|
Yth. Bapak Pitana,
Mungkin Bapak telah
membaca berita tarik ulur tentang rencana pembanunan PLTGU di Pemaron, yang oleh
masyarakat di Lovina sangat tidak setuju kalau lokasinya di kawasan wisata. Akan
tetapi nampaknya Bupati Buleleng akan memaksakan proyek ini ( seperti yang
diberitakan oleh mass media ). Alasan Bupati adalah antara lain bahwa Kawasan
Wisata Lovina adalah "kawasan campuran"
sehingga tidak harus hanya dibangun fasilitas pariwisata. Saya teringat dengan
hasil kerja konsultan ( dua asing dan satu Indonesia ) yang mereview rencana
pariwisata Bali yang disusun Sceto dan Bapak ikut dalam Team dari unsur
perguruan tinggi. Dalam definisi hasil kerja tersebut dijelaskan bahwa yang
dimaksud dengan kawasan wisata adalah suatu wilayah tertentu yang diperuntukkan
untuk penyediaan fasilitas kepariwisataan. Pengertian campuran atau mungkin
lebih tepat disebut "kawasann terbuka" adalah masih dimungkinkan dibangun yang
lain sepanjang tidak bertentangan dengan kepariwisataan seperti misalnya
sekolah, rumah sakit, bahkan perumahan penduduk.
Jadi kalau pengertian campuran ini
diartikan boleh dibangun industri, seperti halnya PLTGU ini, lalu untuk
apa membuat kawasan wisata. Membuat Perda tentang kawasan ini kan besar
biayanya, belum lagi surveynya. Kan lebih baik tidak ada kawasan, jadi apapun
boleh, semua bisa dicampur, madu bisa dicampur dengan racun. Tembakau dibuat
rokok enak, soto juga enak, kan enak kalau soto dicampur tembakau. Hallo Pak
Pit, mungkin saya yang "goblok' atau "idiot" sehingga tidak bisa memahami
istilah campuran ini. Kalau merasakan "nasi campur" sih sudah pernah, tapi kalau
kawasan campuran masih bingung.
Pembangunan PLTGU
itu, barangkali belum tentu jelek dilhat dari sudut pariwisata ( jangan
lupa Pak Pit itu bidang Bapak sekarang karena Bapak adalah BOS-nya pariwisata
Bali ). Mungkin hanya perlu mengalihkan pangsa pasarnya.Selama ini kita
promosikan budaya dan alam yang masih belum rusak dan pasar kita adalah
negara-negara yang sesak nafas karena industri.
Nah kalau PLTGU itu sudah selesai
dibangun, barangkali kita bisa menarik wisatawan dari desa-desa digunung yang
belum pernah lihat pabrik, cerobong asap dan solar yang mengambang dipermukaan
laut. Misalnya kita bisa berpromosi didesa Sidetapa, Lemukih, Galungan, Trunyan,
barangkali mereka belum pernah melihat cerobong asap yang begitu tinggi. Mungkin
juga tertarik mencoba menghirup udara yang tercemar. Kalau saya sih selalu
mencoba melihat dari segi positipnya. Saya sendiri sudah ancang-ancang kalau
wisatawan tidak datang lagi, mungkin saya rubah hotel saya jadi peternakan babi,
mumpung masih berada di "kawasan campuran".
I think it is time for you to speak
up. You have nothing to lose, don't you.
Terima kasih Pak Pit dan rekan-rekan
di Milis cheer up!!!!!! Ingat nasihat nenek saya yang buta huruf bahwa "
'TIME IS THE BEST JUDGE" .
Suksma pisan.
Titiang
Nyoman
Suwela
|