dan praktek bahwa ladang minyak adalah > milik si "pihak asing". Pihak asing hanya menyediakan peralatan pengeboran > hingga produksi dan "dijemput" oleh pertamina atau konsumen nya pertamina > (bukan si pihak asing tersebut). Nah , masalahnya ternyata praktek akhirnya > ga sesimpel itu. Si pihak asing itu memanfaatkan celah kelemahan yang > sebenarnya juga dibuka oleh *oknum* (istilah umum penghalusan karakter > supaya tidak dituduh memfitnah atau character assasination) dari tubuh > pertamina atau bp migas sendiri. (akhir-2 ini beberapa "oknum" tadi sudah > "sadar" dan ada satu ladang sangat besar di daerah jawa tengah yang ditahan > oleh pertamina karena sudah mencium kelicikan si pihak asing tersebut). > > Analisa saya baik atau buruk, tetap tidak membawa dampak apapun. Saya dan > beberapa konsumen premium yang pindah ke "toko" lain pun juga tidak akan > mematikan nafkah nya pekerja di pertamina (bahkan sampai detik ini isu PHK > besar di pertamina cuma buat ngisi kolom surat kabar elektronik saja. saya > tanya ke orang yang istrinya di manajemen pertamina pusat, ternyata tidak > ada.) Cuma buih di lautan luas, ga ada artinya. Terlalu jauh rantai logika > nya. > > >
