Yaaaaa..... di Bali memang belum waktunya perempuan jadi pemimpin, banyak 
sekali kendala nya, kekurangannya... pertama adalah karena memang tradisinya 
belum memungkinkan perempuan Bali di letakan sebagai pemimpin walaupun apa yang 
disebutkan tentang mengurus rumah tangga, ke sawah dan ke pasar atau yang di 
pasar pasar (berdagang).....semua sebuah kenyataan.

Konteksnya sebagai pemimpin dalam arti berdiri di depan sebagai pemimpin 
komunitas rasanya belum siap keduanya... yang perempuan dan yang laki-laki.  
perempuan di Bali punya kesempatan untuk dapat memimpin kelompok tetapi tidak 
secara keseluruhan.  Kehidupan perempuan di Bali masih sangat tergantung 
'pendapat' dari laki-lakinya atau laki-laki secara keseluruhan.  Tua atau muda, 
atau anak laki-laki di keluarga sekalipun.

Perempuan di Bali ketika punya kesempatan untuk 'maju' maka 'dia' kemudian 
bersiap siap untuk harus merasa 'harus melawan' atau 'harus lebih baik' dari 
laki-laki, walalupun hal itu sama sekali tidak perlu.  'Dia' masih merasa 
laki-laki sebagai saingannya, belum sebagai partner kerja atau hidupnya.  
Emosinya masih sangat tinggi dan ambisinya tidak dibarengi dengan strategi yang 
luwes.

Perempuan (di Bali)  masih membutuhkan Nafas yang teratur, Keseimbangan, dan 
Koordinasi.

Maaf kalau ada perempuan yang kurang berkenan dengan komentar saya.

Kita akan menuju 'kesana' di waktu yang tepat, tapi sekarang saya mengajak 
semua untuk berpikir dan bertindak realistis saja, karena ketika sudah waktunya 
maka pemimpin kedepan akan muncul dan yang penting adalah karena kebutuhan 
masyarakatnya.... perempuan... laki-laki... tua atau muda... yang penting 
berkompetensi.  Untuk itu perlu proses melalui penguatan masyarakat, untuk saat 
ini yang penting adalah jangan sampai ada orang lapar.... tidak bisa 
berpikir... 

salam,

vieb
  ----- Original Message ----- 
  From: lengkey 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, May 02, 2008 5:26 PM
  Subject: [bali] Re: TIME - April 2008 on Clean Energy Myth


  Ah, asal jangan Mbo Vieb. Tyang ndak setuju Mbo Vieb jadi Gebernur, nanti 
anak-anak siapa yang ngurus mancan Mbo sibuk ngiderin gumi.


  Wah...wah....wah....., kalau wanitapun tidak punya kesempatan untuk jadi 
Gubernur, saya kira RA. Kartini ikut menangis melihat perjuanganya yang menjadi 
sia-sia!. Mengapa laki-laki atau Ayah tidak mulai mengambil alih tugas menjaga 
anak-anak?, Apakah menjaga anak itu hanya tugas Wanita?...Saya melihat kesan 
menjaga anak adalah pekerjaan yang tak punya arti ditengah-tengah masyarakat. 
  Marilah kita saling membantu tugas-tugas mendidik anak, bukan jamannya lagi 
hanya Laki-laki bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, 
tetapi Wanita juga mampu untuk itu, bahkan mampu sekaligus untuk mengurus rumah 
tangga. Lihatlah kaum wanita kita diBali, mereka ikut kesawah, mereka menguasai 
pasar-pasar dan mereka juga tidak meninggalkan tugasnya mengurus rumah tangga. 
Mampukah kita seperti mereka.........!!!!!!

  Mari kita berikan support kepada kaum wanita kita agar mereka lebih maju dan 
berani mengambil tugas dan tanggung jawab yang lebih besar. Mbok Vieb...jangan 
mau kalah sama Hillary Clinton...!!!!!!
  Contohnya di Jerman juga Kanzlerinnya Wanita si Angela Merkel, nah baru 
wanita yang memimpin pengangguran turun dari 5 Juta sampai  hampir 3 juta. 
Belum ada lali laki yang berhasil menangani masalah ini.
  Coba ada 100 wanita yang seperti mbok Vieb ini diBali...............apa 
jadinya,..............saya....jadi bermimpi lagi....!!!!!!!

  Salam
  Th.Lengkey 
    ----- Original Message ----- 
    From: ngurah beni setiawan 
    To: [email protected] 
    Sent: Friday, May 02, 2008 2:52 AM
    Subject: [bali] Re: TIME - April 2008 on Clean Energy Myth


    Mbo Vieb,

    Betul mbo. Tyang hanya khawatir bahwa biofuel hanya menjadi kedok 
orang-orang teras untuk menunjukkan bahwa mereka peduli dengan alternatif 
energy. Di US sekarang petani lebih menyukaid menjual satu perlima panennya ke 
industri biofuel dibanding untuk pangan. Akhirnya pasokan pangan berkurang dan 
harga naik. Petani soybeans pun ikut-ikutan dengan beralih ke jagung karena 
tahu harganya tinggi.

    Brazil sudah kehilangan 300.000 hektar hutan hujan tropis dalam 6 bulan di 
2007, ini karena pengalihan fungsi hutan.

    Ini jelas-jelas ripple effect dari kampanye alternatif energy. Memang 
sulit, tetapi tyang lebih baik tetap force oil production dan perlahan-lahan 
mencari alternativ energy. Apa yang terjadi selama ini sepertinya serampangan 
dan berusaha dijadikan revolusi besar-besaran.

    Ya, akhirnya kita lebih mementingkan ngisi tangki kendaraan dibanding 
memikirkan pangan untuk perut kita.

    Jadi Gubernur? Itu cita-cita tyang sejak kecil mbo. Tapi mengutip 
kata-kata- bli popo ke tyang "it's not the right time to make a movement" 
kenten kocap.
    Sepertinya cita-cita itu tyang kubur aja dulu deh. Ingin menikmati menjadi 
penonton sembari nyrumput teh manis di pojokan.

    Mbo coba tawarin Pak De jadi gebernur. Kayaknya cocok Pak De jadi Gebernur. 
Atau Bli Popo? Ah, asal jangan Mbo Vieb. Tyang ndak setuju Mbo Vieb jadi 
Gebernur, nanti anak-anak siapa yang ngurus mancan Mbo sibuk ngiderin gumi.

    *Pak De, Bli Popo dan Mbo Vieb, namanya tyang pinjem hanya untuk tujuan 
mekedekan saja. Tidak lebih
     
    ngurah beni setiawan
    P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to



    ----- Original Message ----
    From: Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]>
    To: [email protected]
    Sent: Thursday, May 1, 2008 8:15:18 PM
    Subject: [bali] Re: TIME - April 2008 on Clean Energy Myth


    Eh Ben, mau jadi guberbur????? nggak ada duitnya, kalau jadi bupati baru 
banyak duitnya..... kalau mau lihat badung utara... wilayah plaga.... udah abis 
dibeli sama pejabat lama dan baru..... hehehe
      ----- Original Message ----- 
      From: ngurah beni setiawan 
      To: [email protected] 
      Cc: [EMAIL PROTECTED] 
      Sent: Thursday, May 01, 2008 4:00 PM
      Subject: [bali] TIME - April 2008 on Clean Energy Myth


      Om Suastiastu,



      Lama hanya penjadi pembaca pasif milis ini. Diskusi tentang calon 
independen menurut tyang sangat menarik.

      Akan tetapi, hari ini keasyikan membaca diskusi calon independen tyang 
agak terpinggirkan sedikit setelah mampir di toko majalah dan membeli TIME 
magazine yang biasanya tyang hanya melirik tabloid Bola.



      Ada yang menarik dari TIME edisi April. The Clean Energy Myth. Beberapa 
waktu yang lalu sering pula disinggung di milis tentang alternative energy. 
Terlebih kemarin setelah pidato khusus presiden SBY yang mengajak seluruh 
komponen bangsa ini untuk kembali ber-hemat energy terutama BBM mengingat harga 
minyak dunia yang menembus 120 USD/bbl. Harga ini hampiri 3 kali lipat 
dibanding ketika pemerintah menaikkan harga BBM sebelumnya.



      Apa yang disampaikan TIME edisi april ini mirip seperti posting tyang 
sebelumnya yang tyang ambil dari Cyber Kompas. Bahwa Biofuel sesungguhnya 
justru memperparah global warming dengan deforestation dan ditengarai sebagai 
penyebab krisis pangan dunia saat ini.



      Biofuel yang digunakan untuk mengisi tanki mobil SUV dengan etanol bisa 
digunakan untuk memberi makan manusia selama satu tahun. beberapa study 
menunjukkan bahwa biofuel justru memberikan dampak yang berlawanan dengan apa 
yang diharapkan. Investasi dunia untuk biofuel terus meningkat dari  $5 milyar 
pada 1995 menjadi $35 milyar pada 2005.



      Apa komentar semeton tentang hal ini? Sembari tyang melanjutkan membaca 
artikel menarik ini.



      Salam sejahtera,

      ngurah beni setiawan







--------------------------------------------------------------------------
      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.


----------------------------------------------------------------------------
    Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.

Kirim email ke