,Kebetulan saya orang yang sangat hobi ngurusin sampah di Bali. Pada dasarnya teknologi pengolahan sampah emang udah banyak atawa bejibun. Kalau ngomongin itu terus kagak bakalan pernah bisa menyelesaikan masalah karena inti masalahnya adalah : MASYARAKAT MASIH MEMCAMPUR SAMPAH ORGANIK DAN ANORGANIK.
Merubah ini bukan hal yang gampang. Kalau Clean up Bali masih bisa terus bikin program-program sosialisasi pemisahan sampah, itu lebih didorong panas hati , karena saya kesel sama bule-bule itu, yang bilang your peoples jorok2. Emang iya sih, tapi kan butuh waktu....cing!!!
Program sampah sebagus apapun, kalau masyarakat tidak ikut bertanggung jawab sama dengan: "Basi"
Jadi masyarakat harus mulai diajarkan membayar retribusi sampah sebanding dengan jumlah sampah/jenis sampahnya.
Masyarakat harus diajarkan 3R (reduce, Reuse, Recycle).
Makanya saya dari awal sangat tidak setuju (karena capai ngasi tahu akhirnya tak diemin) program Sarbagita. Bahwa program pengolahan sampah di Sembung, Kerambitan itu, akan sia-sia, kalau masyarakat belum diajarkan/diberi aturan/dikontrol, untuk" memisahkan sampah organik dan anorganik. Siapa yang mau kampungnya jadi tempat pemilahan sampah dari 4 kabupaten/kota yang semuanya masih kecampur??? Jadi tahapannya yang salah, harusnya masyarakat siap dulu......baru bikin fasilitas (yang katanya bukan TPA, sekali lagi bukan TPA, katanya......, how if I call it dump site???? patuh dogen!!!!he...he...).
Sampah sebaiknya dikelola desentralisasi, bukan sentralisasi (ngapain buang2 uang tranportasi???)
Masalah pemulung; kalau di Bali ada oknum pemulung yang suka gatal tangan, jadi mekanismenya harus dibuat, sehingga pemulung nggak harus masuk kawasan banjar/gang/jalan yang bersangkutan. Kawasan yang kelola (setelah terpisah) and then yang organik bisa diberikan kepada pemulung/recycle company. Yang organik dikomposkan setempat atau gabung dengan tempat pengomposan lainnya.
Issuenya jangan ke pemulung. Karena yang peduli dengan sampah anorganik, bukan cuman pemulung!!! Main kasih penghargaan aja........wong dia melakukan itu bukan karena peduli lingkungan...kok, tapi karena "Bhetara Dalem" alias "perut". Kalau nggak percaya coba anda lihat cara hidupnya, mau buang air, mau buang sampah .....semua seenaknya!!!
Kalau mau bantu mereka dengan alasan kemanusiaan itu wajar, tapi kalau tiba-tiba dijadikan pahlawan, itu bahaya.
Tidak ada pahlawan dalam "kepedulian", karena " Once You Buy Something its Your Rubbish".
salam: Widi
At 11:15 PM 11/11/02 -0800, you wrote:
Pak Gde Wisnaya
Data produksi sampah per hari yang bisa dapat sebagai berikut:
Yang ditangani DKP = +/- 1.418 m cu
PD Pasar = +/- 140
swasta = +/- 46
swakelola= +/- 300
-------------------------------
Total = +/- 1.904 m cu
Produksi sampah dari Kab. Badung
per hari +/- 250 m cu
Kata pejabat yang mengelola sampah -- Kodya Denpasar dan Badung -- angka itu baru 10 persen dari produksi sampah yang ada. Maksudnya baru terangkut ke TPA yang di Suwung itu.
Bagaimana yang di rumah- rumah dan di enam kabupaten lain di Bali? Juga kemungkinan pasokan dari luar Bali.
Nah, dibawah ini ada berita dari Bogor
SAMPAH MESTI DIUBAH JADI POTENSI EKONOMI
Bogor, 6/11 (ANTARA) - Cara pandang bahwa sampah yang selama ini hanya sebagai masalah, maka kini harus diubah karena sebenarnya memiliki potensi ekonomi positif dan menguntungkan, apalagi dikelola secara baik. Pernyataan itu disampaikan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. DR. Ir. Aman Wirakartakusumah, usai menghadiri acara
puncak Gerakan Anti Sampah, seperti dijelaskan staf Humas IPB, Waluyo di Bogor. Gerakan Anti Sampah ini dipelopori oleh KOPEL (Komunitas Peduli Lingkungan).
Mengubah sampah menjadi potensi ekonomi, kata Rektor IPB itu dicontohkannya dengan kian berkembangnya gerakan "organic farming" atau pertanian yang bebas dari penggunaan bahan kimia, di mana sampah organik sangat potensial sebagai bahan baku pupuk kompos bagi kebutuhan pertanian. "Ini bisa didorong secara 'scientific', yakni bagaimana sampah bisa diubah menjadi pupuk," katanya. Dia menyatakan, selain sampah organik, sampah anorganik lainnya, seperti plastik, kaca dan logam, juga bisa dipergunakan kembali melalui proses daur-ulang dan pakai-ulang.
Mengenai aktivitas pemulung yang selama ini sudah memanfaatkan sampah sebagai komoditas yang bernilai ekonomi, namun nyaris hanya dipandang sebelah mata, apalagi diberi penghargaan di bidang lingkungan, Aman Wirakartakusumah menyatakan, bahwa para pemulung bersangkutan hendaknya lebih dihargai, bahkan dijadikan mitra dalam pengelolaan sampah bernilai ekonomi.
Meskipun banyak orang memandang rendah pekerjaan para pemulung, katanya, namun mereka sudah membuktikan bahwa sampah merupakan komoditas bernilai ekonomi dan membuka lapangan kerja bagi ribuan orang.
Dwi
Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at http://www.eudoramail.com
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
