Dear All, Tradisi mesatue (budaya dengar) bisa subur karena budaya tulis dan bacanya belum berkembang. Kini, jaman kita telah berubah. Tingkat pendidikan masyarakat sudah jauh meningkat (berubah) dan bergeser dari budaya tutur ke budaya tulis. Wilayah peredaran kita juga sudah sangat luas dan lebar. Bahkan, kita justru merasa dekat ketika berjauhan, sementara "tetangga" sendiri malah tidak tahu. Konsep "All men brothers, all women sisters" (kita semua bersaudara) akan kembali kita adopsi setelah sekian lama "menghilang" tetapi kita patut bersyukur karena nilai itu masih ada sebagai salah satu dari 108 mantra utama Weda.
Jika "satue" masih ingin kita "lestarikan", maka sebaiknya kita berupaya mengemas "satue" itu kedalam bentuk-bentuk tulis dan visualisasi. Visualisasi (video, komik) juga masuk dalam kategori "tulis-grafis". Tingkat pendidikan masyarakat yang makin tinggi juga mendorong tumbuhnya budaya "sedikit bicara banyak kerja". Jadi, kita jangan terpaku pada romantika masa lalu. Kita harus maju dan akan tetap maju. Pelestarian kebudayaan hendaknya dilihat pada aspek pelestarian tata-nilai, bukan pada pelestarian artefaknya. Walaupun pelestarian artefak itu tetap penting, namun harus dilakukan secara proporsional. Artefak hendaknya tidak menjadi "kiblat kebudayaan" (dadi keto .... nak mule keto; pokoke... ya pokoke....). Salam, GB Suparta ________________________________ From: Made Wirata <[email protected]> To: [email protected]. Sent: Monday, April 6, 2009 11:14:13 AM Subject: [bali] Re: cerita dongeng punah? sangat setuju dengan pernyataan dibawah ini seperti yang saya lihat didaerah saya, bahkan saya alami dalam keluarga saya sendiri. Sebagai contoh sewaktu saya kecil karena hidup di desa masih merasakan tutur-satua dari kakek bahkan Kumpi sampai saya tamat SD. dari tutur orang tua, banyak yang melekat sampai sekarang baik budaya tatakrame kepada orang tua, kerabat maupun pelaksanaan sehari-hari lainnya, mana yang dianggap boleh dan tidak lebih jelas dirasakan, percaya karma pala, dan sebagainya. Lain halnya saat ini dimana anak-anak saya sampai dewasa pun jarang sekali dapat tutur kata dari Kakeknya, apalagi Kumpinya, yang karena tinggal berjauhan (tinggal di Kota di Jawa vs Desa di Bali), sehingga tidak bisa menular dan menurun yang baiknya terdahulu. Suksma Made Wirata -- Open WebMail Project (http://openwebmail.org) ---------- Original Message ----------- From: "Asana Viebeke Lengkong" <[email protected]> To: <[email protected]>, <[email protected]> Sent: Mon, 6 Apr 2009 11:14:57 -0700 Subject: [bali] cerita dongeng punah? > Subject: tradisi mendongeng di bali, punah (?) > > Tradisi mendongeng dengan bahasa Bali hampir dipastikan akan segera menjadi > kisah lalu. Ratusan bahkan mungkin ribuan versi cerita-cerita yang biasanya > dituturkan di rumah-rumah akan segera memasuki fase mati suri. Sebaliknya > tradisi membaca, tidaklah menjadi pengganti kekosongan tradisi mendongeng > ini. kekosongan proses pengayaan rasa ini makin menguat dan tidak bisa lagi > dianggap tidak serius. > > Pola asuh keluarga Bali kini jauh dari tradisi mesatue; yang biasanya > dilakukan oleh nenek, tante ataupun seorang tetangga yang dituakan. Dalam > tradisi mesatue itu dituturkan berbagai cerita untuk membangun wawasan > mengenai hidup: dari i bawang lan i kesuna, siap selem, i sugih lan i lacur, > i belog, cerucuk kuning dll kemudian cerita-cerita yang bermuara dari cerita > panji; itihasa, mahabrata dan ramayana juga berbagai mitologi di berbagai > desa yang pelahan tidak sempat lagi dituturkan. > > Hilangnya tradisi mesatue ini akan berdampak pada kekayaan bahasa > bali juga kualitas penggunaan bahasa bali, yang relatif menurun digunakan > dalam proses komunikasi, dampak terdekat dari kondisi ini adalah rasa bahasa > bali masyarakat bali akan segera menurun.Kemudian hilangnya materi cerita > yang dalam tradisi mesatue menjadi penuh variasi dan improvisasi, pada > kondisi ini; hilangnya alih kemampuan bertata krama dan berkomunikasi yang > berdampak pada proses komunikasi di dalam pergaulan. > > Ancaman yanag serius dari tradisi yang hilang ini adalah percepatan > terhadap punahnya bahasa bali, walaupun di sekolah dan wilayah publik telah > dilakukan upaya menguatkan tradisi penggunaan bahasa bali ,namun bangunan > rasa itu tidak terbangun dari akar pengasuhan yakni di rumah dan di dalam > keluarga. > > Dan apabila kelak ini menjadi kenyataan maka proses tradisi yang > dimanis serta proses budaya akan stagnan; barangkali ini perlu dicermati > sebab Bali sangatlah bergantung kepada proses kreatif; yang berakar tidak > saja pada tradisi agraris (yang juga pelahan lenyap) juga berakar kuat > kepada budaya tuturnya. > > salam > > cok sawitri ------- End of Original Message ------- -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [email protected]> Berlangganan : <mailto: [email protected]> Henti Langgan : <mailto: [email protected]>
