Mekanisme Perpindahan / Penyebaran Polutan
Pada saat aliran udara benar-benar lambat dan tenang, seperti umumnya terjadi 
pada malam / pagi hari, partikel-partikel polutan akan dengan mudah menempel di 
benda-benda sekitarnya. Jika partikel polutan tidak memiliki panas yang cukup, 
maka polutan tersebut akan terbawa oleh proses konveksi termal angin natural. 
Jika partikel polutan memiliki panas yang agak tinggi, polutan dapat tersebar 
lebih tinggi sesuai dengan kandungan panas yang dimilikinya.

Proses lain yang penting adalah fumigasi, dimana proses ini diawali dengan 
berkumpulnya partikel polutan dibawah lapisan udara stabil (beberapa ratus 
meter diatas bumi) pada malam hari. Ketika pagi harinya sinar matahari mulai 
menghangatkan udara diatas permukaan bumi, proses konveksi termal mulai terjadi 
dan ini menyebabkan timbulnya aliran udara dari yang lebih tinggi ke permukaan 
bumi diikuti dengan partikel polutan yang juga turun dengan cepat.

Awan, adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada penyebaran polutan. Ketika 
partikel polutan berdifusi di udara yang cerah (tanpa awan), polutan berpindah 
/ mengalir pada kesetimbangannya dengan ketinggian rata-rata tertentu (sesuai 
dengan prinsip buoyancy). Tapi, jika polutan tersebut melintasi awan dan 
bercampur dengannya, maka polutan mungkin tersebar ke tempat yang lebih jauh 
bersama awan atau sebaliknya mengalami fumigasi karena tingkat polusinya begitu 
tinggi.

Karena itulah polusi dari cerobong pabrik dapat terjadi begitu tinggi pada 
suatu hari, dan hampir tak terdeteksi pada hari lainnya, sekalipun laju aliran 
gas-buang cerobong tetap sama. Begitupula efek polusi cerobong pabrik saat 
disinari matahari, polutan lebih tersebar luas pada aliran angin tenang 
dibanding aliran angin kuat.

Kuantitas yang dapat digunakan untuk menganalisis proses polusi adalah, 
frekuensi kejadian polusi dari satu arah angin pada suatu keadaan angin (aliran 
tenang atau aliran kuat) dan frekuensi terjadinya aliran angin tenang dengan 
aliran kuat pada suatu kawasan, pada arah angin yang mana frekuensinya 
tertinggi. 

Berbagai studi yang membahas dinamika dan karakteristik partikel partikel 
berukuran kecil yang tersuspensi di dalam sistem udara atmosfir telah menjadi 
suatu hal yang penting, karena besarnya efek masalah polusi udara dan adanya 
keinginan yang besar untuk mengontrol emisinya. Jenis partikel yang biasa 
tersuspensi di dalam udara atmofir dapat berasal dari asap gas buang, debu, 
butiran kabut dan lain lain, dan pada umumnya partikel tersebut mempunyai 
ukuran yang bervariasi dari mulai mikron atau mikrometer diameternya sampai 
beberapa puluh mikron. Namun demikian pada umumnya yang termasuk golongan 
partikel berukuran kecil di dalam sistem udara atmosfir adalah yang berdiameter 
rata rata lebih kecil dari 5 mikron.

Dari segi kronologis, umumnya partikel atmosfir terdiri dari partikel primer, 
di mana bentuknya telah final, dan partikel sekunder. Partikel sekunder 
biasanya terbentuk dari interaksi yang berupa reaksi kimia atau kondensasi dari 
beberapa jenis partikel primer. Partikel sekunder umumnya berukuran lebih 
kecil, dan cenderung tersuspensi di dalam udara atmosfir untuk jangka waktu 
yang cukup panjang. 

Kumpulan partikel yang biasa terdapat di udara atmosfir mempunyai beberapa 
bentuk dan karakteristiknya berbeda-beda. Bentuk yang pertama adalah mists, 
yaitu berupa tetesan tetesan cair yang terbentuk dari proses kondensasi uap air 
atau dapat pula berasal dari dispersi aerosol. Kebanyakan partikel dalam bentuk 
ini berukuran lebih besar dari 5 mikron, dan apabila konsentrasinya tinggi 
biasa disebut fog. Bentuk yang lainnya adalah dust (asap), yang berupa dispersi 
aerosol padat yang berasal dari sumber alam atau dari buangan proses industri. 
Ukuran partikelnya bervariasi dari beberapa mikron sampai dengan ratusan 
mikron. Kemudian smoke, yang umumnya berupa partikel partikel padat dan cair 
yang berasal dari proses kondensasi uap air jenuh. Sedangkan fumes adalah jenis 
asap yang berasal dari gas sisa pembakaran, termasuk kondensasi unsur logam 
ataupun dari uap oksida logam.

Pada kondisi standar di dalam sistem udara atmosfir biasanya terdapat beberapa 
daerah ukuran partikel, yaitu regime molekul bebas di mana ukuran partikelnya 
lebih kecil dari 0,01 mikron, regime transisi dengan ukuran partikel antara 
0,01 mikron sampai dengan 0,4 mikron, regime aliran slip dengan ukuran 
partikelnya lebih besar dari 0,4 mikron, dan regime kontinuum dengan ukuran 
partikelnya lebih besar dari 1,3 mikron. 

Di dalam sistem tersebut gerak relatif antara partikel dengan molekul molekul 
udara biasanya cukup kecil, dan kecepatan aliran udaranya biasanya di bawah 
kecepatan akustik (340 m/s). Pada kondisi tersebut udara dapat dianggap 
inkompresibel. Selain itu massa jenis dan komposisinya juga dapat dianggap 
konstan (udara isotropik). Oleh karena itu partikel partikel berukuran kecil di 
dalam udara atmosfir umumnya mempunyai bilangan Mach lebih kecil dari satu dan 
bilangan Reynolds partikelnya kecil sekali.

Migrasi kumpulan partikel di dalam sistem udara atmosfir selalu dipengaruhi 
oleh gaya gaya luar, yakni gaya tahanan terhadap fluida, dan interaksi di 
antara keduanya. Apabila gaya gravitasi (bouyancy force) yang bekerja pada 
partikel lebih dominan maka mekanisme migrasi partikelnya biasa disebut 
sedimentasi. Sedangkan apabila medan elektrostatisnya dominan maka migrasi 
partikelnya disebut elektrophoresis. Di dalam sistem udara atmosfir sering 
muncul adanya gradien temperatur yang menyebabkan migrasi partikel dipercepat 
oleh gaya thermophoresis yang membombardir partikel berukuran kecil untuk 
bermigrasi ke daerah yang bertemperatur lebih rendah. 

Upaya - upaya Penting untuk Mengurangi Polusi Udara 
1. Modifikasi mesin pembakar untuk mengurangi jumlah polutan yang terbentuk  
sepanjang proses pembakaran.
2. Pengembangan sumber tenaga yang rendah polusi untuk menggantikan mesin 
pembakaran yang ada.
3. Pengembangan substitusi bahan bakar untuk bensin dan solar sehingga 
menghasilkan polutan dengan konsentrasi rendah sepanjang proses pembakaran (bio 
gasoline dan bio diesel).
4. Pengembangan reaktor sistem pembuangan sehingga proses pembakaran 
berlangsung lebih sempurna dan polutan yang berbahaya diubah menjadi polutan 
yang lebih aman.
5. Membersihkan gas buang dari senyawa - senyawa beracun denganmenggunakan 
katalisator, seperti platinum dan palladium.
6. Perawatan kendaraan bermotor dengan jalan mengecek kandungan gas buang yang 
beracun setiap 6 bulan atau 12 bulan sekali.
7. Menghindari cara pemakaian kendaraan yang justru menghasilkan polutan yang 
tinggi. Sebagai misal: menggeber - geber pedal gas.

Teknologi Pengurangan Emisi SO2
Prinsip pengurangan emisi SO2 meliputi penggunaan bahan bakar berkadar sulfur 
rendah; pengurangan atau penghilangan sulfur dalam pengumpanan; menggunakan 
teknik pembakaran yang tepat; dan teknologi pengaturan emisi seperti injeksi 
sorben dan desulfurisasi gas buang. 
Ada dua metoda untuk mengatur emisi yaitu injeksi sorben dan desulfurisasi gas 
buang. Injeksi sorben meliputi penambahan komponen alkali ke dalam gas 
pembakaran batubara untuk bereaksi dengan sulfur dioksida. Sorben kalsium yang 
umum dipakai meliputi kapur dan variasi kapur.  Untuk metoda injeksi sorben ini 
dapat mengurangi emisi SO2 antara 30 sampai 60%. 

Desulfurisasi gas buang bisa dilakukan dalam dua kategori dasar: sistem 
regeneratif dan sistem throwaway (dibuang). Kedua metoda ini bisa berupa proses 
kering maupun basah. Desulfurisasi yang terpasang saat ini kebanyakan dari 
sistem throwaway dengan proses basah. Untuk kondisi bahan bakar di Indonesia 
dengan mempertimbangkan kadar sulfur yang relatif rendah dan pertimbangan biaya 
investasi yang terjangkau maka injeksi sorben merupakan prioritas utama dalam 
pengendalian emisi SO2 .  

Sistem injeksi sorben pada boiler batubara dapat dikelompokkan ke dalam empat 
jenis:
- Injeksi sorben di tungku
- Injeksi sorben di ekonomiser
- Injeksi sorben di duct
- Injeksi sorben hibrid

Injeksi sorben di tungku adalah teknologi yang paling sederhana dimana sorben 
kering diinjeksikan pada bagian atas dari tungku untuk bereaksi dengan SO2 
dalam gas hasil pembakaran. Temperatur kerja jenis ini antara 750 - 1250oC. 
Sebagai sorben dapat digunakan batu kapur (limestone) CaCO3 atau kapur 
hidroksida Ca(OH)2. Sampai dengan temperatur 750oC sorben akan bereaksi dengan 
SO2 dan O2 membentuk CaSO4 yang akan ditangkap oleh Electrostatic Precipitator 
ataupun Fabric Filter. Bila temperatur melebihi 1250oC maka akan terjadi 
sintering pada sorben yang akan menutup pori-porinya sehingga menyebabkan 
berkurangnya daya reaktiv dari sorben tersebut. Pada temperatur di bawah 750oC 
reaksi secara praktis terhenti. Efisiensi penangkapan bisa mencapai 50%.

Injeksi Sorben di Ekonomiser menggunakan kapur hidroksida sebagai sorben. 
Temperatur reaksi terjadi antara 300 - 650oC. Hasil reaksi sorben dengan SO2 
yang terbentuk adalah CaSO3.

Injeksi Sorben di Duct terjadi pada temperatur sekitar 150oC dimana diperlukan 
humidifier untuk gas buang. Efisiensi penangkapan SO2 dilaporkan berkisar 80% 
untuk instalasi skala penuh. Sebagai sorben digunakan Ca(OH)2.

Injeksi Sorben Hibrid merupakan gabungan antara injeksi sorben di tungku dan 
injeksi sorben di duct bertujuan untuk menaikkan efisiensi penangkapan SO2.

Dengan pertimbangan biaya operasional maka dipilih sistem injeksi sorben hibrid 
dengan menggunakan sorben berupa batu kapur yang secara proses akan terjadi 
kalsinasi yang merubah batu kapur menjadi kapur sebagai sorben pada tahap di 
duct. Penelitian bertujuan mencari kondisi optimal dari ukuran partikel sorben 
dan perbandingan kuantitas sorben dengan kandungan sulfur dalam batubara. 
Selain itu dengan mempertimbangkan kendala operasional yang berupa slagging dan 
fouling yang umum terjadi pada operasional boiler batubara, maka injeksi sorben 
ini seharusnya tidak menimbulkan masalah baru berkaitan dengan kendala tersebut.

===========================================================================
The Balinese believe that three factors are crucial to a person's well-being, 
happiness and health: Bhuwana Alit which is made up of individual persons 
(atman), Bhuwana Agung which comprises the universe (prkrti), the supreme God 
(Hyang Widhi/Paramatman). 
===========================================================================

Kirim email ke