info menarik soal jogja. pantes saja joe, dr dani, dan bli andi betah di
jogja. bs dpt free hotspot di mana2. :)

hmmm, coba di denpasar bisa begini. mungkin akan kopdar tiap hari. hihihi..

thx,

-- 

Republik "Hot Ngelesot"

Kompas Minggu, 8 Juni 2008 | 00:37 WIB

Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari

Orang Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot disediakan di
mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak, kedai, kos-kosan, arena
futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya hotspot, anak-anak muda di sini
berseloroh, "Kalau ada republik hotspot, Yogyakarta pasti jadi ibu kotanya."

Jika Anda jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza (Amplas) di Jalan Laksda
Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop. Mudah
ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang dilengkapi hotspot
(area di mana orang bisa mengakses internet tanpa kabel). Mereka akan
memesan segelas minuman, kemudian menyalakan laptopnya dan mulai berinternet
selama dua jam sesuai batas maksimal yang ditetapkan kafe-kafe di sana.

Pemandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di Jalan Brigjen Katamso,
tepatnya di lantai tiga. Jumat (6/6) sore, ada dua belas orang duduk lesehan
di selasar toko sambil memangku laptopnya dan asyik berselancar di dunia
maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah para pemburu hotspot. Bedanya,
mereka tidak perlu mampir di kedai dan membeli minuman sebagai prasyarat
menikmati fasilitas hotspot. Mereka cukup memanfaatkan gelombang hotspot
gratisan yang meluber hingga ke selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini
mungkin termasuk orang yang hemat atau mungkin bokek.

Sejumlah kedai di sepanjang Selokan Mataram, Gejayan, Sagan, dan Terban juga
banyak yang ber-hotspot. Biasanya kafe itu akan memasang spanduk bertuliskan
"Free Hotspot, Unlimited". Ada juga yang bertuliskan "Hot Ngelesot".
Maksudnya, fasilitas hotspot bisa digunakan sambil ngelesot atau lesehan di
lantai.

Fasilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di Kafe Djendelo
Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh Djendelo
Bersoebsidi seharga Rp 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan fasilitas
hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul 22.00. Itu
kalau Anda tidak malu!

Nyatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan yang
tidak punya rasa malu. "Main internet dari pagi sampai malam kok cuma pesan
satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir mudik di depannya, eh
dia cuek aja," katanya.

Tidak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga dilengkapi
hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya ketimbang ngerumpi
dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai belajar dan bermain di TK.

Yang lebih fenomenal, hotspot juga bisa dijumpai di angkringan. Salah
satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman. Kamis (5/6)
malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang sekadar
chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster, YouTube, bahkan
ada yang sedang bertransaksi bisnis (mungkin jutaan rupiah) sambil
menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran porsi makan kucing yang
harganya cuma Rp 1.000 per bungkus).

Ah, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang merupakan
simbol kaum jelata Yogyakarta bertabrakan dengan internet yang menjadi
simbol kelas menengah. Gaya metropolis pengunjung bertabrakan dengan gojek
kere (humor kaum jelata) khas Yogya yang biasa beredar di angkringan.

"Bapakmu masih kerja di Segitiga Bermuda? Kenapa enggak pindah ke Segiempat
Bermuda atau Trapesium Bermuda?" canda salah satu pengunjung.

"Booming"
Bagaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet, perusahaan
penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya dimulai sejak
munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di sepanjang Selokan
Mataram tahun 2004. "Kedai-kedai itu menyediakan fasilitas hotspot untuk
menarik mahasiswa," ujarnya.

Setelah Amplas—yang dilengkapi fasilitas hotspot—berdiri tahun 2006, demam
hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil berselancar di
dunia maya.

Para pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang efektif
untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General Manager Neofutsal,
mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya memasang
fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp 380.000 per bulan
untuk berlangganan internet. "Dana yang dikeluarkan sebanding dengan
penambahan pengunjung," katanya.

Manager Data Internet PT Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko mengatakan,
penggunaan akses internet nirkabel di Yogya memang mengalami ledakan sejak
tahun lalu. Orang tinggal menambahkan perangkat access point seharga Rp
400.000 ke koneksi internet dan, bimsalabim, layanan hotspot tersedia.

Taryoko menambahkan, saat ini pelanggan Speedy (produk layanan internet
Telkom) di Yogyakarta berjumlah 7.000 orang. Dia memperkirakan lebih dari
100 pelanggan telah menambahkan fasilitas hotspot.

Riza dan Taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya,
pengguna internet di Yogyakarta makin praktis dan mobil. Apalagi laptop yang
dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin murah. Dengan uang
kurang dari Rp 5 juta, orang sudah bisa memiliki laptop dengan Wi-Fi.

Gejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di Yogyakarta
laris bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax Fortune
Jogja—distributor notebook Apple—mengatakan, sejak membuka gerai di Amplas
tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan sangat tinggi. Bahkan,
angka penjualan di gerai ini melampaui angka penjualan gerai Emax di
Jakarta. Sayangnya, dia tidak bersedia menyebutkan jumlahnya.

Sekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja untuk
mendapatkan notebook. Notebook yang banyak dicari adalah yang harganya
berkisar Rp 10 juta-Rp 11 juta dengan model trendi. Kebanyakan pembelinya
mahasiswa.

Diaz Ario, Junior Project Manager PT Dyandra Promotion Yogyakarta, yang
sering mengadakan pameran komputer mengatakan, penjualan laptop satu-dua
tahun terakhir di Yogyakarta memang gila-gilaan, terutama yang harganya
berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. "Sekali pameran, ratusan laptop yang terjual.
Banyak yang tidak kebagian sehingga laptop pajangan pun ditawar," katanya.

Weleh... weleh!

-- 

anton | http://rumahtulisan.com

Kirim email ke