Dear rekan lengkey dan rekan2 sekalian,
Saya mohon maaf bila sedikit keras dalam penjelasan saya
sebelumnya mengenai Bank of the bank ini. Juga untuk rekan
Lengkey. trimakasih atas rensponsenya, saya yakin banyak
rekan2 berpandangan demikian sehingga saya bisa memberikan
tanggapan yg sama dan kita bisa lanjut diskusi masalah
Bank ini.
Jadi begini.
Contoh, Kalau Belanda menjajah Indonesia lebih dari 350
th, selama masa itu banyak yg dia dapatkan termasuk mental
kita yg sampai saat ini yg senantiasa kagum dgn bule.
(dalam artian kemampuan padahal harus dibuktikan dulu
dalam bebrapa hal dan tdk langsung serta merta kagum).
Nah adalah seharusnya bila Belanda memberi bantuan (IGGI).
Namun ternyata yg terjadi adalah, dengan 'kebodohan kita'
dan arogan pejabat di indonesia dipakai kesempatan utk
memberi bantuan yg tdk gratis itu, dgn berbagai kalimat
manis, bantuan lunak, bantuan tanpa bunga, dl, dl, yang
belakangan menjadi hutang yg besar yg harus kita bayar.
Padahal itu Uang yg didapat dari Indonesia.
pertanyaan yg simple: kenapa tdk dibantu aja, Etiophia,
Sudan, dan banyak negara2 Afrika lain... disitu jauh lebih
susah dan menderita kehidupan warganya...................
Jelas tidak ada potensi alam yg dipandang utk bisa menjadi
tukarnya dikemudian hari.
Begitu pula, Uang yg ada di Eropa sekarang, jelas sekali
hasil perdagangan dgn negara2 Asia, La wong sepatu, baju,
jeans buatan Bandung, Tanggerang yg mereka beli murah ,
dijual di toko2 besar (Tesco, Mark& Spancer, NEXT,
Sainsbury dll seharga selangit) juga hasil2 pertanian yg
dijual mahal padahal dibeli seharga sangat rendah. Tidak
lah fair rasanya kalau uang dan Dana yg mereka dapatkan
tersebut akhirnya (saat ini sangat banyak), tidak dipakai
utk membantu (secara tulus ) bangsa2 yg selama ini di
'perasnya'. Malah di pinjamkan dgn kata2 manis tadi (bunga
rendah, tanpa bunga dl).
Kalau dibilang bank2 di Indonesia lebih human, itu krn tdk
ada aturan yg jelas. Namun diakhir kata, bila bangkrut ya
bosnya bisa lari dan hal2 itu tdk pernah terjadi di Eropa.
Saya mencontohkan Beasiswa sekolah, sebab hal ini menjadi
model industri baru di Eropa, sangat jelas seluruh
standard, Uji tes alat, Calibrasi alat dll, di industri
mutlak syaratnya, sehingga dr sektor ini akan di dulang
keuntungan yg luarbisa.
Rekan Lengkey kebetulan saya dapat Scolarship dari British
Chevening, dan saya pasti akan pulang, meskipun ada
tawaran utk kerja disini.
Saya tdk mau mendiskusikan masalah IPTN, Telokm dll, yg
semuanya adalah kesalahan goverment, dan sama sekali bukan
rekan2 karyasiswa. Banyak kisah nyata rekan2 yg telah
bekerja di Airbus, Rolls Royce (pembuat mesin pesawat
Boeing) yg ingin balik ke iptn, ehmm ternyata.. malah
banyak dari mereka yg sudah dipecat. Sekarang orang2 hebat
tsb berkeliaran di dunia sebab tdk ada tempat yg mau
menghargainya di tanah air. Mereka juga ada di Malaysia,
yg mana negara ini mempekerjakan orang2 habat kita tsb dgn
penghargaan yg layak, dan sebantar lagi akan ada sejenis
IPTN disana, yg bisa memproduksi pesawat melebihi IPTN.
Renewable adalah sangat meriah di Eropa, di German
khususnya (boss saya orang german). Masyarakat Eropa
menargetkan 25-30% kebutuhan energy th 2015-2020 adalah
renewable. sehingga seluruh negara mengejar target ini,
Inggris termasuk yg lambat, sehingga dalam 2 th terakhir
investasi besar di sektor ini. Goverment sendiri mendukung
mutlak.
Nah sehubungan karya rekan ITS yg akhirnya mangkrak, saya
memaklumi sebab biaya yg masih mahal dibidang ini, juga
masih belum populer disamping belum dapat suport dari
Goverment.
Ide saya (semoga Hyang Widdhi merestuiNya), saya ingin
hal2 kecil yg applicable saja misal membuat Solar water
pumping, Solar Stand Alone, Juga memasyarakatkan Biogass,
nah utk membuat project2 tsb agar tetap berjalan dan
berkesinambungan harus ada Dana.. disitulah gunakan
KOPERASI. Swadaya dan keuntungan di gunakan utk
memperbesar dan meluaskan Usaha. Saya melihat banyak
contoh rekan2 yg sudah sukses di Bangladesh, Philipina,
juga India. Malah salah satu wilayah binaan rekan research
saya di India, saat ini sudah bisa menjual listrik ke desa
tetangganya, dari microhydro yg di kelolanya, dan ITU
semua dari swadaya dan sama sekali tdk dari bantuan LN.
Rekan Lengkey, dan rekan2 sekalian saya sekali lagi mohon
maaf,
bila kelihatan seolah tdk realistis dan tdk mau membuka
diri.
Saya teramat sedih melihat kebodohan, dan kesewenang2an
pejabat dan birokrasi di tanah air. Betul kata KPK, dari
pusat sampai kedaerah mereka seperti kompeni saja. Jadi
Hal2 spt Bank of the Bank, Bantuan dgn bunga lunak, dll
dari LN , kalau ke indoneisa pasti melewati pintu
birokrasi maka sudah bisa di bayakngkan diakhir cerita
kembali akan menjadikan masyarakat kita yg mjd pesakitan.
Karenanya kalau kita bisa lakukan kesuatu, kenapa kita tdk
lakukan sendiri, gunakan dgn swadaya dan saya yakin kita
pasti bisa melakukannya.
salam sejahtera rekan2 sekalian
k astawa & keluarga
On Fri, 20 Jun 2008 10:57:33 +0200
"lengkey" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Ketut Astawa yang baik,
Saya agak tidak mengerti jalan pemikiran anda yang
kurang realistis.
Bagaimana jika Anda sebagai pemberi PINJAMAN, apakah
anda tidak mengharapkan jika uang anda tidak akan
melebih. Setidaknya uang itu bisa kembali utuh.
Apakah anda akan mengatakan saya akan berikan begitu
saja tanpa kontrol!!!
Apakah kehidupan kita di Indonesia berbeda? Bank-Bank di
Indonesia itu lebih Human dibandingkan di Luar Negeri?.
Saya kira bukan itu permasalahannya.
Menurut saya... dan saya akan lebih dahulu mengoreksi
diri dahulu. Apakan saya sudah siap untuk menerima
bantuan dan bisa mengelola uang batuan itu sehingga saya
bisa mandiri dan cepat mengembalikan uang bantuan itu?
Dan kemudian apakah pemerintah juga memberikan
infrastruktur yang baik sehingga saya bisa bersaing
dengan pihak asing? apakah ada kemudahan didalam
administrasi sehingga saya yang bodoh ini bisa dilindungi
dan diberikan pencerahan.
Persoalan uang di Uni Eropa itu bukanlah persoalan
primer kita di Indonesia. Pembayaran negara anggota di
bayar dari rakyat setiap anggota (Uang pajak). Sebagai
konpensasi setiap negara anggota akan menerima batuan
sesuai dengan kebutuhannya. Mereka melihat semuanya ini
untuk pertama-tama kestabilan politik dalam negeri Uni
Eropa dan kemudian mengangkat niveau ekonomi negara
anggota yang masih tertinggal. Lihat saja Spanyol dan
Portugal yang dahulu sebagai negara miskin di Unieropa.
Kemudian soal Beasiswa untuk negara berkembang itukan
bukan menjadi masalah kita. Besyukurlah kalau anda
mendapat Beasiswa. Pertanyaannya nanti, bagaimana anda
mempertanggungjawabkan fasilitas yang anda sudah terima,
yang semuanya itu tentu dibayar dari uang rakyat?
Masih ingatkah sekitar tahun 1984 hampir lebih dari
seratus mahasiswa yang dikirim ke Hamburg untuk dididik
di Airbus dan sebagian di Telekom. Mana hasilnya? Malah
PT. Nurtanio jadi bangkrut, siapa yang bayar semuanya
itu?. Malah banyak dari mereka merasa lega jika ada uang
tambahan yang lebih besar di bandingkan upah di
Indonesia.
Pak Ketut Astawa mudah mudahan anda akan membuka diri
sedikit dengan kenyataan. Masih ingatkah anda dengan
keberhasilan Mahasiswa ITS-Surabaya yang membuat Mobil
dengan tenaga Surya! Bahkan mereka berhasil sampai
generasi ketiga. Mobil ini ada sekarang di halaman kampus
ITS tak terawat dan berdebu!
Mereka yang dielu-elukan sebagai pahlawan Renewable
Energy ini tak bisa berkembang sampai saat ini! Dimana
kejelian Pemerintah kita?
Renewable Energy bisa berfungsi di Uni Eropa karena
pemerintahnya membuat program yang menuntut industri dan
konsumen untuk ikut bekerjasama.
Konsomenpun diberikan konpensasi dan bantuan keuangan
contohnya di Jerman melalui Bank-Bank seperti bafa, kfw,
nfr, bine, wk-Hamburg, arbeitsklimaschutz dllnya.
Sehingga Industripun bisa maju karena konsumennya ada
dan produknya bisa terjangkau.
Pertanyaan saya kepada pak Astawa jika anda kembali ke
Indonesia apakah anda sebagai Alumni CREST mendapat
dukungan dari pemerintah dan Industri? untuk mewujudkan
impian anda? Sehingga kita bisa menikmati Renewable
Energy?
Jadi jangan salahkan mereka yang datang kenegara kita
untuk menjajakan barang dagangannya? Sebagai catatan
sampingan, berapa Miliar US$ kita mendapat bantuan untuk
Aceh dan Gempa Bumi di Jateng? Apakah hasilnya memuaskan
semua pihak Korban?
Sudah untung kita dibantu toh malah masih mencari
kesalahan-kesalahan mereka!.... Malu...ah....ah.., Mari
kita koreksi kesalahan kita dahulu!
Salam dan jangan cepat putus asa!
Thomas Lengkey (Germany)
----- Original Message -----
From: Asana Viebeke Lengkong
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 19, 2008 2:44 PM
Subject: [bali] Re: [bali-bali] Bank of Banks in Bali
NAMANYA SAJA BANK... jadi semua ini juga harus di
pahami oleh semua kalau mau berhubungan dengan BANK, ada
yang tertolong banyak juga yang kena karena tidak paham
risikonya. TIDAK ADA YANG FREE DI DUNIA INI DAN PASTINYA
TIDAK DARI SEBUAH BANK.
Suatu hal yang perlu di pahami juga bahwa masyarakat
kita sudah terbenam jauh dalam dunia UANG dan belum bisa
berpikir lebih jauh dari pada itu.
Fight ignorance!
v
----- Original Message -----
From: Ketut Astawa
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 19, 2008 7:17 PM
Subject: [bali] Re: [bali-bali] Bank of Banks in Bali
Dear rekan Beni, dan semeton lain.
Maka kehidupan akan betul2 dicontrol oleh pemberi
PINJAMAN.
Saya tdk tahu di USA, namun di negara2 Eropa
(Eropa-commision) banyak sekali uang yang tersedia
maksudnya dana2 yg tersedia dari pembayaran seluruh
negara anggota. dan itu akan diputar kembali utk
mendapatkan profit yg lebih besar.
misal menggaet semakin banyak student from abroad
(mulanya tawaran beberapa scolarship, namun setelahnya
diharapkan semakin tergantung dan semakin banyak student
from abroad).
- Banyak Research2 utk negara2 berkembang, namun
seluruh staff, meterial, supervising harus dari negara
anggota komisi ini, dan ini tidak gratis, pasti ada sisi
yg harus bayar meskipun di cicil, yg akhirnya sangat
mahal. Dan itu tdk mungkin diberi ke negara2 afrika yg
tdk punya potensi alam.
- Bantuan, pinjaman, dll
dan masih banyak lagi.
Contoh di bidang saya di renewable enrgy ini.
Saat Stunami menghantam aceh, kita ikut buat stand
alone solar cell, solar water pumping. dimana saat itu do
Aceh tdk ada listrik dan semua alir asin. sehingga
program2 spt ini sungguh ampuh. Nah seluruh dana yg
didapat mutlah dari Eropean komision ini dan sebagian
besar UN. Dana2 itu adalh bantuan yang angka2nya dicatat,
ehm.. kalau ikhlas ya di sumbang dan tdk ada pamrih,. la
wong ini jelas kok berapa pengeluarannya dan Eropa juga
meminta ke UN,.. saya tdk tahu setelahnya (rantai
..permohonan uang dari UN..)
juga saat ini banyak kerjasama, renewable energy dgn
pakistan dan bangladesh.
Jadi kembali ke ide Bank of Banks ini saya tdk yakin.
Sejauh ini bagi saya system KOPERASI adalah yg
terbaik, kalau kita lihat perusahaan2 besar di UK, &
Eropa sebetulnya secara tdk sengaja mereka menerapkan
konsep ini.
contoh.
HANSON PLC (perusahaan aspal, baja, beton dan semen
terbesar di Dunia).
menerapkan konsep kepemilikan saham oleh seluruh
karyawan, konsekuensinya... seluruh staff bekerja lebih
giat agar perusaan untung dan sahamnya akan naik juga,
begitu pula setiap pejabatnya berlomba2 berprestasi.
sehingga saat ini ketika HANSON dan Heidelberg join
bersama (banyak project2 gedung olimpyade LONDON) semakin
banyak lagi saham yg lepas ke karyawan, dan sekali lagi
sebelum ke pasar stock, di beri prioritas karyawan utk
mendapatnya.
jadi kalau konsep KOPERASi diterapkan dalam setiap
usaha, maka saya sangat yakin setiap anggota akan bekerja
keras, dan juga korupsi akan mudah di hapus dan diawasi,
sebab setiap anggota bisa dgn jelas melihat aliran dana
dan keuntungan hasil usaha.
ehm..demikian pandangan tyang,..
silakan dilanjut rekan2 sekalian
salam
k astawa
CREST (center renewable energy systemn and
technology)
Loughborough University
UK
----------------------------------------------------------------------------
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ngurah beni
setiawan
Sent: 19 June 2008 03:30
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Subject: [bali] Re: [bali-bali] Bank of Banks in Bali
Mbo Vieb dan semeton lain...
Kira-kira apa akibat dari hal ini ya?
saya kok ga nangkep?
mohon pencerahan...
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless
you really need to
----- Original Message ----
From: Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Wednesday, June 18, 2008 10:42:37 AM
Subject: [bali-bali] Bank of Banks in Bali
> The Oregonian
> (USA) June 16, 2008
>
> Portland-based Mercy Corps buying Indonesian bank
to help poor
>
> The humanitarian agency will start the Bank of
Banks to help
> Indonesian agencies provide insurance, mortgage
finance,
> remittance services and mobile banking
> Monday, June 16, 2008
>
> Richard Read The Oregonian Staff
>
> Nonprofit Mercy Corps is buying a commercial bank
in Bali,
> Indonesia's tourist paradise, in a novel $33
million deal that
> could move tens of millions of people out of
poverty in the next
> decade -- and create a new economic-developmen t
model.
>
> Using a $19.4 million grant from the Bill & Melinda
Gates
> Foundation, Mercy Corps will head a consortium to
create
> Indonesia's first microfinance wholesale bank --
provisionally
> titled the "Bank of Banks," nicknamed BoB.
>
> The deal, to be announced today, capitalizes on
Mercy Corps'
> experience with microfinance programs, which
typically extend
> small-business loans to people too poor to be
served by regular
> banks. It also propels the Portland-based
relief-and-developm ent
> organization to a new frontier where nonprofits,
foundations,
> government agencies and commercial entities
collaborate to move
> beyond handouts in less-developed nations.
>
> Mercy Corps, with investment from an arm of the
World Bank and a
> Dutch fund, plans to convert a struggling Bali bank
into an
> institution that can help thousands of small
microfinance
> organizations attain stability and boost services.
The Bank of
> Banks will enable the Indonesian organizations to
move beyond
> offering microloans and savings accounts to provide
insurance,
> mortgage finance, remittance services and mobile
banking.
>
> The bank and supporting institutions aim to help 16
million
> Indonesians build financial security by 2011,
reaching them in
> new ways, via cell phones, ATMs and the Internet.
Mercy Corps
> managers say that if successful, the strategy -- to
be expanded
> to the Philippines -- could help 45 million people
permanently
> move out of poverty during the next 10 years.
>
> "Bank of Banks is expected to revolutionize the way
microfinance
> works in Indonesia and beyond," said Neal
Keny-Guyer, chief
> executive of Mercy Corps.
>
> Biggest, first
>
> The deal represents several firsts for Mercy Corps.
The Gates
> grant is the biggest it has received from the
Seattle-based
> foundation. While Gates has supported Mercy Corps
> disaster-response initiatives, the foundation
hadn't yet backed
> one of the humanitarian organization' s
non-emergency programs.
>
> Mercy Corps has years of experience in
microfinance, an approach
> that became widely known when Bangladeshi banker
Muhammad Yunus
> and his Grameen Bank won the 2006 Nobel Peace Prize
for their
> grass-roots financial programs.
>
> In 2001, Mercy Corps co-founded XacBank, a
commercial bank in
> Mongolia that extends financial services to yak
herders and
> others across one of the world's most sparsely
populated
> countries. Microfinance institutions started by
Mercy Corps in
> Kazakhstan, Kyrgyzstan and Tajikistan have
disbursed $240
> million in loans during 10 years to businesses and
communities.
>
>
>
> ------ End of Forwarded Message
>
>
> Messages in this topic
____________ _________ _________ _________ _________
_________ _
Easily publish your photos to your Spaces with Photo
Gallery.
http://get.live. com/photogallery /overview
__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) |
Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls
| Members | Calendar
MARKETPLACE
----------------------------------------------------------------------------
Blockbuster is giving away a FREE trial of -
Blockbuster Total Access.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily
Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use |
Unsubscribe Recent Activity
a.. 9New Members
Visit Your Group
New business?
Get new customers.
List your web site
in Yahoo! Search.
Real Food Group
Share recipes
and favorite meals
w/ Real Food lovers.
Everyday Wellness
on Yahoo! Groups
Find groups that will
help you stay fit.
.
__,_._,___
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>