Dear friends, Benar banget tulisan teman kita ketut ini, tapi......susah lho menghalangi mereka masuk ke Bali sebagai pengusaha (hanya sebagai turis), dan ini bukan buat orang Jakarta aja, orang asingpun banyak yang punya lahan dan berbisnis di Bali. Apa mau dikata...yang paling penting kita sekarang tidak boleh putus asa, dorong saudara-saudara kita untuk menjadi manusia taft,disiplin, kreatif dan juga peka terhadap kondisi saudara-saudara seperti eks pengungsi TimTim di Sumber Klampok. Mereka memang sulit dan sering udah susah masih dimanfaatin orang, janji mau dikasih lahan, ternyata kagak... Janji mau ditanggapi ternyata tidak... Mungkin yang terbaik adalah kita mulai lebih serius, saat ini sudah ada teman-teman yang bantu-bantu temporal(pengusaha, teman-teman aktivis, FPD,dll) maupun bea siswa (Waka), tapi kayaknya kita harus bikin program yang lebih serius...disamping itu beberapa program yang memakai dana pinjaman Bank Dunia (PPK) seharusnya juga menjangkau masyarakat eks TimTim, ini sangat tergantung dari proposal yang diajukan desa Sumber Klampok (Pak Kampium)dan perjuangan Camat gerokgak, agar juga memuat perbaikan komunitas ini . Paling tidak mereka harus dicarikan jalan keluar dengan ketrampilan, perekrutan dan pemasaran produknya. Kalau memang keberadaan mereka dikhawatirkan akan semakin jauh merambah hutan. tapi saya malah berpikir supaya ada simbiosa, dimana mereka diberi borderline dengan bentuk tanaman yang bisa dimanfaatkan sepanjang tahun (misalnya ketebalan 100 meter) untuk kemiri, atau tanaman lain, sehingga mereka tahu dimana batas hutan, bagaimana memanfaatkan hutan tanpa merusak, dan sekalian menjaganya. Tetap harus ada MoU-nya, supaya kita kagak disalahin Dinas Kehutanan. habis nunggu tanah pemberian pejabat, khan kagak turun-turun, yah...ini salah satu alternatif. Kita coba cari dana untuk hal ini lebih serius...Ok, mungkin habis Clean up ini, kita bisa mikirin hal ini juga. Walaupun, usulan next program itu macam-macam juga (dan penting2 juga), saya kadang pusing juga...ternyata banyak hal yang harus dipikirin dan diperbaiki. kalau berharap demo2, udah deh...kagak bakalan efektif, kita berusaha dengan jalan lain aja. Pasti ada jalan untuk melakukan hal yang baik. Saya pikir artikel untuk mengupas masalah hutan di Bali sedang disiapin seorang teman untuk Kompas, kita akan masukkan juga permasalahan eks pengungsi TimTim ini. Kita emang kagak digaji untuk menjadi wakil rakyat, tapi mungkin kalau kita digaji juga bisa lupa sama rakyat...mending jadi orang bebas...bukan dari golongan manapun tapi untuk golongan manapun. He...he...sok idealis aja...Yah...sebenarnya sih bukan idealis, cuman masih punya perasaanlah. Gimana pak Wis??? Kita beresin Clean up awal ini dulu(karena ini juga nggak mudah lho...ngubah mental orang take time..), habis itu kita rapat lagi deh mikirin masalah Buleleng yang lain, tanpa nuntut siapapun, atau menyalahkan siapapun, ya...kita jalan aja..kali-kali ada yang bantuin, buntutin dan insyaf!!! Be Wise friends!!! Lagian nggak semua yang tinggal di Renon Snob gitu kok....percayalah mimpi kita masih bisa jadi kenyataan, taruh aja "daun diatas bantal.." Bener nih...ntar malam ya...? he..he..becanda kok! Doain aja kita ini masih bisa kreatif dengan ide-ide cerdas...!
madewidi --- ketutd <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Yth Ibu Made, > Artikel ini menarik sekali, agar kita-kita ini sadar > bahwa itulah > wakil-wakil kita yang nyatanya tidak sadar > lingkungan sosial sekitarnya yang > banyak dihimpit serba kekurangan, mereka tidak care > terhadap penderitaan > saudara-saudara kita yang dulunya sebagai petani > teladan dikirim keTIM TIM > untuk membantu masayakat desa sana bagaimana bertani > yang baik, dan mungkin > disana hidup mereka sudah boleh dikata berkecukupan. > Tapi begitu ada konflik > mereka harus kembali ketanah air dengan bekal yang > minim sekarang harus > hidup sengsara di Bali utara bagian barat. Renon > resort com[plex sangat jauh > dari desa tadi, jadi bapak bapak tadi tidak pernah > tahu ada saudaranya yang > sekarat butuh uluran jalan keluar untuk menyambung > hidup.Ini baru salah satu > contoh saja, banyak contoh-contoh lain atau > masyarakat desa lain yang > seperti tadi. > Sekarang persoalannya adalah bagaimana caranya > supaya artikel-artikel bagus > ini sampai kepada mereka-mereka, karena bila > artikel-artikel ini buat > kita-kita saja sudah barang tentu dicuekin!!!! alias > tidak pernah nyampai. > Dan yang jelas sebagian besar masyarakat Bali tidak > pernah tahu keadaan > wakil-wakilnya itu. Menurut hemat saya buatlah demo > crazy dengan > sepanduk-sepanduk besar-besar agar dibudayakan > berperilaku hidup tidak > bermewah-mewah dan lain sebagainya, hayo.....Bu > siapa sponsornya?. Memang > Bu ... Bali ini makin lama makin hancur saja!!. > Bayangkan di Bali yang namanya calo tanah.......wah > sudah merajalela Bu. > Makanya tidak heran calo-calo tanah itu kaya > mendadak/ milyarder-milyarder > baru. Hidupnya sangat mewah, mobil mewah nongkrong > banyak, ikut Harley > Davidson Club dllnya. Ibu ingat peristiwa kerusuhan > Mei di Jakarta?. Banyak > sekali orang-orang kaya Jakarta mencari tempat aman > yaitu Bali...sorganya > bagi para pendatang!!,...bukan turis.Mereka beli > tanah dimana-mana, mereka > beli kebun dimana-mana dengan bebasnya. Mereka > datang beli rumah dan tanah > untuk berteduh dan berlindung, dan beli kebun untuk > berbisnis. Boleh ibu > survey ke daerah Singaraja bagian barat atau kota > negara. Di daerah itu ada > sentra-sentra budi daya burung wallet yang terkenal, > dan siapa > pemiliknya?....ya pendatang itu tadi. Nah disini > perangkat desa, camatnya > juga cuek bebek dengan kondisi daerahnya sendiri. > Tidak pernah ada ajakan > atau penyuluhan, pencerahan agar masyarakat tidak > menjual tanahnya untuk > usaha budidaya Wallet tadi. Fakta membuktikan bahwa > masyarakat yang menjual > tanahnya hidupnya akan menderita, karena uang hasil > penjualan tanahnya habis > untuk hal-hal yang kurang baik. Jadi sekali lagi > pencerahan-pencerahan itu > sangat penting, bagaimana caranya tentu LP3B punya > solusi terbaiknya bagi > masayarakat Bali khususnya. Sehingga tidak terbalik > orang Bali yang sudah > tidak punya tanah tadi harus transmigrasi, disisi > lain orang lain datang > keBali menggali potensi yang ada. > Salam Bu > Ketut D > ----- Original Message ----- > From: "nimade widiasari" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, February 17, 2003 11:11 PM > Subject: [bali] Re: demo crazy > > > > Dear friends, > > so nice article...I love it. > > ha..ha......ha...gue suka banget....! Tapi > kayaknya > > yang kita ceritain cuek2 aja tuh..! Mereka bangga > > pakai baju safari, mobil keren, karena menjual > > dongeng...tentang negeri diatas angin... > > widi > > > > --- hartawati dwi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Demo Crazy > > > One day, a friend of mine, a freelance guide > was > > > guiding a group of tourists from many countries. > > > Their > > > first destination was the DPRD Bali complex, > located > > > in Renon area next to Bali's Governor Office > > > complex. > > > It is a huge complex with its elaborately carved > > > buildings, it may more attractive than the > > > Parliament > > > House in Canberra, Australia. > > > Before entering the split gates of the > complex, > > > the > > > bus carrying the group of tourists was > travelling > > > the > > > Renon area enjoying unfinished monument erected > > > right > > > in the middle of the square. Along the fringe of > the > > > square, there were so many people were very > busy > > > making money by selling whatever they could > afford > > > such as selling peanuts, bakso, sweets, bottled > > > drinks > > > etc. The heat from the sun was scorching. They > did > > > not > > > care. They were struggling for survival. In the > eyes > > > of tourist, there were very poor or even > destitute. > > > This view attracted the group. One of them then > was > > > asking: "who are they". The guide, firstly, > somewhat > > > upset hearing such a question. But he was a real > > > smart > > > guide. He said :" well, ladies and gentlemen, > those > > > people are who own this country. This is a > > > democratic > > > country. The sovereignty of this country is in > their > > > hands. I would say, he said further, as a > democratic > > > country the sovereignty is in the hand of the > > > people". > > > Then, the group was entering the DPRD > complex. > > > There they came across well dressed people, > driving > > > luxury cars such BMW, Toyota Celica, etc. The > > > parking > > > lot of the complex virtually filled with so many > > > cars. > > > The tourists viewing all of these were appalled > and > > > asked their guide : "who are they?". > > > The guide said :"well, as a matter of fact, they > are > > > the representative of the people you just > > > encountered > > > outside. In short, they are representing them. > They > > > are struggling for the welfare of the people > they > > > are > > > representing". > > > "what they are doing now here?", the tourist > asked > > > further. > > > "They may be discussing a mega project, widely > known > > > as PLTGU Pemaron, planned to be built in a > tourist > > > resort of Lovina, which has been strongly > opposed by > > > the local people". > > > The story will not stop there. The saga of > PLTGU > > > drags on. > > > Have fun friends. > > > Dwi. > > > > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > > Do you Yahoo!? > > > Yahoo! Shopping - Send Flowers for Valentine's > Day > > > http://shopping.yahoo.com > > > > > > -- > > > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > > > > > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > > > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > > > Moderators : <mailto: > [EMAIL PROTECTED]> > === message truncated === __________________________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Shopping - Send Flowers for Valentine's Day http://shopping.yahoo.com -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
