Yth. Pak Ketut Teja,

Sekarang PT. DI telah menjadi banyak SBU, dan masing-mmasing SBU telah mengerjakan bidangnya yang sebagian besar di luar pesawat terbang. Ini suatu kemajuan, walaupun baru tahap awal.

Pada pertemuan ALUMNI ITB-Bali tahun 2001 saya pernah mengusulkan kepada salah satu staf menteri bahwa PT. DI ( IPTN ), PT. PAL, dan beberapa BUMN dibawah naungan BPIS untuk di "break down" menjadi banyak perusahaan-perusahaan medium agar BUMN tersebut menjadi lebih efisien and kompetitf. Nah, sekarang PT DI telah menpunyai beberapa SBU. Ini berati telah ada kemajuan dalam "Corporate Strategy", malaupun belum optimal. Disini, seperti yang pernah saya katakan kepada Pak Made Wirata, kalau boleh, PT DI dipecah saya menjadi puluhan PT yang terpisah-pisah independen satu terhadap lainnya. Lebih lanjut, kalau bisa, PT DI yang telah terpecah-pecah tersebut, diprivatisasi saja sahamnya. Berapa Prosen di privatisasi ? Silahkan diestimasi.

Saya juga mengusulkan pada pertemuan tersebut, bahwa BAPENAS sebaiknya di-BUBAR-kan saja. Kenapa ? Ceritanya panjang, saya perlu menjelaskan panjang-lebar, jika banyak peminat.
Sekarang, Saya ingin mengusulkan bahwa SOEs dan bank-bank BUMN ini di privatisasi saja. Selanjutnya, seperti yang pernah saya kemukakan di Milis ini tentang SOEs dan Bank BUMN, selama sebagian besar ekonomi Indonesia dibawah pengelolaan SOEs yang sakit, maka krisis ekonomi ini akan berlanjut. Nah, sekarang nyatanya kita menghadapi problema " Kenaikan BBM, Tarif Listrik dan Telepon ". PT. PI, bagaimana ? Sama juga, sebaiknya dipecah menjadi 3 atau lebih PT Power.
Karyawan pertamina-nya venezuale ( Peh-deh-zeh-sah) sekitar 30.000 orang mogok kerja sejak dua minggu lalu, dan produksi "Crude Oil" Venezuala turun sekitar 2,5 juta barel per hari. Harga minyak mentah dunia naik tajam. Pres Hugo Chaves memerintahkan PDZSA untuk di pecah dua saja, menjadi PDZSA timur dan barat. Itu adalah contoh dari inefisiensi monopoli SOEs. Pertamina ?
Sekian dulu, agar tidak terlalu serius.

Salam,
sudarma


On Fri, 17 Jan 2003 11:18:37 +0700
"ketut.tejawibawa" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Sudarma yth,

Usul yang selalu susah di laksanakan :

1. Setiap kepala divisi di PTD harus mampu menjual minimum 1 ( satu )
pesawat terbang per tahun, sekali lagi cukup satu saja.
Kalau bisa tetap menjadi kepala divisi dan itu target yang tidak muluk,
kemudian hitung berapa kepala divisi atau setingkatnya di PTD, saya
yakin lebih dari 15 orang...., baru namanya kepala divisi di PTD
Sederhanakan teori yang ada, karena saya tahu karyawan PTD mampu membuat
pesawat tersebut lebih dari jumlah itu pe tahun....

2. Konsentrasilah PTD di pembuatan, penjualan dan pemeliharaan pesawat
terbang, suku cadang dsbgnya , agar airliner / customer PTD bias
mengoperasikan pesawat yang dia beli ibarat angkot, dan jangan sampai CN
235 atau 212 yang grounded

Terimakasih

Ketut Teja

===================================================================================
Meriahkan Hari Valentine Anda dan Ikuti Lomba Design Kartu Eletronik dengan Tema Valentine ===================================================================================

-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke