Popo, Saya suka dengan audience kemarin, sedikit tapi fokus, dengan demikian apa yang saya coba sampaikan dalam film bisa lebih nyampe. Mengenai rencana kolaborasi Herry, Nyonyo dan Saya, menarik juga tuh...saya bisa share pengalaman bagaimana jadi sutradara dokumenter, Nyonyo bicara soal kamera, Herry bicara manajemen dan penyutradaraan iklan. Saya kira itu bisa di-follow up, rencanakan waktunya jauh2 hari. Mengenai acting, dimata saya sebagai documentary director Popo tidak perlu acting, apa yang Popo lakukan sehari2 kalo saya rekam sebagai sebuah film dokumenter itu sudah merupakan informasi yang mennarik sebagai sebuah film. Popo adalah aset Bali yang penting. Suatu saat kalau saya rekam kehidupan Popo dan saya jadikan sebuah film dokumenter pasti bisa menjadi film yang menarik, karena ada beberapa prasyarat dokumenter ada pada Popo, informatif, antara lain: menarik, unik, inspiring, dll. Saya terfikir hal ini ketika Popo ajak saya kerumahmu. Jadi jangan sekali-kali acting ya...dalam dokumenter itu dilarang...harus tampil sebagai diri sendiri... Tadi malam seorang senior di film Bang George Kamarullah meminta film itu untuk dibawa ke tvone (bekas lativi), kalau itu bisa tayang di tvone pasti akan sangat berarti buat saya. Paling tidak film itu bisa memberi inspirasi dalam membuat tayangan serupa di tvone, dengan demikian film itu sedah menjadi swadharma - bentuk pengabdian saya kepada masyarakat. Sekali lagi terimakasih banyak atas support yang sudah saya terima. Salam, Wira
2008/3/12 Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]>: > Bli Wira, > > Salah satu yang menjadi tugas kami disini, adalah memperkenalkan > asset-asset budaya Bali yang belum banyak diketahui masyarakat, anda adalah > salah satu yang paling berharga yang perlu diketahui dan dikenal. Masak tiap > hari baca koran di Bali headline-nya selalu tentang preman ini atau preman > itu. Budayawan atau pekerja super kreatif seperti bli Wira kan lebih > menyejukkan untuk diekspose, bahwa Bali masih berurusan dengan yang > indah-indah, bukan kekerasan semata. > > Cuman, style kita memang selalu seperti itu, lebih suka audience yang > kecil tapi berkualitas daripada audience yang besar tapi sing nawang kangin > kauh. Sampai kemarin saya masih dapat beberapa telpon dari teman yang tidak > sempat datang, menanyakan tentang acara itu. Tentang rencana bikin workshop > untuk film rumahan, akan saya bahas lebih lanjut sama Herry dan Nyonyo, > kedua orang ini juga semangat dengan gagasan itu. Paling tidak akan bikin > kita lebih sering bertemu. > > Tolong juga kasih tahu, kapan saya harus mulai belajar acting, ha ha ha ha > .... > > Salam, > pd > > > > > > > > > > On 3/10/08 7:10 PM, "wiranegara igp" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Wis, Popo. > > Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk memamerkan/screening > diskusi film saya di tempat anda berdua. Pertemuan semacam itu sangat > membantu saya dalam pengayaan wawasan, pandangan dan pengalaman artistik > yang sangat bermanfaat bagi kematangan saya dalam berkarya ke depan. Ucapan > terima kasih juga saya ucapkan kepada teman2 yang hadir atas pujian, > kritikan, saran, serta berbagai pandangan yang dapat menjadi bekal ke depan > dalam membuat karya2 saya selanjutnya. > Sekali lagi saya mengucapkan banyak tengkiu, matur sembah nuwun, hatur > nuhun serta matur suksma atas kesempatan yang baik bagi saya di singaraja > dan denpasar kemarin. > Salam hangat, > Wira > > >
