Bersama ini saya forward-kan lagi satu artikel yang pernah saya kirimkan
ke harian Bali Post. Trim's.

dari
Nyoman Bangsing

===================================
 Nyoman Bangsing
 Engineering Physics Department
 Bandung Institute of Technology
 Ganesha 10. Bandung
 Indonesia
 Phone/fax : +62-22-2504424/2504424
 e.-mail   : [EMAIL PROTECTED]
===================================


---------- Forwarded message ----------
Date: Tue, 19 Mar 2002 11:04:58 +0700 (JAVT)
From: Nyoman Bangsing <[EMAIL PROTECTED]>
To: Redaksi Bali Post <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: artikel: Bali Perlu PLTGU

Yth. Redaksi Bali Post
di Denpasar

Bersama ini saya sampaikan satu artikel, yang berkaitan dengan rencana
pembangunan PLTGU di Pemaron.

Bali Perlu PLTGU ?
Apabila saya ditanya apakah Bali perlu mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga
Gas dan Uap(PLTGU) sendiri, maka jawaban saya bisa ya dan tidak. Kalau
saya jujur pada diri saya sendiri, saya akan katakan Bali tidak perlu
mempunyai pembangkit listrik sendiri. Kenapa demikian ?
Masih segar dalam ingatan saya, dalam satu artikel pada harian
ini, seseorang mencoba mencari alasan, kenapa Bali memerlukan pembangkit
listrik. Salah satau alasan yang dikemukakan adalah Bali akan kehilangan
peluang bisnis, apabila pasokan listrik dari Jawa tiba-tiba terputus.
Apabila kita lihat sekilas, nampaknya suatu alasan yang masuk akal,
mengingat sebagian kebutuhan listrik Bali memang dipasok dari Pulau Jawa.
Mari kita merenung sejenak. Anggaplah alasan yang dikemukakan di atas
memang cukup kuat, untuk menggolkan rencana pembangunan PLTGU di Bali.
Apabila logika di atas kita kembangkan, selama ini apabila teman-teman
dari Bali ingin melakukan transaksi bisnis ke luar Bali, termasuk ke luar
negeri, Bali sangat tergantung pada perusahan telekomunikasi yang ada di
tanah air. Tentu saya boleh mengajukan pertanyaan, bagaimana kalau
tiba-tiba kabel penghubung yang menghubungkan pulau Jawa dan Bali
terputus, apakah Bali tidak akan kehilangan kesempatan bisnisnya ?
Apakah dengan demikian, Bali mesti mempunyai perusahaan telekomunikasi
sendiri ?
Konsep pemikiran di atas, masih bisa diperluas, dimana kita semua tahu,
betapa vitalnya peranan satelit yang dimiliki pemerintah kita dalam
menunjang komunikasi antar pulau, bahkan antar negara. Saya juga berhak
mengajukan pertanyaan yang sama. Bila nanti kita tidak mendapat layanan
dari satelit yang ada, apakah Bali mesti membeli satelit sendiri ?
Dari pengalaman masa lalu, pariwisata Bali goyang akibat terjadinya perang
teluk. Pariwisata Bali juga goyang akibat pemboman WTC. Bila logika yang
kita anggap benar di atas kita perluas lagi, agar pariwisata Bali tidak
goyang, apakah Bali mesti menggantikan peran negara Amerika sebagai polisi
dunia ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sengaja saya lontarkan, agar kita tidak
terjebak dalam pola pikir yang sempit. Bahwa Bali perlu listrik memang ya,
namun bukan berarti Bali mesti membangun pembangkit listrik sendiri.
Selama Bali masih menjadi bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia,
kenapa mesti takut. Pemerintah Indonesia bisa saja menambah kapasitas daya
yang terpasang pada pembangkit listrik yang telah ada di Pulau Jawa.
Apabila Bali ngotot ingin membangun PLTGU, konsekuensi apa yang mesti
dihadapi masyarakat Bali ?
Pertama dalam tahap pengerjaan proyek, akan didatangkan pekerja dari luar
pulau yaitu pulau Jawa. Untuk butir yang pertama ini, PEMDA mesti mendapat
jaminan dari pemenang tender, bahwa tenaga kerja yang didatangkan akan
dipulangkan kembali ke daerah asalnya, apabila proyek telah selesai.
Kenapa hal itu perlu dilakukan ?
Jawabannya sederhana saja. Apabila mereka tidak dipulangkan ke daerah
asalnya, maka dikhawatirkan mereka akan menimbulkan permasalahan di kelak
kemudian hari. Selama mereka mendapat pekerjaan, semua orang tidak perlu
khawatir. Hanya saja, keadaannya akan berbeda, bila mereka nantinya tidak
mempunyai pekerjaan tetap, maka kita berhak khawatir bahwa mereka bisa
melakukan tindakan kriminal.
Kita semua tahu, Bali telah sarat dengan berbagai permasalahan,
apakah kita mau menambah permasalahan pada masyarakat Bali lagi ?
Saya kebetulan sempat membaca satu copy dari analisa dampak lingkungan
dari PT. Indonesia Power, berkaitan dengan rencana pembangunan PLTGU di
Pemaron. Secara gamblang saya ingin menyatakan bahwa saya tidak bisa
diyakinkan dengan proposalnya itu. Menurut hemat saya, analisa yang
dilakukan terasa masih sangat lemah. Sebagai satu contoh, untuk mengkaji
tingkat kebisingan yang akan timbul, mereka hanya melakukan pengukuran di
5 buah titik. Bagi seseorang yang pernah belajar teknik akustik, maka dia
tidak bisa diyakinkan dengan jumlah pengukuran yang sangat terbatas
seperti itu. Apalagi bila seseorang telah berpengalaman memetakan tingkat
kebisingan di suatu industri, maka jumlah titik pengukuran tidak cukup
hanya 5 buah. Apabila kita melakukan pengukuran di banyak titik, sudah
barang tentu tingkat kebisingan yang ada tidak merata. Apabila pihak
Indonesia Power hanya melakukan pengukuran di 5 buah titik, maka saya
berhak untuk curiga, apakah ada sesuatu yang ingin anda sembunyikan ?
Dalam upaya mengukur debit sungai yang ada di Pemaron, digunakan persamaan
kontinuitas. Apabila persamaan itu yang dipilih, berarti permasalahan yang
ada menjadi sangat disederhanakan. Kenapa tidak dilakukan pengukuran atau
bahkan pengamatan debit sungai yang ada sepanjang tahun ?
Apabila pengukurannya dilakukan sepanjang tahun, maka hasil pengukuran
yang diperoleh bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Di sisi lain, dalam usaha mereka menganalisa tingkat pencemaran yang
terjadi, mereka menggunakan perumusan untuk gas ideal. Pertanyaan yang
bisa diajukan, kenapa untuk menganalisa gas nyata, yang tentu bukan gas
ideal, digunakan persamaan gas ideal ?
Kesan yang saya peroleh, setelah membaca ANDAL mereka, nampaknya mereka
tidak di suport tenaga ahli. Apabila mereka ingin melakukan kajian yang
mendalam, maka mau tidak mau mesti melibatkan banyak kepakaran,
diantaranya sosiolog, antropolog, ahli akustik, ahli metrologi, ahli
instrumentasi dan kontrol dsb.
Butir Kedua, bila proyek ini dijalankan, maka akan terjadi pengalihan hak
atas tanah penduduk. Penduduk sekitar proyek, dengan alasan kemanan operasi
pembangkit listrik, ataupun untuk kepentingan perluasan operasi pembangkit
listrik tersebut, lambat atau cepat, mesti menyingkir. Nah, mereka yang
mungkin terdiri dari sekian Kepala Keluarga, mau dibawa kemana ?
Mereka mungkin akan semakin terdesak ke arah pedesaan atau pegunungan,
atau bahkan terlempar ke luar pulau, ikut bertransmigrasi.
Saya selalu merasa khawatir, setiap kali terjadi pemidahan hak atas tanah,
yang semula menjadi milik penduduk setempat, akhirnya berpindah tangan ke
pemilik proyek. Apa yang terjadi selama ini, dimana terjadi proses
pemiskinan terhadap masyarakat setempat. Apakah kita menginginkan proses
seperti itu terus berlangsung ?
Butir Ketiga, apabila pembangkit listriknya sudah dibangun, siapakah yang
akan menangani bidang instrumentasi dan kontrolnya ?
Siapakah yang akan memegang kendali perusahan, siapakah yang menduduki
level manager ke atas ?
Cobalah kita tengok hotel-hotel yang ada di Bali. Sudah menjadi rahasia
umum, dimana orang Bali hanya mengisi level lapangan kerja bagian bawah
saja. Level manager apalagi General Manager, rasanya mulai sulit bagi
orang Bali. Jikapun ada, tentu jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Butir keempat, mungkin banyak kalangan yang tidak tahu atau pura-pura
tidak tahu, bahwa Bali Utara menyimpan banyak peninggalan arkeologis yang
belum tergali selama ini. Butir ini saya maksudkan, agar PEMDA mesti
hati-hati, bila ingin melaksanakan suatu proyek di suatu wilayah di Bali.
Oleh karena itu, dalam menggarap proyek, kita mesti melibatkan banyak
kepakaran diantaranya sosiolog, arkeolog, ahli akustik, ahli instrumentasi
dan kontrol, ahli Metrologi dsb. Secara tehnis, orang teknik, mampu
mengerjakan semuanya, hanya saja dia tidak tahu apakah pada daerah lokasi
proyek merupakah situs purbakala ?
Nampaknya masih banyak butir-butir yang belum termuat dalam tulisan ini,
hanya saja karena keterbatasan ruang yang ada, saya sudahi tulisan saya
sampai di sini dulu. Lain kali kita sambung lagi. Mudah-mudahan tulisan
saya ini, ada manfaatnya untuk kita semua.

Demikian dari saya, dan atas perhatian redaksi saya ucapkan banyak
terimakasih.

hormat saya,
Nyoman Bangsing

===================================
 Nyoman Bangsing
 Engineering Physics Department
 Bandung Institute of Technology
 Ganesha 10. Bandung
 Indonesia
 Phone/fax : +62-22-2504424/2504424
 e.-mail   : [EMAIL PROTECTED]
===================================




--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Arsip      : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke