Ini ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan dari teman saya di LSDE-BPPT. Saya melihat ada nilai universal dalam hal introspeksi diri, karena itu saya forward kesini.
Salam Gde Wisnaya -----Original Message----- From: Nur R. Iskandar [mailto:nur_iskandar@;yahoo.com] Sent: Tuesday, November 12, 2002 11:57 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [lsde_lovers] Uji daya ingat kepada Pancasila LSDE_Lovers, Khusus kepada Pak Youvial, Pak Yopi, sudah ada komentar atau tanggapan dari rekan-rekan di TK-79 ITB? Dari LSDE_Lovers, saya ikut meramaikannya, ya?! "Bagaimana dengan kesan selama kita hidup di negara Republik Indonesia ?", demikian Pak Youvial bertanya. Tentu saja saya senang. Apalagi secara kebetulan: Negara Republik Indonesia bila disingkat menjadi NRI, singkatan nama saya. Akan menjadi lain bila disebutnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), atau bahkan Negara "Hutan" Republik Indonesia (NHRI), Negara "Aneh" Republik Indonesia (NARI), atau Negara Kesatuan Republik "Saksi/ Tersangka/Terdakwa/Terhukum" Indonesia (NKRS/T/T/TI), karena satu per satu pemimpin(?)-nya menjadi saksi, tersangka, terdakwa, dan terhukum. Berkaitan dengan Pancasila, karena banyak pemimpin (?) kita yang menjadi anggota NATO (No Action, Talk Only), maka Pancasila hanya dijadikan komoditas untuk menciptakan rupiah. Di sini ngomong Pancasila, di sana berbuat "Pancagila", dapat rupiah. Di sana ngomong Pancasila, di situ berbuat "Pancagila", dapat rupiah. Di situ ngomong Pancasila, di "sono" berbuat "Pancagila", dapat rupiah. Maka, rakyat pun, kebanyakan ikut berbuat "Pancagila", dapat rupiah. Resultantenya (bukan resul-Oom-nya) adalah: "Ing jaman edan, yen ora edan ora keduman. Nanging isih luwih becik, wong sing eling lan waspada" Maaf, saya menulis dalam bahasa Jawa. Bahasa kedua saya, setelah bahasa Indonesia adalah bahasa Jawa. Kira-kira artinya: "Di zaman yang (serba) gila, bila tidak (ikut) gila maka tidak (akan) mendapatkan apa-apa (= tidak kebagian). Namun, masih lebih baik (mulia) orang yang (selalu) ingat dan waspada". Kesan lain yang "mendalam" dan "meresap" di hati sanubari, selama saya bernafas di NRI (Negara Republik Indonesia) ini adalah selalu, selalu, dan selalu diajari plus dicontohi kepura-puraan, kemunafikan, keangkaramurkaan. Dan, cenderung (selalu) ditertawai atau dicibir atau dianggap bodoh bila bicara dan mempraktekan tentang kesederhanaan, kejujuran, kepintaran, dan hal-hal positif lainnya sebagaimana layaknya manusia harus bersikap dan berperilaku sebagai manusia. Contoh nyata yang harus kita renungkan dalam-dalam, selanjutnya dicoba untuk melakukan perubahan adalah berkaitan dengan bulan puasa. Dari tahun ke tahun, selalu dan selalu digembar-gemborkan bahwa bulan puasa itu adalah bulan penuh hikmah, bulan penuh pahala, bulan penuh kemuliaan, dan sederetan hal-hal positif lainnya. Di dalamnya pun kita mengenal ada malam lailatul qadar. Betapa indahnya agama saya Islam ini. Betapa selamatnya para pemeluknya bila betul-betul mampu mempraktekannya dalam wujud praktek kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sekedar "ritual" ibadahnya belaka. Saya mohon maaf, bila salah dalam menuliskan, atau bahkan salah dalam berpendapat. Apa yang saya amati selama ini (= selama hidup di NRI): Setiap bulan puasa terjadi efek berantai dalam pacuan nafsu. Saya khawatir, nafsu yang dapat kita kendalikan hanya dua: makan dan minum. 1. Menjelang awal Ramadhan, para ibu (kaum hawa) "terpaksa" menggerutu karena pada saat berbelanja harga-harga kebutuhan pokok melambung. Beberapa orang Jawa Timur, mungkin, "misuh" (= memaki); 2. Selama menjalani puasa para bapak (juga para ibu) mulai berhitung, pengeluaran selama bulan puasa menjadi naik. Acara buka puasa sering mengada-ada dengan aneka variasi makanan dan minuman; 3. Selama menjalani puasa pula, para bapak (juga para ibu) berhitung, berapa uang yang diperlukan untuk pulang kampung. Harga karcis bis, kereta, pesawat, kapal laut, mungkin juga ojek, ikut naik-naik ke puncak gunung; 4. Selama menjalani puasa, para karyawan berharap tentang THR (Tunjangan Hari Raya, bukan Tendangan Hari Raya). Lucunya, terjadi juga "demo" tentang THR yang tidak layak; 5. Maka selama berpuasa pula otak berputar untuk "bekerja lebih keras" (?) agar pundi-pundi cepat menggelembung. Ada efek negatifnya: selama bulan puasa pula kasus-kasus korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi, dan konco-konconya tidak mereda; 6. Puncaknya, saat mendekati lebaran, saling berdesak-desakan untuk memperebutkan tempat duduk saat mudik; 7. Dikhawatirkan, hasil akhir yang diperoleh tidak lebih hanya lapar dan dahaga. Dan ini sudah diperingatkan berkali-kali. Sayang sekali, beberapa yang memperingatkan juga ikut serta melakukannya. Bayangkan, bila slogan indah dipraktekan: 1. Mulai awal Ramadhan: semua harga turun, kecuali harga diri. Sehingga hanya dengan gaji saja, ternyata malah menjadi cukup untuk pulang kampung sekeluarga. Dan, tak perlu THR; 2. Saling berlomba-lomba untuk mengantre, sehingga tidak ada satu pun rebutan atau desak-desakan dalam memperoleh sesuatu; 3. Para pengusaha makin berlomba menyediakan bis-bis angkutan lebaran secara gratis; 4. Dan seterusnya; 5. Dsb (= dan saya bingung, kata Bimbo). Bila terus-menerus membayangkan, maka jadilah Negara Kesatuan Republik Bayangan Indonesia dengan praktek-praktek yang tidak Pancasila-is, melainkan Pancagila-is. Demikian (sangat) panjang dan (sangat) lebarnya tambahan saya. Sekian dan terima kasih. Serpong, Selasa, 12 November 2002. (pkl. 09.27 WIB) Nur R. Iskandar --- Mohamad Youvial <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bagaimana dengan kesan selama kita hidup di negara > Republik Indonesia ? > > Bangunlah Putra-putri Ibu Pertiwi > > Sinar matamu tajam namun ragu > Kokoh sayapmu semua tahu ----- Maaf, saya potong ----- __________________________________________________ Do you Yahoo!? U2 on LAUNCH - Exclusive greatest hits videos http://launch.yahoo.com/u2 Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ ---------------------------------------------------------------------------- Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 250.000 tunai ---------------------------------------------------------------------------- -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
