Pak Wijaya, Bagus diskusinya dan memberi wacana kepada kita semua. Saya kira yang sangat dikhawatirkan dari PLTGU yang akan diinstal di Pemaron adalah ancaman pencemaran lewat ceceran minyak solar atau HSD ke laut di Lovina. Nah hal ini yang masih tidak mau dipertanggung-jawabkan oleh pihak Indonesia Power. Kalau sebatas di area pembangkitnya, memang mereka berjanji akan membuat semua tingkat polusi dibawah batas ambang, seperti misalnya kebisingan, asap, gas-gas CO2, NOx dan SO2. Saya kira dengan beberapa teknologi yang berkembang hal ini bisa diatasi. Tapi sekali lagi bagaimana mengatasi masalah ceceran minyaknya ?
Andai saja PLTGU yang akan dibangun di Pemaron berbahan bakar LNG (Liquid Natural Gas), maka kita tidak akan perlu kontra terhadap pembangunan PLTGU tersebut. Karena bahan bakarnya minyak HSD (High Speed Diesel) inilah persoalannya menjadi sangat lain. Salam Gde Wisnaya ----- Original Message ----- From: "wijaya_kusuma" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, April 08, 2003 8:46 AM Subject: [bali] FAQ sekitar Pembangkit Energi di Bali > Om Swastiastu, > Berikut ini adalah beberapa diskusi sekitar pembangkit energi listrik di > Bali. Kalau ada yang kurang berkenan, mohon dihapus saja. > > -----Original Message----- > Sejauh yang saya tahu di tempat saya, sebuah plant PLTG dengan kemampuan > 200-300 MW hanya memerlukan lahan sekitar 300 x 300 M2, jadi tidak begitu > luas, dengan tingkat kebisingan, dalam jarak 1 km sudah tidak terdengar. > Bahan bakar gas, menurut saya, kemungkinan dipasok dari Bali utara/dekat > Madura yang mungkin wilayah operasinya Mobil...PLTG akan lebih hemat kalau > dekat dengan sumber gas. Satu lagi, orang yang terlibat dalam operasinya > paling hanya 20-30 orang saja. Pembangunan yang 2-4 tahun itu saja banyak > memerlukan tenaga kerja. > > Wijaya: > Benar apa yang ditulis di atas. Semua amdal itu pun menyebutkan demikian. > Pada awalnya akan menggunakan bahan bakar gas yang dipasok dari Kangean. > Lalu kemudian berubah dengan menggunakan bahan bakar diesel (yang dibakar) > hingga menjadi gas. Berubah terus ya? Jangan - jangan nantinya memakai bahan > bakar yang lain lagi :-D. Itu yang pertama, tidak transparan dan jelas. > > > -----Original Message----- > Karena saya dari background listrik, saya tidak begitu melihat effek negatif > dari listriknya (peralatan, gardu etc), yang menjadi concern adalah > output/gas buangnya. Saat ini, regulasi di state konon mensyaratkan gas > buang yang sangat aman, dan regulasi itu tidak berlaku di Indonesia, bisa > saja seandainya gas buang (campuran N Ox) itu dicontrol dalam spec > peralatan, saya cenderung optimis PLTG akan aman, lebih bersih, dengan space > yang kecil. > > Setelah jadi lsitrik, Singaraja bisa menarik cukai per kWHnya... > > Wijaya: > Ini masalah kedua. Pihak penyelenggara listrik tidak pernah berkontribusi > untuk meningkatkan PAD Buleleng. Lihatlah, untuk mensuplai seluruh Bali > (kebutuhan listrik di Buleleng cukup dengan PLTD saja) seharusnya PAD > diberikan dalam jumlah yang memadai. Kami tawarkan, minimal 20 Milyar per > tahun. Tapi, sekali lagi, penyelenggara listrik tidak akan pernah memberi > apapun untuk daerah, karena mereka BUMN murni. Coba saja lihat BUMN lain > seperti Angkasa Pura, Pelindo di Benoa, dll. yang tidak memberikan > kontribusi PAD bagi Bali. (catatan: PT IPower menyanggupi untuk menyumbang > PAD sebesar Rp. 12 Milyar per tahun) > > -----Original Message----- > Listrik tersendiri sangat diperlukan oleh Bali, benar bahwa kalau sampai > kabel Jawa Bali putus, pemadaman bergilir pasti terjadi. Sekedar informasi, > listrik itu sebenarnya mahal lo..sepertinya kita saat ini masih di subsidi. > > Wijaya: > Pernyataan di atas sama persis dengan pernyataan penyelenggara listrik. > Kalau kabel laut putus, masak biaya penggantian kabel lebih mahal daripada > biaya pembuatan sebuah PLTGU atau PLTP? Saat kabel laut yang menghubungkan > ke Madura putus, penyelenggara listrik nggak bikin PLTGU di sana khan? :-D. > Seharusnya, kabel laut di Bali yang harus dijaga kuat agar jangan sampai > putus :-D, masak biayanya lebih mahal dari biaya maintenance sebuah gardu > induk? > > Masalah ketiga adalah, kenapa harus Bali bikin PLTGU sendiri? Kasus kabel > laut di atas khan solusinya bukan PLTGU atau PLTP. > > Masalah keempat, kenapa penyelenggara listrik tidak mau pindah ke Gilimanuk > (di sana sudah ada PLTG, berdiri di atas lahan yang sangat tidak produktif > dan jauh dari perkampungan) atau meningkatkan kapasitas daya PLTG di > Sanggaran. Kedua PLTG tersebut posisinya sama dengan Pemaron, dekat laut > (untuk suplai air pendingin) dan dekat dengan depo bahan bakar. Kenapa > masalah simple dibuat kompleks? > > Masalah ke lima, ada apa dibalik pembangkitan semua tersebut? Saya pikir > tulisan pak Nyoman Bangsing sudah cukup jelas, silahkan dibaca kembali. > Kenapa mereka tidak mau diberikan alternatif di Celukan Bawang atau di Kubu? > Kenapa alasannya sangat sederhana yakni tidak ada dana untuk pembelian lahan > dan instrumen? > > Perlu waktu panjang untuk menerka semua misteri tersebut. Bahkan acara > misteri di sebuah televisi swasta pun tidak akan mampu mengungkap rahasia > tersebut :-D. > > Shanti, > > Wijaya. > > ============================================================================ > ============================================================================ > ==================================================== > The Balinese believe that three factors are crucial to a person's > well-being, happiness and health: Bhuwana Alit which is made up of > individual persons (atman), Bhuwana Agung which comprises the universe > (prkrti), the supreme God (Hyang Widhi/Paramatman). > > > > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
