Ketika orang - orang pada mikirin global warming, saya mengajak peduli pada local climate change.
Propinsi Bali secara geografis berada pada posisi yang tepat untuk dijadikan obyek kajian dalam bidang atmospheric environment, khususnya untuk mengkaji perubahan iklim pada lingkungan lokal. Luas daratan yang sangat kecil bila dibandingkan dengan luas perairan yang mengelilinginya akan menyebabkan tingginya laju pertukaran panas dari lingkungan global ke lingkungan lokal, sehingga pusat perhatian dari kajian adalah pada ketinggian di bawah 200 m. Ketinggian ini selanjutnya yang dipakai sebagai atmospheric surface layer, yang mencakup pola aliran udara, pola penataan di permukaan, nilai ambang batas dari parameter pencemar lingkungan dan koreksi yang harus dilakukan untuk mengurangi perubahan iklim secara dramatis, serta dampak polusi dan perubahan iklim terhadap kesehatan, kenyamanan dan respon makhluk hidup. Menimbang bahwa udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya yang harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya untuk pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan manusia serta perlindungan bagi makhluk hidup lainnya, maka udara perlu dipelihara, dijaga dan dijamin mutunya melalui pengendalian pencemaran udara. Pengendalian pencemaran udara adalah upaya pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran udara serta pemulihan mutu udara. Udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada pada wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Pengendalian pencemaran udara mencakup kegiatan - kegiatan yang berintikan: 1. Inventarisasi kualitas udara di daerah dengan mempertimbangkan berbagai kriteria yang ada dalam pengendalian pencemaran udara 2. Penetapan baku mutu udara ambien dan baku mutu emisi yang digunakan sebagai tolok ukur pengendalian pencemaran udara 3. Penetapan mutu kualitas udara di suatu daerah termasuk perencanaan kegiatan yang berdampak pada pencemaran udara 4. Pemantauan kualitas udara baik ambien dan emisi yang diikuti dengan evaluasi dan analisis 5. Pengawasan terhadap pencemaran udara 6. Peran serta masyarakat terhadap pengendalian pencemaran udara 7. Kebijakan bahan bakar yang diikuti dengan serangkaian kegiatan terpadu dengan mengacu kepada bahan bakar bersih dan ramah lingkungan 8. Penetapan kebijakan teknis dan non teknis dalam pengendalian pencemaran udara Iklim lokal sangat dipengaruhi oleh kondisi - kondisi peruntukan tanah, karenanya peruntukan tanah dan kalor yang dilepaskan haruslah menjadi kajian utama dalam penataan wilayah, terlebih dengan adanya perubahan pada lingkungan global. Pemanasan global telah berdampak pada berubahnya lingkungan sekitar, hal ini bukan saja berakibat pada semakin meningkatnya temperatur lingkungan menyeluruh (global ambien temperature), tetapi juga berubahnya kondisi cuaca pada lingkungan lokal (local environment). Pada konferensi internasional Earth Summit 1992, telah disepakati adanya berbagai usaha untuk menjembatani upaya - upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah (dalam hal ini sebagai pemegang kebijakan) dengan berbagai pihak, dalam upaya untuk mengurangi persoalan - persoalan yang berkaitan dengan lingkungan hidup internasional. Ada dua hal kritis yang perlu ditengarai dalam upaya perbaikan lingkungan hidup, yakni adanya penghancuran lapisan ozon dan emisi gas karbon dioksida yang di luar kontrol. Pengontrolan terhadap kedua parameter di atas akan berdampak pada semakin berkurangnya efek rumah kaca pada lingkungan lokal. Pada tahun 1996, Houghton et al telah memprediksikan, bahwa setelah satu dasawarsa harus ada satu konsensus bagi para ilmuwan tentang pengaturan lingkungan atmosfer, karena peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfer akan menaikkan temperatur global. Peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfer dalam jumlah dua kali lipat, akan menaikkan temperatur global sekitar 1 s/d 3.5 C pada tahun 2100. Pada tahun 1996, Alcamo dan Kreileman juga telah memprediksikan beberapa indikator untuk mengurangi perubahan cuaca secara global, yakni dengan jalan mempertahankan perubahan temperatur sebesar 0.1 C setiap satu dasawarsa. Laju perubahan temperatur adalah sebuah indikator terhadap kenaikan dari emisi gas buang. Posch et al pada tahun 1996 juga telah menganalisa terhadap perubahan temperatur oleh senyawa belerang. Temperatur global rata - rata telah diprediksikan akan meningkat sekitar 2.8 C pada tahun 2100, atau sekitar 0.2 C setiap satu dasawarsa. J. B. Smith pada tahun 1997 juga telah memproyeksikan harus adanya antisipasi terhadap perubahan lingkungan lokal, karena kebutuhan energi pendinginan akan meningkat tajam di masa yang akan datang. Emisi dari efek rumah kaca harus dapat diminimalkan sehingga konsumsi energi yang diperlukan dapat dikurangi hingga mencapai batas yang dapat diterima (acceptable level). Perubahan landscape pada lingkungan lokal juga menjadi suatu tinjauan yang penting. Hasil penelitian dari Kuo et al pada tahun 1998 telah menyiratkan adanya interaksi langsung antara kerapatan massa dari tanaman dan pepohonan terhadap kenyamanan termis (thermal comfort) dan kesehatan dari penghuni. Aktivitas manusia di Bumi kini telah semakin diyakini berakibat pada meningkatnya suhu permukaan. Levitus, dari National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) di Silver Spring, Maryland, dan Tim Barnett dari Scripps Institute of Oceanography di La Jolla, California mengatakan bahwa pemanasan di lautan merupakan bukti yang makin menguatkan akan adanya pemanasan global tersebut, dimana rata-rata peningkatan temperatur di Lautan Atlantik, Lautan Pasifik dan Lautan India mencapai 0,06 derajat celcius sejak tahun 1955. Berpijak dari kenyataan tersebut di atas, berubahnya kondisi cuaca pada lingkungan lokal perlu mendapat kajian yang mendalam, terlebih karena propinsi Bali tidak memiliki sumber energi untuk mengantisipasi beban pendinginan (cooling load) di masa yang akan datang, memiliki kerapatan penduduk yang sangat tinggi dan kurangnya sarana pendukung untuk mengatisipasi perubahan tersebut khususnya upaya untuk menjaga kesehatan, respon dan kenyamanan masyarakat. Kajian terhadap perubahan iklim seperti yang telah dinyatakan oleh para ilmuwan di atas, lebih menitik beratkan pada kondisi di atmosfernya (lapisan stratosfer) serta mengabaikan parameter yang justru ada pada lapisan permukaan (ground surface). Bagi para ilmuwan, aplikasi lapis batas udara pada ketinggian di bawah 200 m justru menjadi pusat perhatian, karena pada ketinggian inilah segala aliran udara menjadi fully aerodynamically rough, horizontally homogeneous, serta relatif bebas dari gradien tekanan. Karenanya, ketinggian 200 m adalah ketinggian dari atmospheric surface layer khususnya untuk mengantisipasi efek pemanasan global. Beberapa variasi dari turbulensi udara khususnya saat aliran udara bersifat anisotropik belum banyak ditinjau oleh para ilmuwan. Difusi turbulensi akibat adanya panas di permukaan (ground surface) menjadi fenomena yang sangat menarik, karena baik intensitas turbulensi dan laju perpindahan panas sangatlah dipengaruhi oleh kondisi permukaan tersebut. Terlebih karena intensitas turbulensi erat kaitannya dengan sirkulasi angin dan kecepatan angin yang berhembus baik di wilayah pemukiman maupun pertanian. Menimbang hal tersebut di atas, pencemaran udara dan perubahan iklim -dalam skala menengah- di Bali harus terus dikaji dengan menggunakan model turbulensi tertutup untuk aliran geo-fisika dimana kajian tersebut didasarkan pada arah angin, temperatur permukaan tanah, temperatur permukaan air, energi kinetik turbulensi, profil temperatur potensial, kelembaban relatif dan rasio percampuran dari uap air di udara pada ketinggian di bawah 200 m. Untuk mengamati perubahan iklim di wilayah pemukiman dan pertanian maka permukaan tanah diklasifikasikan ke dalam 12 jenis, dengan menggabungkan parameter permukaan seperti halnya albedo, roughness length, soil moisture availability dan artificial heat release karena kegiatan manusia. Kajian terhadap nilai ambang batas dari sumber - sumber polusi udara sangat diperlukan dan dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pencemaran terhadap perubahan iklim. Kajian tersebut juga diperlukan untuk mengetahui dampaknya terhadap kesehatan, kenyamanan dan respon masyarakat. Nilai ambang batas baik emisi maupun ambien di atmosfer pada ketinggian di bawah 200 m ini harus dikoreksi kembali, untuk mengantisipasi berubahnya iklim di lingkungan lokal secara dramatis. Data yang Diperlukan dan Kegunaannya · Data yang berkaitan dengan pengaturan lahan dan tata ruang akan dipergunakan untuk menganalisa karakteristik permukaan (ground surface characteristics). · Data yang berkaitan dengan fenomena aliran udara baik saat bersifat isotropik maupun anisotropik, arah angin, kecepatan angin, energi kinetik dan intensitas turbulensi dipergunakan untuk menganalisa karakteristik aliran udara dan sifat - sifat fisis yang akan dihasilkan. · Data yang berkaitan dengan temperatur permukaan tanah, temperatur permukaan air, profil temperatur potensial, kelembaban relatif, rasio percampuran dari uap air di udara dan difusi turbulensi akibat adanya panas di permukaan (ground surface) akan digunakan untuk menganalisa karakteristik aliran udara dan sifat - sifat fisis yang akan dihasilkan akibat adanya perubahan pada permukaan. · Data yang berkaitan dengan nilai Overall Thermal Temperature Value, Predicted Mean Vote, Percentage of Dissatisfied , kenyamanan termis, respon dan kesehatan masyarakat akan dipergunakan untuk menganalisa tingkat kenyamanan masyarakat, baik sebagai akibat dari adanya kesalahan dalam penataan gedung/ruang/lahan, akibat terlampauinya nilai ambang batas partikel polusi, maupun akibat adanya perubahan iklim di lingkungan lokal. · Data yang berkaitan dengan nilai konsentrasi dari sumber - sumber polusi (tanah, air dan udara) akan dipergunakan untuk menganalisa dampak yang akan dihasilkannya terhadap lingkungan, material (sarana dan prasarana fisik), respon dan kesehatan masyarakat, perubahan pada fenomena aliran udara dan iklim di lingkungan lokal. · Data yang berkaitan dengan simulasi dari fenomena aliran udara dengan variasi terhadap parameter artificial heat release, polutan dan partikel dispersi akan dipergunakan untuk menganalisa langkah - langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi perubahan iklim di lingkungan lokal secara signifikan. Fenomena Pergerakan Udara di Atmosfir Banyak faktor yang berpengaruh pada proses penyebaran polutan udara, yakni kecepatan dan keadaan aliran udara (angin) di atmosfir bumi. Perilakunya juga dipengaruhi oleh parameter suhu, kecepatan aliran dan massa jenis. Pada atmosfir rendah yakni lapisan udara dengan ketinggian kurang dari 10 m, udara atmosfir sangat dipengaruhi suhu permukaan bumi. Panas yang diterima permukaan bumi dari sinar matahari akan diradiasikan ke udara diatasnya dan terjadilah proses konveksi termal. Proses ini selanjutnya menyebabkan perputaran / perpindahan udara, menuju keadaan kesetimbangan yang suhunya seragam. Karena itu udara disebut sebagai udara stabil, netral atau tak-stabil. Jika laju penurunan suhunya berlangsung secara lambat maka udara disebut stabil. Kondisi ini disebut juga sebagai kondisi isotropic dimana perubahan sifat fisika dari udara adalah tetap. Jika laju penurunan suhu berlangsung merata maka disebut sebagai udara netral, dan jika berlangsung cepat maka udara tak-stabil. Keadaan udara netral disebut pula dry adiabatic lapse rate (laju penurunan adiabatic kering), dimana laju penurunannya biasanya konstan, sekitar 1o C per 100 m. .....bersambung =========================================================================== The Balinese believe that three factors are crucial to a person's well-being, happiness and health: Bhuwana Alit which is made up of individual persons (atman), Bhuwana Agung which comprises the universe (prkrti), the supreme God (Hyang Widhi/Paramatman). ===========================================================================
