Menarik sekali Pak Wijaya,
setelah saya baca, rasanya potensi untuk mengembangkan suatu "technocratic
planning". Kata kuncinya adalah Kendali (Control).
Yang harus jadi perhatian bagi masyarakat Peneliti dan Perencana adalah Data
dan Reliability.
Sebelum Bab II, saya catat lengkap tentang : The Balinese believe that three
factors are crucial to a person's well-being, happiness and health: Bhuwana
Alit which is made up of individual persons (atman), Bhuwana Agung which
comprises the universe (prkrti), the supreme God (Hyang Widhi/ Paramatman).
Wass: Tjahjo-
wijaya_kusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ketika orang - orang pada
mikirin global warming, saya mengajak peduli pada local climate change.
Propinsi Bali secara geografis berada pada posisi yang tepat untuk dijadikan
obyek kajian dalam bidang atmospheric environment, khususnya untuk mengkaji
perubahan iklim pada lingkungan lokal. Luas daratan yang sangat kecil bila
dibandingkan dengan luas perairan yang mengelilinginya akan menyebabkan
tingginya laju pertukaran panas dari lingkungan global ke lingkungan lokal,
sehingga pusat perhatian dari kajian adalah pada ketinggian di bawah 200 m.
Ketinggian ini selanjutnya yang dipakai sebagai atmospheric surface layer,
yang mencakup pola aliran udara, pola penataan di permukaan, nilai ambang
batas dari parameter pencemar lingkungan dan koreksi yang harus dilakukan
untuk mengurangi perubahan iklim secara dramatis, serta dampak polusi dan
perubahan iklim terhadap kesehatan, kenyamanan dan respon makhluk hidup.
Menimbang bahwa udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan
manusia serta makhluk hidup lainnya yang harus dijaga dan dipelihara
kelestarian fungsinya untuk pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan manusia
serta perlindungan bagi makhluk hidup lainnya, maka udara perlu dipelihara,
dijaga dan dijamin mutunya melalui pengendalian pencemaran udara.
Pengendalian pencemaran udara adalah upaya pencegahan dan/atau penanggulangan
pencemaran udara serta pemulihan mutu udara. Udara ambien adalah udara bebas
di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada pada wilayah yurisdiksi
Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk
hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya.
Pengendalian pencemaran udara mencakup kegiatan - kegiatan yang berintikan:
1. Inventarisasi kualitas udara di daerah dengan mempertimbangkan berbagai
kriteria yang ada dalam pengendalian pencemaran udara
2. Penetapan baku mutu udara ambien dan baku mutu emisi yang digunakan sebagai
tolok ukur pengendalian pencemaran udara
3. Penetapan mutu kualitas udara di suatu daerah termasuk perencanaan kegiatan
yang berdampak pada pencemaran udara
4. Pemantauan kualitas udara baik ambien dan emisi yang diikuti dengan
evaluasi dan analisis
5. Pengawasan terhadap pencemaran udara
6. Peran serta masyarakat terhadap pengendalian pencemaran udara
7. Kebijakan bahan bakar yang diikuti dengan serangkaian kegiatan terpadu
dengan mengacu kepada bahan bakar bersih dan ramah lingkungan
8. Penetapan kebijakan teknis dan non teknis dalam pengendalian pencemaran
udara
Iklim lokal sangat dipengaruhi oleh kondisi - kondisi peruntukan tanah,
karenanya peruntukan tanah dan kalor yang dilepaskan haruslah menjadi kajian
utama dalam penataan wilayah, terlebih dengan adanya perubahan pada lingkungan
global.
Pemanasan global telah berdampak pada berubahnya lingkungan sekitar, hal ini
bukan saja berakibat pada semakin meningkatnya temperatur lingkungan
menyeluruh (global ambien temperature), tetapi juga berubahnya kondisi cuaca
pada lingkungan lokal (local environment).
Pada konferensi internasional Earth Summit 1992, telah disepakati adanya
berbagai usaha untuk menjembatani upaya - upaya yang harus dilakukan oleh
pemerintah (dalam hal ini sebagai pemegang kebijakan) dengan berbagai pihak,
dalam upaya untuk mengurangi persoalan - persoalan yang berkaitan dengan
lingkungan hidup internasional.
Ada dua hal kritis yang perlu ditengarai dalam upaya perbaikan lingkungan
hidup, yakni adanya penghancuran lapisan ozon dan emisi gas karbon dioksida
yang di luar kontrol. Pengontrolan terhadap kedua parameter di atas akan
berdampak pada semakin berkurangnya efek rumah kaca pada lingkungan lokal.
Pada tahun 1996, Houghton et al telah memprediksikan, bahwa setelah satu
dasawarsa harus ada satu konsensus bagi para ilmuwan tentang pengaturan
lingkungan atmosfer, karena peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida di
atmosfer akan menaikkan temperatur global. Peningkatan konsentrasi gas karbon
dioksida di atmosfer dalam jumlah dua kali lipat, akan menaikkan temperatur
global sekitar 1 s/d 3.5 C pada tahun 2100.
Pada tahun 1996, Alcamo dan Kreileman juga telah memprediksikan beberapa
indikator untuk mengurangi perubahan cuaca secara global, yakni dengan jalan
mempertahankan perubahan temperatur sebesar 0.1 C setiap satu dasawarsa. Laju
perubahan temperatur adalah sebuah indikator terhadap kenaikan dari emisi gas
buang. Posch et al pada tahun 1996 juga telah menganalisa terhadap perubahan
temperatur oleh senyawa belerang. Temperatur global rata - rata telah
diprediksikan akan meningkat sekitar 2.8 C pada tahun 2100, atau sekitar 0.2
C setiap satu dasawarsa.
J. B. Smith pada tahun 1997 juga telah memproyeksikan harus adanya antisipasi
terhadap perubahan lingkungan lokal, karena kebutuhan energi pendinginan akan
meningkat tajam di masa yang akan datang. Emisi dari efek rumah kaca harus
dapat diminimalkan sehingga konsumsi energi yang diperlukan dapat dikurangi
hingga mencapai batas yang dapat diterima (acceptable level).
Perubahan landscape pada lingkungan lokal juga menjadi suatu tinjauan yang
penting. Hasil penelitian dari Kuo et al pada tahun 1998 telah menyiratkan
adanya interaksi langsung antara kerapatan massa dari tanaman dan pepohonan
terhadap kenyamanan termis (thermal comfort) dan kesehatan dari penghuni.
Aktivitas manusia di Bumi kini telah semakin diyakini berakibat pada
meningkatnya suhu permukaan. Levitus, dari National Oceanographic and
Atmospheric Administration (NOAA) di Silver Spring, Maryland, dan Tim Barnett
dari Scripps Institute of Oceanography di La Jolla, California mengatakan
bahwa pemanasan di lautan merupakan bukti yang makin menguatkan akan adanya
pemanasan global tersebut, dimana rata-rata peningkatan temperatur di Lautan
Atlantik, Lautan Pasifik dan Lautan India mencapai 0,06 derajat celcius sejak
tahun 1955.
Berpijak dari kenyataan tersebut di atas, berubahnya kondisi cuaca pada
lingkungan lokal perlu mendapat kajian yang mendalam, terlebih karena propinsi
Bali tidak memiliki sumber energi untuk mengantisipasi beban pendinginan
(cooling load) di masa yang akan datang, memiliki kerapatan penduduk yang
sangat tinggi dan kurangnya sarana pendukung untuk mengatisipasi perubahan
tersebut khususnya upaya untuk menjaga kesehatan, respon dan kenyamanan
masyarakat.
Kajian terhadap perubahan iklim seperti yang telah dinyatakan oleh para
ilmuwan di atas, lebih menitik beratkan pada kondisi di atmosfernya (lapisan
stratosfer) serta mengabaikan parameter yang justru ada pada lapisan permukaan
(ground surface).
Bagi para ilmuwan, aplikasi lapis batas udara pada ketinggian di bawah 200 m
justru menjadi pusat perhatian, karena pada ketinggian inilah segala aliran
udara menjadi fully aerodynamically rough, horizontally homogeneous, serta
relatif bebas dari gradien tekanan. Karenanya, ketinggian 200 m adalah
ketinggian dari atmospheric surface layer khususnya untuk mengantisipasi efek
pemanasan global.
Beberapa variasi dari turbulensi udara khususnya saat aliran udara bersifat
anisotropik belum banyak ditinjau oleh para ilmuwan. Difusi turbulensi akibat
adanya panas di permukaan (ground surface) menjadi fenomena yang sangat
menarik, karena baik intensitas turbulensi dan laju perpindahan panas
sangatlah dipengaruhi oleh kondisi permukaan tersebut. Terlebih karena
intensitas turbulensi erat kaitannya dengan sirkulasi angin dan kecepatan
angin yang berhembus baik di wilayah pemukiman maupun pertanian.
Menimbang hal tersebut di atas, pencemaran udara dan perubahan iklim -dalam
skala menengah- di Bali harus terus dikaji dengan menggunakan model turbulensi
tertutup untuk aliran geo-fisika dimana kajian tersebut didasarkan pada arah
angin, temperatur permukaan tanah, temperatur permukaan air, energi kinetik
turbulensi, profil temperatur potensial, kelembaban relatif dan rasio
percampuran dari uap air di udara pada ketinggian di bawah 200 m.
Untuk mengamati perubahan iklim di wilayah pemukiman dan pertanian maka
permukaan tanah diklasifikasikan ke dalam 12 jenis, dengan menggabungkan
parameter permukaan seperti halnya albedo, roughness length, soil moisture
availability dan artificial heat release karena kegiatan manusia.
Kajian terhadap nilai ambang batas dari sumber - sumber polusi udara sangat
diperlukan dan dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat
pencemaran terhadap perubahan iklim. Kajian tersebut juga diperlukan untuk
mengetahui dampaknya terhadap kesehatan, kenyamanan dan respon masyarakat.
Nilai ambang batas baik emisi maupun ambien di atmosfer pada ketinggian di
bawah 200 m ini harus dikoreksi kembali, untuk mengantisipasi berubahnya iklim
di lingkungan lokal secara dramatis.
Data yang Diperlukan dan Kegunaannya
· Data yang berkaitan dengan pengaturan lahan dan tata ruang akan dipergunakan
untuk menganalisa karakteristik permukaan (ground surface characteristics).
· Data yang berkaitan dengan fenomena aliran udara baik saat bersifat
isotropik maupun anisotropik, arah angin, kecepatan angin, energi kinetik dan
intensitas turbulensi dipergunakan untuk menganalisa karakteristik aliran udara
dan sifat - sifat fisis yang akan dihasilkan.
· Data yang berkaitan dengan temperatur permukaan tanah, temperatur permukaan
air, profil temperatur potensial, kelembaban relatif, rasio percampuran dari
uap air di udara dan difusi turbulensi akibat adanya panas di permukaan
(ground surface) akan digunakan untuk menganalisa karakteristik aliran udara
dan sifat - sifat fisis yang akan dihasilkan akibat adanya perubahan pada
permukaan.
· Data yang berkaitan dengan nilai Overall Thermal Temperature Value,
Predicted Mean Vote, Percentage of Dissatisfied , kenyamanan termis, respon
dan kesehatan masyarakat akan dipergunakan untuk menganalisa tingkat
kenyamanan masyarakat, baik sebagai akibat dari adanya kesalahan dalam
penataan gedung/ruang/lahan, akibat terlampauinya nilai ambang batas partikel
polusi, maupun akibat adanya perubahan iklim di lingkungan lokal.
· Data yang berkaitan dengan nilai konsentrasi dari sumber - sumber polusi
(tanah, air dan udara) akan dipergunakan untuk menganalisa dampak yang akan
dihasilkannya terhadap lingkungan, material (sarana dan prasarana fisik),
respon dan kesehatan masyarakat, perubahan pada fenomena aliran udara dan
iklim di lingkungan lokal.
· Data yang berkaitan dengan simulasi dari fenomena aliran udara dengan
variasi terhadap parameter artificial heat release, polutan dan partikel
dispersi akan dipergunakan untuk menganalisa langkah - langkah yang harus
dilakukan untuk mengurangi perubahan iklim di lingkungan lokal secara
signifikan.
Fenomena Pergerakan Udara di Atmosfir
Banyak faktor yang berpengaruh pada proses penyebaran polutan udara, yakni
kecepatan dan keadaan aliran udara (angin) di atmosfir bumi. Perilakunya juga
dipengaruhi oleh parameter suhu, kecepatan aliran dan massa jenis.
Pada atmosfir rendah yakni lapisan udara dengan ketinggian kurang dari 10 m,
udara atmosfir sangat dipengaruhi suhu permukaan bumi. Panas yang diterima
permukaan bumi dari sinar matahari akan diradiasikan ke udara diatasnya dan
terjadilah proses konveksi termal. Proses ini selanjutnya menyebabkan
perputaran / perpindahan udara, menuju keadaan kesetimbangan yang suhunya
seragam. Karena itu udara disebut sebagai udara stabil, netral atau
tak-stabil.
Jika laju penurunan suhunya berlangsung secara lambat maka udara disebut
stabil. Kondisi ini disebut juga sebagai kondisi isotropic dimana perubahan
sifat fisika dari udara adalah tetap. Jika laju penurunan suhu berlangsung
merata maka disebut sebagai udara netral, dan jika berlangsung cepat maka
udara tak-stabil. Keadaan udara netral disebut pula dry adiabatic lapse rate
(laju penurunan adiabatic kering), dimana laju penurunannya biasanya konstan,
sekitar 1o C per 100 m.
.....bersambung
===========================================================================
The Balinese believe that three factors are crucial to a person's well-being,
happiness and health: Bhuwana Alit which is made up of individual persons
(atman), Bhuwana Agung which comprises the universe (prkrti), the supreme God
(Hyang Widhi/Paramatman).
===========================================================================
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.