P Wis,

google REVIEW ASIA ada kok coba cari terus kira kira paling bawah deh ada.

saya buka kok tadi bisa.... jadi yang di interview itu banyak orang di Bali....

Besok saya akan di interview oleh majalah Swiss.... SEE DUNIA MELIHAT BALI lebih penting dari Indonesia... (hehehe) karena di Bali memang sudah jadi Kota Dunia..... Bali reflects Indonesia bukan sebaliknya... PADA SADAR NGGAK YA....

Jadi pemimpin kedepan bukan lagi YANG JAGO KANDANG ngurusin soroh, kepentingan kelompok dan spiritual piramida.... tapi yang bisa berkomunikasi... dan menegakan aturan/hukum.

Dari Berita Review Asia itu bisa diambil kesimpulan dan kemudian dibuat actial plan dan implementation.... Karena we are talking about PEMBANGUNGAN KE DEPAN... untuk anak dan cucu.... ----- Original Message ----- From: "Pan Bima" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Asana Viebeke Lengkong" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[email protected]>
Sent: Monday, August 27, 2007 4:46 PM
Subject: [bali] Re: BUTIYANG -


Mbak Vieb,
Saya coba-coba cari di google Review Asia, yang ketemu hanya Far
Eastern Economic Review.

Syukurlah perjuangan di Loloan Canggu akhirnya diwartakan oleh media
luar negeri, dan ini memungkinkan lebih banyak warga dunia yang
melihat perjuangan Mbak Viebeke disana bersama masyarakaat
disana.Walaupun berat, nampaknya hasil sudah mulai ada, yaitu berupa
suspended sementara atau dibuaat status quo dulu. Perjuangan belum
selesai karena masyarakat minta agar proyek pemanfaatan Loloan tsb
harus betul-betul dihentikan.

Konsekwensi perjuangan memang sangat berat, tuduhan komunis dan
teror-teror mati adalah bagian dari kisah-kisah oerlawanan menghadapi
kekuatan uang (Power of money) dan kekuasaan (Power of authority).
Tetapi kekuatan moral masyarakat (power of people) masih cukup efektif
untuk melawannya.

Yang 2 tahun lalu tsb perjuangan menentang Shopping Mall di pantai
Kuta itu yang mana ya ?

Melihat pembangunan Bali selama ini khususnya di wilayah Denpasar dan
Badung memang sangat mengkhawatirkan. Sangat mungkin bahwa kita hanya
mampu menjadi pelayan di tanah sendiri. Sejumlah wilayah di Bali (a.l
KUTA) telah menjadi wilayah yang asing bagi orang Bali. Anak-anak muda
Bali masuk kesana, entah sebagai pekerja ataupun berinteraksi dengan
turis-turis disana, kemudian ketika mereka (anak-anak muda) tsb
kembali ke desanya, tanpa sengaja mereka mengimbaskan budaya aneh yang
mereka dapatkan di Kuta ke pemuda-pemuda di desanya.

Saya pernah membaca bahwa penyakit menular dapat disebarkan melalui
jejaring sosial. Tidak hanya untuk hal-hal positip, jejaring sosial
juga sangat efektif termanfaatkan oleh hal-hal negatif.

Bagaimanakah strategi Bali mnghadapi persoalan ini ? Dalam setahun ini
proses pilgub akan berjalan, adakah visi dan misi kandidat dalam
menjaga kelestarian budaya bali, lingkungan bali dan manusia bali ?

salam
gde wisnaya

On 8/25/07, Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah P Wis, ini masuk di majalah Review Asia....kalau mau lihat sepenuhnya
berita cari Review Asia...

Bane of urbanization
Environmentally, depletion of wet farms has affected the water table, and
infrastructure has not kept pace with development, resulting in poor water
quality, escalating pollution and horrendous traffic.
Environmentalist Asana Viebeke Lengkong has been fighting ecologically
damaging developments for years. Two years ago, she lost a battle against a shopping mall on Kuta beach because the community was too scared to defy the
developer, one of Indonesia's most powerful families with links to former
president Suharto and the military.
The same developer has started reclaiming an estuary in Canggu for a hotel
project. The so-called Loloan site, zoned as conservation and considered
sacred to Balinese Hindus, was "given" to the developer 16 years ago by the
former provincial government. This time, Lengkong says the government has
gone too far and the surrounding villages are united in their protest.
"We are ready for war," she says. "Everyone is willing to die for this. I'm
serious. This is about standing up and knowing our rights and
responsibilities. It is time for Bali to wake up."
Stakes are high. Lengkong claims she has received death threats and been
branded a communist, but she refuses to back down. The government has been
forced to ease tensions by halting construction, but Lengkong wants the
developer's building license revoked all together.
The dispute is shaping up as a landmark case in Bali's broader fight against destructive developments and the official corruption that allows them to go
ahead.
The government actually has very clear zoning and land use regulations, as well as architectural guidelines to ensure buildings adhere to traditional design principles. But Badung legislator I Wayan Puspa Negara acknowledges
weak enforcement of these laws.
"Our rules and regulations are fantastic, but the application has been
bombastic. Law enforcement means nothing here. People can pay authorities to
look the other way. Loloan is just one case in the public eye, there are
many others."
Without strong law enforcement and government will to halt further rice
field development, Bali's preservation may depend on personal
responsibility. One property developer is leading by example.


"Poverty and unemployment are rising while many Balinese are becoming
servants, not masters, of their own land. When the money runs out, what will
the Balinese do? Beg?"





--
Gde Wisnaya Wisna
Jl.Dewi Sartika Utara 32A
Singaraja-Bali

--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>





-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke