|
Om Swasti Astu,
Rasanya diskusi maupun informasi-informasi menarik
berikut kiranya perlu untuk disimak oleh bapak-bapak/ibu sebagai lanjutan
informasi sebelumnya yang saya masih ingin menginformasikan/masukan atas bahasan
butir/hukyum kedua dari Bpk. Bangsing yang sangat sulit untuk
dilakukan.Bagaimana jalan keluarnya untuk Bali masa depan barang kali
Bapak-bapak/Ibu yang tentunya bisa sumbang ide.
Sebagai contoh misal soal perikanan yaitu budidaya
anak bandeng(nener) nener dalam artian positip lho, yang dilakukan oleh
sebagian besar penduduk pesisir mulai dari pesisir desa Seririt sampai pesisir
desa Banyuedang/Goris Bali utara. Saking menariknya budidaya ini tanpa dikomando
oleh PPL, Lurah, Camat apalagi Bupati banyak orang usaha itu, setelah melihat
keberhasilan orang lain termasuk warga non Bali. Soal pemasaran hasil?, sangat
lancar tapi soal harga nanti dulu (nah ini berkaitan dengan hukum kedua
tadi) kendali ada ditangan warga non Bali (sebutlah muslim). Kendali dari non
Bali ini sangat kuat sehingga bisa mengendalikan harga semaunya. Sudah pernah
kendali itu coba untuk diimbangi oleh warga Bali kalau nggak salah pelaku
bisnisnya dari desa Banyuatis tapi tidak berdaya. Kemudian dicoba membuat suatu
perkumpulan/paguyuban budidaya ini (ide itu digagas oleh pelaku dari desa
Pupuan, Banyuatis, (perlu diketahui pelaku bisnis ini sudah dari berbagai
kalangan ada orang Aceh, Madura, Jawa, orang Taiwan dll) tapi tidak berdaya
juga.Saking laris dan manisnya bisnis itu sampai-sampai pemkab Buleleng
merencanakan mengenakan sejenis pajak? untuk satu ekor nener dipotong satu
rupiah. Nah soal ini, saya punya komentar bahwa pemkab kurang kurang bijak.
Pemkab belum pernah membantu prasarana jalan menuju lokasi, belum pernah
membantu soal pemasaran setidak-tidaknya menyetabilkan harga sudah melakukan
pemungutan.Jadi soal kendali itu kadang-kadang
sangat sulit pendatang selalu punya kelebihan?l.
Menyinggung soal Bali mau
menertibkan pendatang? sulit...sulit. Sebagai contoh saja di daerah Kab.
Buleleng saja dulu, belum di Negare, Karang Asem. Dari dulu di Kab. Buleleng
kebanjiran pendatang yang tidak pernah di data dan dikendalikan!. Sehingga
saking longgarnya sekarang sudah sulit ditata, lebih-lebih lagi saking
populasinya sangat banyak sebagai contoh daerah desa Celukan Bawang, Desa Gondol
dllnya lurahnyapun di pisah (Lurah BAli dan Lurah Muslim). Bali sebagai satu
kesatuan wilayah Indonesia tentu tidak boleh melarang pendatang itu datang.
Bahwasanya Bali mau mendata dan mengerem jumlah pendatang sangatlah bagus tapi
sangat sulit dilakukan jika lurahnya saja sudah dipisah karena disini sudah
pasti ada keberfihakan pada pendatang (sebutlah non Bali). Maka dari itu tidak
heran jika kita lihat banyak sekali pendatang berjualan bakso, pecel lele, mie
ayam dipinggir jalan
dimana mereka jualan, tidur disitu juga yang nota bene tempat itu adalah
tanah gege istilah Balinya (nah ini pintarnya pendatang dia selalu mencari tanah
gege). Nah makin hari pendatang itu makin banyak saja karena orang Bali sangat
toleran. Tapi tidak disadari kalau hal ini jika tidak ditata suatu saat
letupan-letupan komplik kecil akan terjadi karena oarnga Bali sendiri akan sulit
mencari nafkah. Contoh suasana diatas tadi sudah pernah terjadi letupan kecil
antara Bali dan non Bali tadi soal harga nener tadi. Pangdan Udayana sendiri Pak
Wiliem Da Costa sendiri melihat fenomena Bali dengan pendatangnya sudah
mengkhawatirkan jika dibiarkan. Nah solusinya bagaimana untuk Bali masa
depan mari kita carikan jalan keluarnya lewat LP3B setuju?.
Sekian dulu lain kali saya akan cerita lagi kondisi-kondisi nyata yang ada
di Bali yang perlu pencerahan-pencerahan agar Bali dimasa depan menjadi lebih
tertata, makmur dan penuh dengan kedamaian. Saking banyaknya pendatang Bali
sudah tidak tenget lagi.
Salam
Ketut Darma.
|
- [bali] Bali Masa Depan ketutd
- [bali] Re: Bali Masa Depan Gde Wisnaya Wisna
- [bali] Re: Bali Masa Depan Gde Wisnaya Wisna
- [bali] Re: Bali masa depan ketutd
- [bali] Re: Bali masa depan Made Wirata
