> Ysh. Teman-teman LP3B Saya sependapat dengan Bapak Suwela, Bali mesti menolak proyek butut seperti itu. Bila Bali menerima, rasanya kebangetan. Apa kita adalah sekumpulan orang-orang bodoh ?
salam sejahtera Nyoman Bangsing Seharusnya proyek ini secara otomatis sudah harus ditolak. Alasannya : > 1. Jelas telah bertentangan dengan Perda Bali tentang penetapan Pemaron > sebagai bagian kawasan wisata Kalibukbuk. Pembangunan proyek PLTGU ini > jelas bertentangan dengan Perda ini. Adanya lahan dan fasilitas lain > yang dimiliki oleh PLN di Pemaron, yang menjadi dasar pemilihan lokasi > PLTGU ini, adalah bahwa pembangunan fasilitas itu sebelum Pemaron > ditetapkan sebagai kawasan. Dengan ditetapkannya Pemaron sebagai > kawasan wisata oleh Peprop. Bali, konskwensinya tidak diijinkan lagi > proyek yang bertentangan dengan peruntukkannya, kalau kita memang mau > menegakkan hukum. > 2. Dalam Amdal jelas disebutkan bahwa proyek bisa dilanjutkan kalau : > a. Ada persetujuan dari Desa dan Desa Adat. > b. Persetujuan dari DPRD. > c. Persetujuan dari PHRI. > Nyatanya semua tersebut diatas menolak, berarti proyek ini tidak bisa > dilanjutkan. Apa lagi? > Alasan karena menghemat biaya, bagaimana dengan pengorbanan investasi > oleh masyarakat, apakah ini tidak diperhitungkan? > Sedangkan masih banyak alternatip untuk memenuhi kebutuhan listrik, > mengapa masih harus ngotot supaya lokasinya harus di Pemaron, hanya > dengan alasan biaya? Alasan tehnis, dijaman hitech ini, alasan tehnis > tidak mungkin, akan ditertawai dunia. Kita bisa membawa listrik dari > Jawa, mengapa tidak bisa dari Gilimanuk? Tidak ada jaringan, bangun > dong! > Sekian pendapat saya. > Nyoman Suwela > PHRI Buleleng > At 05:49 AM 10/20/2002 -0700, you wrote: >> >>Yth. Redaksi Bisinis Indonesia, >> >>Saya ingin menanggapi berita di Bisnis Indonesia tanggal 16/10/2002 >>tentang > "PLTGU Pemaron Beroperasi 2003 ". >> >>Penjelasan dari Sdr.Firdaus Akmal, Dirut PT. Indonesia Power, adalah > informasi sepihak yang tidak memperhatikan bahwa Rencana PLTGU > Pemaron/Lovina- Bali ini sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan > sosial di Pemaron/Lovina, Singaraja, Bali. >> >>Rencana Proyek PLTGU Pemaron ini adalah proyek pembangkit listrik >>dengan > pemindahan PLTGU yang telah berumur 30 tahun di Tanjung Priok dan > berbahan bakar minyak mentah ( Solar ? ). Rencana proyek ini memang > sudah salah sejak dari penentuan asumsi-asumsi " Feasibility > Study"-nya, dimana penentuan alternatip-alternatip lokasi yang diteliti > dan dipilih ternyata dengan mengikut sertakan daerah Kawasan Wisata > Internasional, yaitu Pemaron/Lovina, Bali. >> >>Generator-generator PLTGU butut ini sangat berbahaya apabila >>dipindahankan > ke daerah wisata dan pemukiman di Pemaron/Lovina- Bali karena : >> >>1. Generator-generator ini telah ketinggalan teknologinya, berumur 30 > tahun, dan akan merusak lingkungan pantai. Secara teknis dan finansial, > generator-generator ini sudah tidak layak dioperasikan, apalagi > dipindahkan ke daerah wisata internasional. Walaupun dengan alasan > bahwa biaya investasi pemindahan generator-generator ini adalah sangat > rendah, namun kenyataannya biaya operasionalnya akan sangat tinggi, > karena mengkonsumsi banyak minyak bumi dan merusak lingkungan. Apakah > dengan alasan menyediakan sumber listrik, kemudian PT.Indonesia Power, > PT.PLN dan Pemerintah tidak perduli dengan pengrusakan lingkungan ? >> >>2. Daerah Lovina/Pemaron adalah kawasan tujuan wisata internasional, >>dimana > telah beroperasi hotel-hotel kecil, bunaglows, restaurant/rumah makan, > travel, toko-toko kerajinan, dan lain-lain milik rakyat dan pemodal > kecil yang telah mereka tekuni sejak lebih dari 15 tahun lalu. Saat ini > tenaga kerja yang tertampung pada sektor parawisata ini di > Pemaron/Lovina adalah sekitar 3500 orang. Mereka terdiri dari karyawan > hotel dan pondok wisata, travel, restaurant/rumah makan, toko-toko > kerajinan, gaid snorkling, gaid diving, gaid lumba-lumba, tukang > perahu, dan lain-lainya. >> >>3. Daerah Pemaron/Lovina dan sekitarnya adalah pantai dengan laut >>kepulauan > yang sangat landai ( kemiringan antara 5 s/d 10 derajat ), banyak bunga > karang, dan tempat konservasi ikan dan lumba-lumba. Generator-generator > PLTGU ini berbahan bakar minyak mentah dengan kualitas dibawah Solar > dan disuplai melalui pipa minyak di bawah air laut dari tongkang/boat > dengan jarak 200 s/d 300 meter dari pantai. Apabila bahan bakar minyak > bumi untuk suplai generator ini bocor pada pipa saluran dibawah air > laut tanpa diketahui oleh operator, maka pengrusakan lingkungan pantai > pasti akan terjadi. Setiap alat teknis tidak pernah aman 100 % dalam > jangka panjang. Penyaluran minyak bumi ( solar ) melalui pipa dibawah > air laut ke generator di darat, jelas sangat berbahaya. >> >>4. Secara tegas dan eksplisit masyarakat Lovina/Pemaron telah menolak > Rencana Proyek PLTGU Pemaron pada awal bulan Oktober ini dengan > berdemonstrasi ke kantor Bupati Buleleng ( Singaraja ), Bali. Mereka > adalah dari PHRI, komponen-komponen desa adat dari beberapa desa di > kawasan Lovina/Pemaron, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, karyawan > hotel, restaurant, dan masyarakat pantai lovina. >> >>5. Rencana PLTGU Pemaron ini bertentangan dengan PERDA No.4 Tahun 1999 > Daerah Bali yang telah menetapkan bahwa kawasan Lovina/Pemaron adalah > daerah wisata dan bukan daerah industri. Hal ini dipertegas lagi oleh > studi AMDAL Daerah Bali bahwa kawasan Lovina/Pemaron tidak sesuai untuk > kawasan industri PLTGU. >> >>Dengan memperhatikan alasan-alasan tersebut diatas, apakah PT.Indonesia > Power/PT.PLN akan tetap ngotot untuk memindahakan Generator-generator > tua tersebut dari Tanjung Priok ke kawasan Lovina/Pemaron, Bali ? > Wah, ini akan menjadi Bom berikutnya bagi Bali, setelah Bom di > Legian/Kuta tanggal 12 Oktober 2002. Membangun seharusnya jangan sambil > merusak lingkungan sosial and alam. >> >>Saya yakin bahwa, kalau Bapak-bapak mau, masih ada >>alternatip-alternatip > lain, selain memindahkan Generator-generator PLTGU berumur 30 tahun > tersebut dan lokasinya tidak harus di Kawasan Parawisata yang telah > ditetapkan dengan PERDA No.4 tahun 1999. >> >>Kebutuhan Listrik untuk Bali tidak harus dipenuhi dengan pemindahan > Generator butut yang telah terpasang sejak tahun 1972 di Tanjung Priok. > Apabila Bapak-bapak di PT.Indonesia Power/PT.PLN tidak sanggup mencari > alternatip lain dan ingin memaksakan proyek ini dengan merusak > lingkungan sosial dan alam, maka saya usulkan Bapak-bapak mundur saja > dari PT.Indonesia Power/PT.PLN. Atau, perusahaan pemerintah > PT.Indonesia Power yang monopoli ini sebaiknya dipecah saja menjadi > beberapa Perusahaan Terbatas, agar jangan semena-mena terhadap rakyat > dan merusak lingkungan. Atau, akankah proyek ini disengaja merupakan > BOM berikutnya bagi Bali ? >> >>Semoga hal ini dapat menjadi renungan bagi Pimpinan, Staf dan karyawan > PT.Indonesia Power /PT.PLN yang masih mempunyai hati nurani untuk > membangun dan bukan merusak. >> >>Hormat saya, >> >>Ngurah Ny. >> >>Catatan : Apabila ingin melihat berita Polemik tentang Rencana PLTGU > Pemaron ini lebih lanjut silahkan kunjungi WebSites : >> >>hhtp://buleleng.lp3b.or.id atau http://bali.lp3b.or.id >> >> >> >> >> >> >> >> >> >>--------------------------------- >>Do you Yahoo!? >>Y! Web Hosting - Let the expert host your web site<P>Yth. Redaksi >>Bisinis > Indonesia,</P> >><P>Saya ingin menanggapi berita di Bisnis Indonesia tanggal 16/10/2002 > tentang "PLTGU Pemaron Beroperasi 2003 ".</P> >><P>Penjelasan dari Sdr.Firdaus Akmal, Dirut PT. Indonesia Power, adalah > informasi sepihak yang tidak memperhatikan bahwa Rencana PLTGU > Pemaron/Lovina- Bali ini <STRONG>sangat berbahaya bagi lingkungan hidup > dan sosial </STRONG>di Pemaron/Lovina, Singaraja, Bali.</P> >><P>Rencana Proyek PLTGU Pemaron ini adalah proyek pembangkit listrik >>dengan > pemindahan PLTGU yang telah berumur 30 tahun di Tanjung Priok dan > berbahan bakar minyak mentah ( Solar ? ). Rencana proyek ini memang > sudah salah sejak dari penentuan asumsi-asumsi " Feasibility > Study"-nya, dimana penentuan alternatip-alternatip lokasi yang > diteliti dan dipilih ternyata dengan mengikut sertakan daerah > Kawasan Wisata Internasional, yaitu > Pemaron/Lovina, Bali. </P> >><P>Generator-generator PLTGU butut ini sangat berbahaya apabila > dipindahankan ke daerah wisata dan pemukiman di > Pemaron/Lovina- Bali karena :</P> >><P>1. Generator-generator ini telah ketinggalan teknologinya, berumur >>30 > tahun, dan akan merusak lingkungan pantai. Secara teknis dan finansial, > generator-generator ini sudah tidak layak dioperasikan, apalagi > dipindahkan ke daerah wisata internasional. Walaupun dengan alasan > bahwa > biaya investasi pemindahan generator-generator ini adalah > sangat rendah, namun kenyataannya <STRONG>biaya operasionalnya akan > sangat tinggi</STRONG>, karena mengkonsumsi banyak minyak bumi dan > merusak lingkungan. Apakah dengan alasan menyediakan sumber listrik, > kemudian PT.Indonesia Power, PT.PLN dan Pemerintah tidak > perduli dengan pengrusakan lingkungan ? </P> >><P>2. Daerah Lovina/Pemaron adalah kawasan tujuan wisata internasional, > dimana telah beroperasi hotel-hotel kecil, bunaglows, restaurant/rumah > makan, travel, toko-toko kerajinan, dan lain-lain milik rakyat dan > pemodal kecil yang telah mereka tekuni sejak lebih dari 15 tahun > lalu. Saat ini tenaga kerja yang tertampung pada sektor parawisata > ini di Pemaron/Lovina adalah sekitar 3500 orang. Mereka terdiri dari > karyawan hotel dan pondok wisata, travel, restaurant/rumah makan, > toko-toko kerajinan, gaid snorkling, gaid diving, > gaid lumba-lumba, tukang perahu, dan lain-lainya.</P> >><P>3. Daerah Pemaron/Lovina dan sekitarnya adalah pantai dengan laut > kepulauan yang sangat landai ( kemiringan antara 5 s/d 10 > derajat ), banyak bunga karang, dan tempat konservasi ikan dan > lumba-lumba. Generator-generator PLTGU ini berbahan bakar minyak mentah > dengan kualitas dibawah Solar dan disuplai melalui pipa minyak di > bawah air laut dari tongkang/boat dengan jarak 200 s/d 300 > meter dari pantai. Apabila bahan bakar minyak bumi untuk > suplai generator ini bocor pada pipa saluran dibawah air laut tanpa > diketahui oleh operator, maka pengrusakan lingkungan pantai pasti akan > terjadi. Setiap alat teknis tidak pernah aman 100 % dalam jangka > panjang. Penyaluran minyak bumi ( solar ) melalui pipa dibawah air laut > ke generator di darat, jelas sangat berbahaya. </P> >><P>4. Secara tegas dan eksplisit masyarakat Lovina/Pemaron telah >>menolak > Rencana Proyek PLTGU Pemaron pada awal bulan Oktober ini dengan > berdemonstrasi ke kantor Bupati Buleleng ( Singaraja ), Bali. Mereka > adalah dari PHRI, komponen-komponen desa adat dari beberapa desa di > kawasan Lovina/Pemaron, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, karyawan > hotel, restaurant, dan masyarakat pantai lovina.</P> >><P>5. Rencana PLTGU Pemaron ini bertentangan dengan PERDA No.4 >>Tahun > 1999 Daerah Bali yang telah menetapkan bahwa kawasan > Lovina/Pemaron adalah daerah wisata dan bukan daerah industri. Hal ini > dipertegas lagi oleh studi AMDAL Daerah Bali bahwa kawasan > Lovina/Pemaron tidak sesuai untuk kawasan industri PLTGU.</P> >><P>Dengan memperhatikan alasan-alasan tersebut diatas, apakah >>PT.Indonesia > Power/PT.PLN akan tetap ngotot untuk memindahakan Generator-generator > tua tersebut dari Tanjung Priok ke kawasan Lovina/Pemaron, Bali > ? Wah, ini akan menjadi <STRONG>Bom berikutnya > bagi Bali</STRONG>, setelah Bom di Legian/Kuta tanggal 12 Oktober 2002. > <STRONG>Membangun seharusnya jangan sambil merusak lingkungan sosial > and alam.</STRONG></P> >><P>Saya yakin bahwa, kalau Bapak-bapak mau, masih ada >>alternatip-alternatip > lain, selain memindahkan Generator-generator PLTGU berumur 30 tahun > tersebut dan lokasinya tidak harus di Kawasan Parawisata yang telah > ditetapkan dengan PERDA No.4 tahun 1999.</P> >><P>Kebutuhan Listrik untuk Bali tidak harus dipenuhi dengan pemindahan > Generator butut yang telah terpasang sejak tahun 1972 di Tanjung Priok. > Apabila Bapak-bapak di PT.Indonesia Power/PT.PLN tidak sanggup mencari > alternatip lain dan ingin memaksakan proyek ini dengan merusak > lingkungan sosial dan alam, maka saya usulkan Bapak-bapak mundur saja > dari PT.Indonesia Power/PT.PLN. Atau, perusahaan pemerintah > PT.Indonesia Power yang monopoli ini sebaiknya dipecah saja menjadi > beberapa Perusahaan Terbatas, agar jangan semena-mena terhadap > rakyat dan merusak lingkungan. Atau, <STRONG>akankah proyek ini > disengaja merupakan BOM berikutnya bagi Bali ?</STRONG></P> >><P>Semoga hal ini dapat menjadi renungan bagi Pimpinan, Staf dan >>karyawan > PT.Indonesia Power /PT.PLN yang masih mempunyai hati nurani untuk > membangun dan bukan merusak.</P> >><P>Hormat saya,</P> >><P>Ngurah Ny.</P> >><P>Catatan : Apabila ingin melihat berita Polemik tentang Rencana > PLTGU Pemaron ini lebih lanjut silahkan kunjungi WebSites :</P> >><P>hhtp://buleleng.lp3b.or.id atau > <A > href="http://bali.lp3b.or.id/">http://bali.lp3b.or.id</A></P> >><P> </P> >><P> </P> >><P> </P><p><br><hr size=1>Do you Yahoo!?<br> >><a href="http://webhosting.yahoo.com/ ">Y! Web Hosting</a> - Let the >>expert > host your web site > > > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > > Publikasi : http://buleleng.lp3b.or.id > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://buleleng.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
