Hallo kawan kawan mailis LP3B

 

Pak Umar ini lebih seneng jadi orang perlente, ngeceknya juga dengan orang kepercayaan, karena ORANG GEDEAN dan…..

Bukan pelayan masyarakat walau di bayar oleh pajak rakyat, dan dia akan menyampaikannya kepada rekan rekan beliau.

 

Batu yang diletakkan atau bata yang diletakkan.

Tapi meletakkan batu koq  biayanya gede sih….!

Kerjaan masih panjang

Sawat didepan kita

Saget teked saget tawang margine

Saget kebabas…..

 

Ketut Tejawibawa, Dipl.-Ing.

SWISS GERMAN UNIVERSITY

Campus German Centre - BSD

[EMAIL PROTECTED]

www.sgu.ac.id

Tel.+62 21 5376221

Fax. +62 21 5376201

-----Original Message-----
From: Gde Wisnaya Wisna [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent
: 23 March, 2003 5:34 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Selamat berjuang terus

 

Pak Ketut,

Ternyata anda yang memastu batu itu, bukan Ketut Teja he..he.  Hampir saja memang ribuan orang berentem gara-gara sebuah batu. Kita akan berjuang terus dengan cara-cara damai, yang penting pesan, bahwa PLTGU Pemaron masih tetap ditolak, sampai kepada para pengambil keputusan.

 

Email Pak Umar sudah kena "exim bounce". Jadi barangkali email-email yang ditujukan kepada P. Umar tidak akan sampai, maka kita stop dulu "kemarahan" kita kepada Pak Umar Said. Jika dipikir-pikir, memang Pak Umar hanya menerima informasi saja tentang keadaan Lovina, bukan pendapatnya. Malahan kita berterima-kasih kepada Pak Umar yang telah menyampaikan kepada kita, bahwa ada orang yang memberi informasi keliru tentang Lovina. Sekarang tentu, Pak Umar sudah tahu situasi sebenarnya, sehingga kita berharap Pak Umar akan menyampaikan isi email teman-teman kepada mereka yang akan memutuskan PLTGU Pemaron. Kita justru minta bantuan Pak Umar dalam hal ini.  Be cool Friends.

 

Merdeka !!!

 

Gde Wisnaya

 

-----Original Message-----
From: ketutd [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, March 26, 2003 10:05 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Selamat berjuang terus
Importance: High

 

Yth. Pak Gede dan teman seperjuangan.

Selamat berjuang!!!!!! dan salam Merdekaaaaa!!!, merdeka dari limbah dan gas polutan buat warga Pemaron, Lovina dan warga Buleleng.

Biarlah peletakan batu pertama itu terjadi, nggak usahlah kita mau dibenturkan secara fisik antara sesama warga yang toch itu saudara-saudara kita juga yang barangkali belum paham betul arti apa itu ramah lingkungan. Moga-mogalah onggokan batu pertama yang diletakkan dengan biaya yang tidak murah (itu baru batu pertamanya saaja lho) itu menjadi hanya seonggok batu saja. Pokoknya kita pastu batu itu agar hanya menjadi batu kecil itu saja selamanya disitu!  ha...ha...ha. Ambillah  banyak pelajaran dari kasus Bali Nirwana, apa kekurangan-kekurangannya dari perjuangan saudara-saudara kita disitu. Kita coba terapkan pada kasus di Pemaron. Biarlah pak Umar yang sudah mantan dan pikun itu berkomentar seperti itu, karena dia memperoleh informasi juga dari orang yang tidak pernah keluar rumah alias sudah pikun juga barangkali. Pak Umar dan informannya itu jelas pikirannya masih dijaman tahun 1960-an. Walaupun informannya itu sudah bolak balik lewat Lovina tapi karena linglung tadi yah...itu tadi dia hanya bisa bilang hotelnya hanya ada satu yaitu Lovina.

Udahlah Pak Gede jangan hiraukan orang-orang linglung itu, mari kita berjuang terus, angkat isue-isue ini sampai ke tingkat yang lebih tinggi seperti saran teman-teman anggota milis ini.

Selamat berjuang!

Salam

KD



Kirim email ke