P Wis,
Discovery Mall dan Kuta Galeria yang memberanguskan semua pasar rakyat yang
ada di sekitar itu....
Bukannya yang di tata Mall terpanjang di dunia yaitu mall di Jalan Kuta
Legian Seminyak, Kerobokan.... panjangnya sekitar 6 kilometer semua isinya
dagangan... tapi malahan dibuat yang one stop shopping mall itu yang
konsepnya juga nggak tau apa....
Hidup ini memang perjuangan... bangun pagi buka mata aja kita berjuang kalau
bisa 5 menit lagi mimpi enak nya....
Kadang berpikir... diem aja kenapa sih Vieb... tapi ternyata bukan begitu
saya dilahirkan...
Tadi siang saya ada janji dengan teman di Oberoi.... padat sekali dengan
pembangunan..... restaurant, toko dan traficnya luar biasa sekali.... eh
macet total... kenapa karena pemerintah sedang melakukan pemeliharaan
jalan... langsung saja saya datangi dan saya bilang kalau mau buat
pemeliharaan yang effective dan efficien datangnya malam hari bukan siang
hari bolong dimana masyarakat sedang melakukan kegiatan.... saya telephone
pimpro nya dan langsung mereka pergi dari situ.... rasa tanggung jawab nggak
ada sama sekali... katanya ini kan permohonan masyarakat juga untuk di
dibenerin jalan yang lubang.... ya tapi kapan pelaksanaannya kan harus
dipertimbangkan banyak factor.... aduh.... udang semua ya.....
Saya sedih kalau melihat kinerja dari PNS kita.... saya nggak ngerti apa ya
yang ada di otaknya mereka?
Kalau masalah pembangunan memang menjadi sangat PENTING, kalau orang Bali
sadar sudah terpinggirkan - jangan salahkan siapa siapa tapi ayo kita cari
solusi bersama dan lakukan apa yang bisa dilakukan....
----- Original Message -----
From: "Pan Bima" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Asana Viebeke Lengkong" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[email protected]>
Sent: Monday, August 27, 2007 4:46 PM
Subject: Re: BUTIYANG -
Mbak Vieb,
Saya coba-coba cari di google Review Asia, yang ketemu hanya Far
Eastern Economic Review.
Syukurlah perjuangan di Loloan Canggu akhirnya diwartakan oleh media
luar negeri, dan ini memungkinkan lebih banyak warga dunia yang
melihat perjuangan Mbak Viebeke disana bersama masyarakaat
disana.Walaupun berat, nampaknya hasil sudah mulai ada, yaitu berupa
suspended sementara atau dibuaat status quo dulu. Perjuangan belum
selesai karena masyarakat minta agar proyek pemanfaatan Loloan tsb
harus betul-betul dihentikan.
Konsekwensi perjuangan memang sangat berat, tuduhan komunis dan
teror-teror mati adalah bagian dari kisah-kisah oerlawanan menghadapi
kekuatan uang (Power of money) dan kekuasaan (Power of authority).
Tetapi kekuatan moral masyarakat (power of people) masih cukup efektif
untuk melawannya.
Yang 2 tahun lalu tsb perjuangan menentang Shopping Mall di pantai
Kuta itu yang mana ya ?
Melihat pembangunan Bali selama ini khususnya di wilayah Denpasar dan
Badung memang sangat mengkhawatirkan. Sangat mungkin bahwa kita hanya
mampu menjadi pelayan di tanah sendiri. Sejumlah wilayah di Bali (a.l
KUTA) telah menjadi wilayah yang asing bagi orang Bali. Anak-anak muda
Bali masuk kesana, entah sebagai pekerja ataupun berinteraksi dengan
turis-turis disana, kemudian ketika mereka (anak-anak muda) tsb
kembali ke desanya, tanpa sengaja mereka mengimbaskan budaya aneh yang
mereka dapatkan di Kuta ke pemuda-pemuda di desanya.
Saya pernah membaca bahwa penyakit menular dapat disebarkan melalui
jejaring sosial. Tidak hanya untuk hal-hal positip, jejaring sosial
juga sangat efektif termanfaatkan oleh hal-hal negatif.
Bagaimanakah strategi Bali mnghadapi persoalan ini ? Dalam setahun ini
proses pilgub akan berjalan, adakah visi dan misi kandidat dalam
menjaga kelestarian budaya bali, lingkungan bali dan manusia bali ?
salam
gde wisnaya
On 8/25/07, Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah P Wis, ini masuk di majalah Review Asia....kalau mau lihat sepenuhnya
berita cari Review Asia...
Bane of urbanization
Environmentally, depletion of wet farms has affected the water table, and
infrastructure has not kept pace with development, resulting in poor
water
quality, escalating pollution and horrendous traffic.
Environmentalist Asana Viebeke Lengkong has been fighting ecologically
damaging developments for years. Two years ago, she lost a battle against
a
shopping mall on Kuta beach because the community was too scared to defy
the
developer, one of Indonesia's most powerful families with links to former
president Suharto and the military.
The same developer has started reclaiming an estuary in Canggu for a
hotel
project. The so-called Loloan site, zoned as conservation and considered
sacred to Balinese Hindus, was "given" to the developer 16 years ago by
the
former provincial government. This time, Lengkong says the government has
gone too far and the surrounding villages are united in their protest.
"We are ready for war," she says. "Everyone is willing to die for this.
I'm
serious. This is about standing up and knowing our rights and
responsibilities. It is time for Bali to wake up."
Stakes are high. Lengkong claims she has received death threats and been
branded a communist, but she refuses to back down. The government has
been
forced to ease tensions by halting construction, but Lengkong wants the
developer's building license revoked all together.
The dispute is shaping up as a landmark case in Bali's broader fight
against
destructive developments and the official corruption that allows them to
go
ahead.
The government actually has very clear zoning and land use regulations,
as
well as architectural guidelines to ensure buildings adhere to
traditional
design principles. But Badung legislator I Wayan Puspa Negara
acknowledges
weak enforcement of these laws.
"Our rules and regulations are fantastic, but the application has been
bombastic. Law enforcement means nothing here. People can pay authorities
to
look the other way. Loloan is just one case in the public eye, there are
many others."
Without strong law enforcement and government will to halt further rice
field development, Bali's preservation may depend on personal
responsibility. One property developer is leading by example.
"Poverty and unemployment are rising while many Balinese are becoming
servants, not masters, of their own land. When the money runs out, what
will
the Balinese do? Beg?"
--
Gde Wisnaya Wisna
Jl.Dewi Sartika Utara 32A
Singaraja-Bali
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>