Republik Kucing

BUDIARTO SHAMBAZY 
Gentur mengadu nasib ke Jakarta. PRT asal Banten itu sudah 20 tahun kerja untuk 
orangtua saya menunggui rumah di Jakarta Selatan bersama istri dan dua anaknya. 
Sepekan lalu asmanya kambuh dan dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh 
istrinya. Ia butuh pertolongan pertama, tetapi dokter menyuruh sang istri 
membayar dulu uang Rp 6 juta. 
Istrinya tak punya uang sebanyak itu. Ia panik melihat tubuh Gentur telah 
membiru. 
Setelah ditolak, ia angkut Gentur ke RS Fatmawati. Namun, Gentur meninggal 
dunia dalam perjalanan di taksi. 
Mohon maaf kepada keluarganya, takdir takkan pernah bisa dihindari. Apalagi, 
seperti kata pepatah, "Ibu tiri kalah kejam dibandingkan Ibu Kota". 
Pada zaman edan ini tak ada rumah sakit yang mau rugi dan yang berkuasa adalah 
rupiah. Namun, agar lebih fair rumah sakit sebaiknya pasang pengumuman di pintu 
UGD: "Uang Panjar Enam Juta Rupiah". 
Bukan cerita baru nyawa manusia tak ada harganya di Jakarta ini. Ingat tukang 
beling Supriono yang keliling membawa jenazah putrinya yang berusia tiga tahun, 
Nur Hairunisa, di gerobak sampahnya sendiri? 
Ia tak mampu bayar ambulans dan diinterogasi polisi karena dicurigai membunuh 
putri kesayangannya. Sebuah rumah sakit emoh memakamkan jenazah Nur karena 
mengaku tak punya biaya. 
Banyak anak coba bunuh diri karena malu tak mampu bayar uang sekolah. Tak 
sedikit anak miskin jadi "cepék man" di tikungan atau pengemis di lampu-lampu 
merah. 
Di Jakarta yang berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa ini ada lebih dari 8.000 
anak kurang gizi. Total terdapat 1,5 juta anak kurang gizi di negara ini. 
Di Ibu Kota ada 93.000 kepala keluarga yang miskin. Jika setiap keluarga 
rata-rata terdiri dari empat orang, minimal ada 400 ribuan rakyat miskin. 
Gentur, Supriono, Nur, dan anak yang bunuh diri, kurang gizi, atau miskin hanya 
paham slogan "merdeka atau mati". Mereka memilih mati karena "merdeka" tanpa 
menanggung derita. 
Kita, warga, familiar dengan slogan "merdeka atau bayar". Kalau lupa bayar 
iuran, tak ada yang jaga keamanan, tak ada lampu jalan, dan tak ada yang 
mengangkut sampah rumah. 
Dalam acara di stasiun radio Delta, Senin (13/8), ada pendengar bertanya, 
"Apakah kita sudah merdeka?" Saya bingung menjawabnya karena Indonesia sudah 62 
tahun merdeka. 
Rupanya masih banyak yang yakin Indonesia masih "dijajah". Siapa yang menjajah 
kita, mungkin tak sukar menjawabnya. 
Kita masih "dijajah" tetangga. Buktinya tiap tahun 100.000 pasien yang kapok 
dengan rumah sakit di sini memilih berobat ke Singapura atau Malaysia. 
Kita "dijajah" Malaysia yang usianya 12 tahun lebih muda. Paling tidak mereka 
bangga dengan slogan "Truly Asia" yang "direbut" dari Indonesia. 
Kita "dijajah" Singapura yang menampung konglomerat pembawa kabur uang negara. 
Kita sewakan tanah agar Singapura mau mengembalikan mereka. 
Kita "dijajah" Vietnam dan Filipina. Perolehan medali mereka di Asian Games 
lebih banyak daripada Indonesia. 
Kita "dijajah" Australia. Buktinya mereka dapat rezeki besar dari Celah Timor 
dan pasukannya petantang-peténténg di Timor Timur, bekas provinsi kita. 
Kita dua kali "dijajah" Uni Eropa. Ki ta dipaksa menandatangani perjanjian 
perdamaian dengan GAM, lalu pesawat kita dilarang terbang ke Eropa. 
Kita "dijajah" Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa. Turis mereka diimbau 
jangan naik pesawat di sini karena keamanannya tak layak dipercaya. 
Kita "dijajah" negara-negara Timur Tengah. Baru-baru ini dua TKI di Arab Saudi 
tewas setelah disiksa majikan mereka. 
Dan kita ternyata masih "dijajah" Belanda. Masa gini haré mereka belum mengakui 
tanggal kemerdekaan kita? 
Namun, penjajah sebenarnya adalah mereka yang berkuasa. Mereka membanggakan 
"kebebasan berbicara", tetapi enggak nyandak "kebebasan berpikir" bisa 
menemukan resep memperbaiki bangsa. 
Mereka berteriak "bersama kita bisa" walau tahu kemerdekaan akan sia-sia tanpa 
kesejahteraan ekonomi setiap warga negara. 
Kemerdekaan ibarat mandi karena kita mesti men gisinya tiap hari. Penguasa 
mandi empat kali sehari supaya kulitnya tetap wangi. 
Penguasa membius rakyat menggantungkan cita-cita kemerdekaan kayak burung 
terbang tinggi. Mereka doyan "terbang" studi banding atau berkunjung ke luar 
negeri. 
Patriotisme rakyat tak membabi buta, malah jadi pengikat cita-cita yang 
melahirkan bangsa ini. Penguasa nyerocos tentang bahaya musuh, ancaman 
separatisme, "insiden cakalélé", GAM, atau bendera Bintang Kejora. 
Setiap 17 Agustus kita mengenang setiap pengorbanan yang diberikan bagi 
kemerdekaan. Mari kita camkan lagi masa depan Indonesia tak ditentukan 
penguasa, tetapi oleh kita, rakyat yang mencintainya. 
Para penguasa bilang, "Ah, kamu salah!" "Saya sudah berkorban. Saya begadang, 
padahal ngantuk. Saya bukan cuma dicintai rakyat, tetapi juga oleh diri 
sendiri," jawab para penguasa. 
Anda, saya, dan rakyat m erayakan proklamasi tiap 17 Agustus tanpa parade 
senjata, dentuman meriam, atau tumpeng raksasa. Kita ikut lomba makan kerupuk, 
panjat pohon pinang, lari karung, atau main bola. 
Para penguasa mondar-mandir diiringi pasukan lengkap bersirene "ngeong, ngeong, 
ngeong...." Mereka kayak kucing angora yang takut keluar rumah, cuma 
lompat-lompat di meja, tempat tidur, atau sofa. 
Indonesia bangsa besar, yang kerdil para penguasa republiknya. Merdeka! 


--------------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke