salam sejahtera,
sebelumnya saya ingin minta maaf karena lancang bergabung dengan milis ini.
perkenalkan, nama saya willy himawan (tanpa nama bali), biasa dipanggil willy, umur 20 tahun, saya masi mahasiswa, kuliah di seni lukis FSRD-ITB, saya seorang buleleng asli, tepatnya bungkulan, tapi saya lahir dan besar di denpasar, dan pulang ke bungkulan pabila kalo ada odalan sehinggga secara garis besar, saya tidak begitu mengetahui keadaan bungkulan dan singaraja serta buleleng pada umumnya.
mungkin apa yang hendak saya sampaikan cuma berasal dari keprihatinan saya terhadap insiden buleleng, dan pada umumnya keadaan bali akhir-akhir ini.......
kalo saya perhatikan, sebenernya gontok-gontokan ala partai, keluarga, dan banjaran sering ada di bali dari dulu dan bisa disebut dan bahkan menjadi hal yang "natural".....kalo orang tua bilang "mesiat to ngeranayang menyama"...cuma bedanya kali ini, sebuah insiden seperti itu direkam oleh media massa....yang luas pengaruhnya. lalu, apa akibatnya... semua orang siapapun itu menjadi mulai ikut membicarakan, dan mungkin ikut-ikutan "nimbrung" tentunya dengan berbagai kepentingan......saya pun mungkin memiliki kepentingan membicarakan permasalahan ini di wadah ini, dengan alih-alih alasan tukar-pikiran, dan mencoba menjajal pemikiran "kemahasiswaan" saya.
namun diluar semua itu, terutama diluar kepentingan yang mendasar pada insiden itu, ,yang tentunya adalah kepentingan penguasa dan tentunya juga jauh dari dugaan-dugaan kita orang awam. saya pribadi tidak ingin membahas apa sih, yang ada dibalik semua insiden yang terjadi di bali, walaupun mungkin jika kita telusuri semuanya secara pelan-pelan banget, pasti ketemu "penampakan".......
namun hal yang kemudian menarik keprihatinan saya adalah, aspek psikologis-sosial masyarakat bali yang kira-kira terbentuk kemudian, akibat dari intervensi mass-media di bali yang lalu membuat bali "mendunia" untuk kedua kalinya, dan tentu kali ini dengan "membonceng" segala permasalahan sosial yang memang ada didalamnya, jadi kali ini bukan cuma manisnya penari bali yang sedang menari saja, tapi juga anak-anaknya yang menangis dibelakang pangggung........begitu kira-kira.
permasalahan yang timbul kemudian adalah bagaimana jadinya sosio-kultur bali yang cenderung masih berpegang pada tradisi yang menjunjung nilai kolektivitas, ke-lokal-an, ke-adi luhung-an budaya warisan leluhur 700 tahun lalu (mengingat majapahit yang masuk di tahun 1300-an), ke-tradisian, tata-krama warisan, dan sebagainya.........yang kemudian sekarang ini mengalami persinggungan dengan nilai-nilai modern yang mencakup nilai humanisme ala HAM dan pasukan perdamaian, nilai kebaruan yang mengharuskan adanya progress dalam kehidupan....nilai kreativitas yang mendobrak "kemandegan", tata-krama yang cenderung bertolak pada sistem yang mengharuskan keikutsertaan manajemen sebagai pusat lingkarannya..dan banyak hal lagi yang betolak belakang dengan nilai-nilai konvensi yang ada di bali.............................................
mungkin itu permasalahan-permasalahan yang ada didalam benak saya saat ini, dan sebagai generasi yang lebih muda...saya tentunya sangat mengharap pendapat-pendapat bapak-ibu, kakak-kakak sekalian yang kebetulan ada di wadah ini.......untuk bisa bertukar pikiran.......dilain pihak, secara pribadi....saya merasa di umur segini memang sudah waktunya mencari jati diri, dan sepertinya saya sangat butuh pemikiran-pemikiran utamanya wejangan-wejangan dari orang-orang yang terlebih dahulu mengalaminya........
terima-kasih saya sampaikan karena sudah membaca, semoga ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan sekali lagi saya meminta maaf atas kelancangan saya ini.....dan sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.
salam damai,
willy
Do you Yahoo!?
Exclusive Video Premiere - Britney Spears
