|
Om Swati Astu,
Selamat tahun baru 2003 kepada bapak-bapak dan
ibu-ibu anggota milis ini, semoga kedepan Bali secara keseluruhan mendapat
pencerahan-pencerahan dari bapak dan ibu yang mempunyai akses ke semua perangkat
pemerintahan kota maupun desa dibali agar ide-ide yang sangat bermanfaat buat
Bali dimasa depan yang tentunya sangat berat untuk dilaksanakan!!. Seperti
pendapatnya yth Bp.Bangsing kalau tidak mulai dari sekarang kapan lagi.Dan kalau
tidak dikendalikan/diambil oleh kita warga Bali sudah sangat-sangat pasti
diambil orang non Bali. Hal itu kita bisa buktikan diseluruh kota dan desa
di Bali!. Kalau boleh dibilang sekarang sudah sangat telat dan susah untuk
menatanya.
Sebagai misal butir/hukum pertama:
Sangat benar kata Bpk. Bangsing sektor yang disebut
sudah dikuasai orang lain, termasuk pemulung barang-barang bekas(bahkan KOMPAS
pernah mengulas penghasilan orang (orang non Bali) sektor ini dengan penjual
sayur dipasar (orang Bali) tingkat pencapaian penghasilan yang memadai jauh
lebih cepat orang non Bali tadi. Salah satu contoh masalahnya adalah ketidak
tahuan orang Bali soal akses pasarnya. Jangankan orang desa wong mulai dari
Bupati, Camat samapi lurahnya saja tidak tahu, atau mungkin tahu tapi tidak
pernah memberikan gambaran-gambaran usaha ini yah...orang Bali tidak ada yang
berminat. Soal lain mungkin masalah kultur? salah satu contoh menarik yaitu di
daerah Bali utara yaitu salah seorang warga desa Patas yang punya lahan tandus
yang sehari-harinya dia bercocok tanam cabai merah. Dengan bersusah payah dia
menanami lahannya yang tiga are tersebut dan menjual hasilnya dengan sepeda
bututnya dijajagan dari desanya sampai ke Seririt dengan penghasilan yang
pas-pasan begitu seterusnya. Suatu hari dia karena seringnya dia ke Seririt
tadi dia jumpai buah jeruk yang aduhai besar dan manisnya. Setelah dia tanya
ternyata dari desa Bondalem. Dengan semangat dan uang hasil penjualan cabenya
yang pas-pasan tersebut dia pergi ke desa Bondalem. Betapa tercengangnya dia
dimana sebelumnya yang namanya bupati, camat, lurahnya tidak pernah memberikan
pencerahan bidang itu. Lalu di beli bibitnya dan dia ganti cabenya dengan jeruk.
Panen pertama sudah menghasilkan jutaan rupiah, penghasilan ini dipakai untuk
mengganti semua tanaman cabenya dengan jeruk, sampai pada panen kelima? hasil
panennya sangat bagus(rupa-rupanya tanah tandusnya cocok untuk tanaman jeruk)
dan mulailah dia membeli truk angkutan yang dia beri nama jeruk manis,
sari manis ...entah ada berapa truk yang dia beli. Nah...kemajuan orang desa ini
mulai tersebar ke seluruh kecamatan dan desa Bali utara bagian barat. Dan tanpa
dikomando semua wagra desa disitu menanam jeruk. Yah ini salah satu contoh saja
dimana warga desa di Bali kadang-kadang perlu contoh samapi-sampai PPL itu
kadang-kadang karena penyampaiannya tidak benar tidak digugu oleh petani karena
itu tadi tidak memberi contoh nyata. Sama halnya cerita keberhasilan orang
desa tadi dengan keadaan di Lovina yaitu sektor pariwisata.
Cukup sekian dulu karena terlalu panjang, lain
waktu saya akan lanjutkan hal-hal nyata yang terjadi di butir/hukum pertama
dari bahasannya pak Bangsing.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Kt. Darma.
|
- [bali] Re: Bali Masa Depan ketutd
- [bali] Re: Bali Masa Depan Gde Wisnaya Wisna
- [bali] Re: Bali Masa Depan Gde Wisnaya Wisna
- [bali] Bali masa depan ketutd
- [bali] Re: Bali masa depan Made Wirata
