Kisah
orang Bali mirip kisah orang Jerman yang dikepung pendatang dari Turki, Iran,
Vietnam dll yang mau mengambil pekerjaan-pekerjaan kotor atau kasar.
Sekarang
sudah ada kekhawatiran, ini mungkin awal yang perlu, tapi setelah itu apa
tindak lanjutnya ? Hidup berdampingan yang sehat dan kompetitif ! di sektor
mana yang diminati oleh orang Bali ya please to be the best there, jangan ingin
mengambil semua sektor, kita kan ada dalam wilayah negara kesatuan. Bahwa
sekarang ada penertiban pendatang, ya bagus yang penting proporsional, jangan
sampai menimbulkan krisis kebangsaan.
Salam
Gde
-----Original
Message-----
From: ketutd
[mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, January 14, 2003
9:58 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Bali Masa Depan
Importance: High
Om
Swati Astu,
Selamat
tahun baru 2003 kepada bapak-bapak dan ibu-ibu anggota milis ini, semoga
kedepan Bali secara keseluruhan mendapat pencerahan-pencerahan dari bapak dan
ibu yang mempunyai akses ke semua perangkat pemerintahan kota maupun desa
dibali agar ide-ide yang sangat bermanfaat buat Bali dimasa depan yang tentunya
sangat berat untuk dilaksanakan!!. Seperti pendapatnya yth Bp.Bangsing kalau
tidak mulai dari sekarang kapan lagi.Dan kalau tidak dikendalikan/diambil oleh
kita warga Bali sudah sangat-sangat pasti diambil orang non Bali. Hal itu
kita bisa buktikan diseluruh kota dan desa di Bali!. Kalau boleh dibilang
sekarang sudah sangat telat dan susah untuk menatanya.
Sebagai
misal butir/hukum pertama:
Sangat
benar kata Bpk. Bangsing sektor yang disebut sudah dikuasai orang lain,
termasuk pemulung barang-barang bekas(bahkan KOMPAS pernah mengulas penghasilan
orang (orang non Bali) sektor ini dengan penjual sayur dipasar (orang Bali)
tingkat pencapaian penghasilan yang memadai jauh lebih cepat orang non Bali
tadi. Salah satu contoh masalahnya adalah ketidak tahuan orang Bali soal akses
pasarnya. Jangankan orang desa wong mulai dari Bupati, Camat samapi lurahnya
saja tidak tahu, atau mungkin tahu tapi tidak pernah memberikan
gambaran-gambaran usaha ini yah...orang Bali tidak ada yang berminat. Soal lain
mungkin masalah kultur? salah satu contoh menarik yaitu di daerah Bali utara
yaitu salah seorang warga desa Patas yang punya lahan tandus yang
sehari-harinya dia bercocok tanam cabai merah. Dengan bersusah payah dia
menanami lahannya yang tiga are tersebut dan menjual hasilnya dengan sepeda
bututnya dijajagan dari desanya sampai ke Seririt dengan penghasilan yang
pas-pasan begitu seterusnya. Suatu hari dia karena seringnya dia ke
Seririt tadi dia jumpai buah jeruk yang aduhai besar dan manisnya. Setelah dia
tanya ternyata dari desa Bondalem. Dengan semangat dan uang hasil penjualan
cabenya yang pas-pasan tersebut dia pergi ke desa Bondalem. Betapa
tercengangnya dia dimana sebelumnya yang namanya bupati, camat, lurahnya tidak
pernah memberikan pencerahan bidang itu. Lalu di beli bibitnya dan dia ganti
cabenya dengan jeruk. Panen pertama sudah menghasilkan jutaan rupiah,
penghasilan ini dipakai untuk mengganti semua tanaman cabenya dengan jeruk,
sampai pada panen kelima? hasil panennya sangat bagus(rupa-rupanya tanah
tandusnya cocok untuk tanaman jeruk) dan mulailah dia membeli truk
angkutan yang dia beri nama jeruk manis, sari manis ...entah ada berapa truk
yang dia beli. Nah...kemajuan orang desa ini mulai tersebar ke seluruh
kecamatan dan desa Bali utara bagian barat. Dan tanpa dikomando semua wagra
desa disitu menanam jeruk. Yah ini salah satu contoh saja dimana warga desa di
Bali kadang-kadang perlu contoh samapi-sampai PPL itu kadang-kadang karena
penyampaiannya tidak benar tidak digugu oleh petani karena itu tadi tidak
memberi contoh nyata. Sama halnya cerita keberhasilan orang desa tadi
dengan keadaan di Lovina yaitu sektor pariwisata.
Cukup
sekian dulu karena terlalu panjang, lain waktu saya akan lanjutkan hal-hal
nyata yang terjadi di butir/hukum pertama dari bahasannya pak Bangsing.
Om
Shanti Shanti Shanti Om
Kt.
Darma.