Yth pak Suwela, saya kadang putus asa. Disamping proyek bank Dunia, ada proyek Inovatif BUIP, yang saya buatkan proposal untuk Dispar Buleleng, sudah 3 tahunan bolak-balik, perbaikan, minta saran, ini-itu, begitu "jadi" nggak pernah dikontak lagi. he..he..biasanya kalau udah sisa uang sedikit dan proyek nggak jalan baru pada ngasi "tugas" Kalau seperti itu, serba salah...dibantuin (hati sebenarnya kesal), nggak dibantu...kasihan uang nggak ada bekasnya. Nggak apa2, saya juga nggak kekurangan rejeki, cuman agak khawatir kalau aplikasinya nggak sebagus proposalnya yang dipuji2 tim penilai. Dalam proposal itu ada pengelolaan sampah, air limbah, terumbu karang yang semuanya dikelola bersama antar stakesholder di Lovina. Perlu ada bentukan gab stakesholder yang efektif. Kalau tim kaw. Strategis Lovina udah nggak eksis. hampir sama dengan RUKD Bali, saya dan pak Wis kontak sana-sini, eh...timpale ane nyangkuak. ya...itulah HIDUP. itulah sebabnya, saya tidak menanggapi tawaran, dorongan dan sejenisnya untuk jadi Caleg......itu bukan dunia saya. Sikut2an, sirik2an, ya...enakan jadi orang yang tenang, kumpul dengan masyarakat, bakar ikan, bikin program yang benar2 membuat saya bisa setiap hari ketemu "nyama beraya". Saya nggak betah di ruangan sih....agak kampungan memang, karena memang saya orang kampung banget.....dan senang seperti itu.
cheers: Widi --- nyoman suwela <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Eh tertarik juga dengan thema Luar Negeri Minded dan > sampah. Bila perlu biar dikira intelek, pakai bahasa > asing dikit2 seperti : signifikan, even ( mungkin > maksudnya event ), klarifikasi dst. Saya juga > tertarik dengan wujud Luar Negeri Minded ini dan > sampah dikampung saya, yang namanya Kalibukbuk, > populer dengan Kawasan Wisata Lovina. Disana sedang > dilaksanakan proyek penataan Kawasan Wisata, yang > konon biayanya adalah bantuan Bank Dunia ( yang > jelas bukan Bank Pasar ), yang antara lain wujudnya > : pembangunan gapura, pantai dengan pasirnya yang > indah diganti dengan paving stone, pasir diganti > taman yang diurug dengan tanah, yang waktu hujan > jadi lumpur, bahkan akan dibangun jalan mobil > dipantai. Rupanya ada pandangan yang berbeda antara > Pemkab dengan pelaku pariwisata. Pelaku pariwisata > mengatakan daya tarik Lovina adalah pantai dengan > nuansa alamnya, sehingga yang perlu dilakukan adalah > menjaga kebersihan, keselamatan, ketertiban dan > keamanan. Wisatawan bilang proyek ini adalah > "bloody stupid project". Tapi Pemkab ( dalam hal > ini tentu pengambil keputusannya ) bilang itu adalah > proyek Penataan Kawasan. Yang lebih menarik lagi, > gapura sudah dibangun dengan biaya mahal. tapi > sampah berserakan dimana-mana. Alasan sampah sampai > membusuk: tidak ada dana, tidak cukup kenadaraan > pengangkut sampah. Trotoir baru dibangun, tapi > lobang ditrotoir yang lama, menganga tidak ditutup. > Barangkali menunggu wisatawan jatuh atau ada anak > kecemplung mati, baru mendapat perhatian. Kakek saya > dulu tuli tidak mendengar, saya bawa kedokter habis > 100 juta, setelah itu bisa mendengar. Teman saya > dapat lotere 100 juta, kok setelah itu jadi tuli. > Anaknya teriak-teriak minta makan karena kelaparan > tidak didengar. Kampungnya minta sumbangan untuk > memperbaiki sekolah tidak didengar, padal ia baru > saja dapat rejeki nomplok tanpa kerja 100 juta. Dan > itulah namanya : HIDUP. That is life. If you can not > change the world you have to change yourself, at > least how to survive. > Tapi kita perlu tokoh macam Adik/Mbak/Ibu ( pilih > yang mana cocok ) Widi, who knows one lady can make > the difference. > Anggap saja semua ini sebagai lelucon. > Sampai jumpa, > NS > > Made Wirata <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > Emak Widi yang baik, > kita ketemu lagi diudara..... sudah sekian lama > tidak saling info... > > Saya setuju pendapat Emak Widi, kalau dilaksanakan > desentralisasi, > karena selain keruwetan transportasi yang Embak > bilang itu, juga Polusi > sampahnya lewat kota, belum biaya transportasinya > tidak murah. > Saya rasa saya dan temen-temen bisa mengusulkan cara > yang tepat untuk > desentralisasi, itu juga kalao didenger sama > pemerintah Bali, tapi > tentunya minta bantuan Pak Gde sama Embak Widi, saya > enggak ada yang > kenal di pemerintahan....jangan-jangan dikira tukang > pemulung nanti... > Cara simpelnya, buatkan mesin perajang dan pembuat > pupuk kompos di > setiap TPA yang sudah ada, cukup yang seukuran > volume sampah yang > terjadi disekitar situ. Yang bisa didaur ulang > seperti Plastik, kaca, > dan logam dikirim keperusahaan yang ada (pasti ada). > Dan sisanya buatkan > incinerator ukuran kecil yang menampung sisanya > tadi. > Itu usul, semuanya bisa dikerjaain lebih murah. > Untuk Info, LIPI > Bandung, dan Subang, Jkt serta PT DI punya kemampuan > ini semua. > > Tks > MW > > > ---------- > > From: nimade > widiasari[SMTP:[EMAIL PROTECTED] > > Reply To: [EMAIL PROTECTED] > > Sent: Monday, March 15, 2004 7:02 PM > > To: [EMAIL PROTECTED]; Gde Wisnaya Wisna > > Cc: Bali; [EMAIL PROTECTED] > > Subject: [bali] Re: Luar Negeri Mainded > > > > Yth pak Wirata, > > kami sebenarnya sangat pesimis dengan gaya2 proyek > > kayak gini. Masyarakat nggak dididik untuk > memisahkan > > sampah, terus sampah yang tercampur akan diolah > jadi > > listrik katanya, dan transportasi sampah dari > Tabanan > > ke Denpasar, Badung-Denpasar dan Gianyar ke > Denpasar > > setiap hari akan tambah ruwet. > > Kami lebih senang dengan desentralisasi sampah, > bukan > > sentralisasi. > > Ini mirip proyek Air Megumi Bali (Jembrana) yang > saya > > tentang sejak awal. Kita punya air baku (walau > sejelek > > apapun sedimentasinya), kok mereka pakai air > laut?? > > Saya bingung apa membran Reverse Osmosisnya udah > > diobral ya..? katanya mereka jual air tersebut > murah > > banget. > > Eh...benar nggak lama kemudian, tipuan tersebut > > terbukti. Ya...berani obral duit dulu...ntar kalau > > udah habis biaya nipunya ya..berhenti. Toh...udah > ada > > yang lebih besar masuk kantong. > > Pembangkit listrik yang bikin polusi didukung, > yang > > bersih ditakutin...ya...pengaruhi air > danaulah...mata > > airlah...(kita memang suka malas belajar teknologi > > ya..., tapi karena hrs ngomong di depan > > pers.....ya...ngomong aja yang "nggak jelas" yang > > penting nggak malu ketahuan bodoh). Kasihan > > deh..kita!!!! > > > > cheers: Widi > > > > --- Made Wirata > > wrote: > > > Yth. Pak Gde, > > > > > > Ada info baru nih,.... masak Bank Dunia ngasi > > > bantuan.....katanya > > > bantuan tapi masak tidak musti dibalikin / > > > diangsur... ? apa hibah....?, > > > kemudian dijadikan proyek dimana proyeknya yang > > > dapat juga orang Luar > > > Negeri. > > > > > > Contoh di denpasar dapat proyek besar yang > letaknya > > > sekitar 3 km dari > > > Denpasar untuk pengolahan sampah plus > Incinerator, > > > yang ngerjaiin > > > sebagai pelindung memang PT dari RI, namun > > > dibelakangnya dari Belanda > > > dan Inggris. > > > Tapi, sayangnya Pemda kita diajak jalan-jalan > dulu > > > ke LN dan beli > > > oleh-oleh segala, sehingga proyek jadi lancar > nih... > > > walaupun proyeknya > > > bule. > > > Nah, kapan percayanya sama produk kita sendiri > ...? > > > > > > Mudah-mudahan, buat Kabupaten Buleleng tidak > serupa > > > sama Badung dan > > > sekitarnya. > > > > > > Kalau masalah Incinerator dan pembuatan pupuk > dari > > > sampah, kita tidak > > > kalah jelek dengan bangsa luar, dan biayanya pun > > > kurang dari setengah > > > buatan LN., bahkan bisa cuma seperempatnya. > Ya...h, > > > nasib bangsa memang > > > tetap menjadi bangsa tempe selamanya. > > > > > > Made Wirata > > > > > > > > > -- > > > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > > > > > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > > > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > > > Moderators : > > > Berlangganan : > > > Henti Langgan : > [EMAIL PROTECTED]> > > > > > > __________________________________ > > Do you Yahoo!? > > Yahoo! Mail - More reliable, more storage, less > spam > > http://mail.yahoo.com > > > > > === message truncated === __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail - More reliable, more storage, less spam http://mail.yahoo.com -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
