----- Original Message -----
Sent: Tuesday, January 21, 2003 8:25
PM
Subject: [bali] kawasan wisata
Yth. Bapak Pitana,
Mungkin Bapak telah
membaca berita tarik ulur tentang rencana pembanunan PLTGU di Pemaron, yang
oleh masyarakat di Lovina sangat tidak setuju kalau lokasinya di kawasan
wisata. Akan tetapi nampaknya Bupati Buleleng akan memaksakan proyek ini (
seperti yang diberitakan oleh mass media ). Alasan Bupati adalah antara lain
bahwa Kawasan Wisata Lovina adalah "kawasan
campuran" sehingga tidak harus hanya dibangun fasilitas
pariwisata. Saya teringat dengan hasil kerja konsultan ( dua asing dan satu
Indonesia ) yang mereview rencana pariwisata Bali yang disusun Sceto dan Bapak
ikut dalam Team dari unsur perguruan tinggi. Dalam definisi hasil kerja
tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kawasan wisata adalah suatu
wilayah tertentu yang diperuntukkan untuk penyediaan fasilitas kepariwisataan.
Pengertian campuran atau mungkin lebih tepat disebut "kawasann terbuka" adalah
masih dimungkinkan dibangun yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan
kepariwisataan seperti misalnya sekolah, rumah sakit, bahkan perumahan
penduduk.
Jadi kalau pengertian campuran ini
diartikan boleh dibangun industri, seperti halnya PLTGU ini, lalu untuk
apa membuat kawasan wisata. Membuat Perda tentang kawasan ini kan besar
biayanya, belum lagi surveynya. Kan lebih baik tidak ada kawasan, jadi apapun
boleh, semua bisa dicampur, madu bisa dicampur dengan racun. Tembakau dibuat
rokok enak, soto juga enak, kan enak kalau soto dicampur tembakau. Hallo Pak
Pit, mungkin saya yang "goblok' atau "idiot" sehingga tidak bisa
memahami istilah campuran ini. Kalau merasakan "nasi campur" sih sudah pernah,
tapi kalau kawasan campuran masih bingung.
Pembangunan
PLTGU itu, barangkali belum tentu jelek dilhat dari sudut pariwisata (
jangan lupa Pak Pit itu bidang Bapak sekarang karena Bapak adalah BOS-nya
pariwisata Bali ). Mungkin hanya perlu mengalihkan pangsa pasarnya.Selama ini
kita promosikan budaya dan alam yang masih belum rusak dan pasar kita adalah
negara-negara yang sesak nafas karena industri.
Nah kalau PLTGU itu sudah selesai
dibangun, barangkali kita bisa menarik wisatawan dari desa-desa digunung yang
belum pernah lihat pabrik, cerobong asap dan solar yang mengambang dipermukaan
laut. Misalnya kita bisa berpromosi didesa Sidetapa, Lemukih, Galungan,
Trunyan, barangkali mereka belum pernah melihat cerobong asap yang begitu
tinggi. Mungkin juga tertarik mencoba menghirup udara yang tercemar. Kalau
saya sih selalu mencoba melihat dari segi positipnya. Saya sendiri sudah
ancang-ancang kalau wisatawan tidak datang lagi, mungkin saya rubah hotel saya
jadi peternakan babi, mumpung masih berada di "kawasan campuran".
I think it is time for you to speak
up. You have nothing to lose, don't you.
Terima kasih Pak Pit dan
rekan-rekan di Milis cheer up!!!!!! Ingat nasihat nenek saya yang buta huruf
bahwa " 'TIME IS THE BEST JUDGE" .
Suksma pisan.
Titiang
Nyoman Suwela