dear All,
yah...sebenarnya yang perlu kita lakukan bagaimana
menyebarkan semua info tentang sisi negatif dana
Purnabhakti ini kepada masyarakat, karena kita disini
kuncinya, soalnya yang baca millis ini khan nggak
banyak2 amat.
saya tadi pagi, di Balitaman, sudah main transfer
teknologi kepada beberapa kepala desa dan bendesa adat
di Lovina. Caranya? kesankan kita nggak mau ikut
campur(ngomongnya sambil ngerjain apa gitu),
nah...saat mereka ngeluh..kok sudah berkali2 mohon
tong sampah atau kontainer sampah nggak dapat2 ya?
Jawabnya (tetap dengan gaya kalem, nggak menggebu2),
yah...eksekutif sekarang susah pak, apa yang tertulis
dalam anggaran, sebenarnya bodong semua (kagak ada
duitnya), habis udah dibagi2 buat dana purnabhakti,
jadi mereka sekarang stress, kalau ntar nggak bisa
bikin apa2, pilihan sulit daripada pertanggungjawaban
mereka nggak di-sign. Itupun anggota dewannya cuman
dapat sekian persen, karena habis buat sumbangan tim
sukses presiden. Kalau para kepala desa dan bendesa
adat mulai sadar dan bereaksi keras, tunjukkan sikap
santai (agak cuek), yah...kita mau apa lagi? he..he...
efektif banget..nggak ada yang curiga, karena
ceritanya kita udah apatis dan merekalah yang kesel
dan geregetan. Lakukan disemua komunitas....,
he...he..ini strategy membentuk motivator2 unggul di
lapangan, tanpa mereka merasa diprovokasi. Ngomong2
Gubernur ternyata sangat sensitif, yah..jadi ada satu
senjata lagi buat nyentil pak Gubernur, cewek kafe
demo...., besok bawa yang lebih parah lagi, biar pada
malu.....
Kalau lihat bagaimana keluarnya uang (hampir semua
Pemda di Indonesia), maka saya ingat dengan pelajaran
"rantai makanan" he...he...persis banget. Makanya
siapa suruh jadi nyamuk...khan dimakan kodok, siapa
suruh jadi kodok..khan dimakan ular. 
Ada yang mau jadi pawang ular????

cheers: Widi

--- "I Ngh. Suparta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dear all,
>  
> Actually I don't know what Pers Buleleng is. But I
> think that it is some kind of news paper. If it is,
> it will constitute a god tool for building Balinese
> opinions particularly those of Buleleng people.
> Through this Pers Buleleng you, probably we, can
> expose the "dark" side of PLTGU for instance. The
> information regarding the comparasion between the
> dark side and the light one, will help people so
> much in deciding their position(pro or contra). 
> Also bravo for Pers Buleleng, 
> victory day will come soon
>  
> regards,
> INS
> 
> nyoman suwela <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Thanks mate for y our reply! Ternyata "hati nurani"
> belum punah, meskipun langka. Bravo Pers Buleleng,
> who knows Pers Buleleng can make the difference. Hai
> other fellows, where are you? Wake up. Who knows the
> dooms day may be coming soon. 
> See you.
> NS
> 
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> 
> v\:* {behavior:url(#default#VML);}o\:*
> {behavior:url(#default#VML);}w\:*
> {behavior:url(#default#VML);}.shape
> {behavior:url(#default#VML);}
> Yang masih peduli hanya kami Pers Buleleng, sehingga
> harus menurunkan para PSK (Pekerja Sek Komersial)
> untuk menggugah hati nurani Gumi Den Bukit, kerena
> tidak ada lagi orang buleleng yang peduli, bahkan
> kelompok penentang PLTGU yang kini sudah pecah bak
> gelas terlempar. Who Cares ?
> 
>  
> 
> -----Original Message-----
> From: nyoman suwela [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: 26 Mei 2004 16:48
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [bali] who cares
> 
>  
> 
> Dear Pak Wis,
> 
> WHO CARES?
> 
>   Thanks, saya sudah terima fax Pak Wis, tentang
> surat kepada Team Independent PLTGU Pemaron.
> Nampaknya Pak Wis salah menafsirkan arti
> �independent� dalam Team Independent. Nenek saya
> pernah ngajari saya, independent, dalam bahasa Bali
> Kuno adalah �freedom�, dalam bahasa Melayu kira-kira
> �bebas�, dalam arti bebas campur tangan dari luar.
> Jadi dalam konteksnya ini, team ini bebas untuk
> menentukan apa yang akan dilakukan. Jadi team ini
> bebas apakah hanya mau mendengar dari mereka yang
> mendukung lokasi PLTGU di Pemaron atau tidak. Tapi
> kita tidak boleh terlalu apriori Pak Wis. Lihat saja
> laporan Team Independent ini. 
> 
>    Nampaknya, �hati nurani� dewasa ini semakin
> langka. Baca surat kabar di Bali bahkan diseluruh
> Indonesia, bagaimana apa yang disebut �DANA
> PURNABHAKTI� atau dana apakah namanya, dicaci maki
> oleh masyarakat, dari yang paling sopan sampai yang
> paling kasar, tapi WHO CARES? Sampai-sampai CO (
> Cewek Order ) Caf� demo di rumah wakil rakyat ( DPRD
> ) dengan mengatakan bahwa wakil kita hidup
> berfoya-foya diatas penderitaan rakyat. Who cares? 
> 
>    Pak Wis, saya usul, baimana kalau LSM Pak Wis
> buat latihan �APATIS� atau �MASA BODOH� semacam
> latihan meditasi. Singkatnya bagaimana kita latihan
> tuli sehingga apa yang kita anggap tidak adil,
> rakus, kita tidak dengar sehingga kita tidak stress.
> Dan saya usulkan mottonya � WE DO NOT CARE�. Setuju?
> 
> Those who care please reply!
> 
> Have a nice day mate and cheers up.
> 
> NS
> 
>  
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> Do you Yahoo!?
> Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Friends.  Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger



        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Friends.  Fun.  Try the all-new Yahoo! Messenger.
http://messenger.yahoo.com/ 


--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke