Di Lapangan Klungkung pun mr Candra bikin Free Hotspot, tapi yang punya laptop masih dikit, trus yang punya HP dengan fasilitas W-Lan gak bisa make...
-----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Nyoman Andre Ramayadi Sent: Tuesday, June 10, 2008 3:27 PM To: [email protected] Subject: Re: [baliblogger] Republik "Hot Ngelesot" Saylow salah satu ownernya tuh Ton...dia punya angkringan dengan hot spot di Jogja...coba suruh dia buka nasi jinggo+hotspot disini kali-kali mau...kan dirumahnya udah berdiri tiang pancang Mercury kaakakakakkakakakakakakkakakka antonemus wrote: > > info menarik soal jogja. pantes saja joe, dr dani, dan bli andi betah > di jogja. bs dpt free hotspot di mana2. :) > > hmmm, coba di denpasar bisa begini. mungkin akan kopdar tiap hari. > hihihi.. > > thx, > > -- > > Republik "Hot Ngelesot" > > Kompas Minggu, 8 Juni 2008 | 00:37 WIB > > Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari > > Orang Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot > disediakan di mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak, > kedai, kos-kosan, arena futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya > hotspot, anak-anak muda di sini berseloroh, "Kalau ada republik > hotspot, Yogyakarta pasti jadi ibu kotanya." > > Jika Anda jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza (Amplas) di Jalan Laksda > Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop. > Mudah ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang > dilengkapi hotspot (area di mana orang bisa mengakses internet tanpa > kabel). Mereka akan memesan segelas minuman, kemudian menyalakan > laptopnya dan mulai berinternet selama dua jam sesuai batas maksimal > yang ditetapkan kafe-kafe di sana. > > Pemandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di Jalan Brigjen > Katamso, tepatnya di lantai tiga. Jumat (6/6) sore, ada dua belas > orang duduk lesehan di selasar toko sambil memangku laptopnya dan > asyik berselancar di dunia maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah > para pemburu hotspot. Bedanya, mereka tidak perlu mampir di kedai dan > membeli minuman sebagai prasyarat menikmati fasilitas hotspot. Mereka > cukup memanfaatkan gelombang hotspot gratisan yang meluber hingga ke > selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini mungkin termasuk orang > yang hemat atau mungkin bokek. > > Sejumlah kedai di sepanjang Selokan Mataram, Gejayan, Sagan, dan > Terban juga banyak yang ber-hotspot. Biasanya kafe itu akan memasang > spanduk bertuliskan "Free Hotspot, Unlimited". Ada juga yang > bertuliskan "Hot Ngelesot". Maksudnya, fasilitas hotspot bisa > digunakan sambil ngelesot atau lesehan di lantai. > > Fasilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di Kafe > Djendelo Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh > Djendelo Bersoebsidi seharga Rp 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan > fasilitas hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul > 22.00. Itu kalau Anda tidak malu! > > Nyatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan > yang tidak punya rasa malu. "Main internet dari pagi sampai malam kok > cuma pesan satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir > mudik di depannya, eh dia cuek aja," katanya. > > Tidak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga > dilengkapi hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya > ketimbang ngerumpi dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai > belajar dan bermain di TK. > > Yang lebih fenomenal, hotspot juga bisa dijumpai di angkringan. Salah > satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman. Kamis > (5/6) malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang > sekadar chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster, > YouTube, bahkan ada yang sedang bertransaksi bisnis (mungkin jutaan > rupiah) sambil menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran > porsi makan kucing yang harganya cuma Rp 1.000 per bungkus). > > Ah, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang > merupakan simbol kaum jelata Yogyakarta bertabrakan dengan internet > yang menjadi simbol kelas menengah. Gaya metropolis pengunjung > bertabrakan dengan gojek kere (humor kaum jelata) khas Yogya yang > biasa beredar di angkringan. > > "Bapakmu masih kerja di Segitiga Bermuda? Kenapa enggak pindah ke > Segiempat Bermuda atau Trapesium Bermuda?" canda salah satu pengunjung. > > "Booming" > Bagaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet, > perusahaan penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya > dimulai sejak munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di > sepanjang Selokan Mataram tahun 2004. "Kedai-kedai itu menyediakan > fasilitas hotspot untuk menarik mahasiswa," ujarnya. > > Setelah Amplas-yang dilengkapi fasilitas hotspot-berdiri tahun 2006, > demam hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil > berselancar di dunia maya. > > Para pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang > efektif untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General Manager > Neofutsal, mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya > memasang fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp > 380.000 per bulan untuk berlangganan internet. "Dana yang dikeluarkan > sebanding dengan penambahan pengunjung," katanya. > > Manager Data Internet PT Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko > mengatakan, penggunaan akses internet nirkabel di Yogya memang > mengalami ledakan sejak tahun lalu. Orang tinggal menambahkan > perangkat access point seharga Rp 400.000 ke koneksi internet dan, > bimsalabim, layanan hotspot tersedia. > > Taryoko menambahkan, saat ini pelanggan Speedy (produk layanan > internet Telkom) di Yogyakarta berjumlah 7.000 orang. Dia > memperkirakan lebih dari 100 pelanggan telah menambahkan fasilitas > hotspot. > > Riza dan Taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya, > pengguna internet di Yogyakarta makin praktis dan mobil. Apalagi > laptop yang dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin > murah. Dengan uang kurang dari Rp 5 juta, orang sudah bisa memiliki > laptop dengan Wi-Fi. > > Gejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di > Yogyakarta laris bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax > Fortune Jogja-distributor notebook Apple-mengatakan, sejak membuka > gerai di Amplas tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan > sangat tinggi. Bahkan, angka penjualan di gerai ini melampaui angka > penjualan gerai Emax di Jakarta. Sayangnya, dia tidak bersedia > menyebutkan jumlahnya. > > Sekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja > untuk mendapatkan notebook. Notebook yang banyak dicari adalah yang > harganya berkisar Rp 10 juta-Rp 11 juta dengan model trendi. > Kebanyakan pembelinya mahasiswa. > > Diaz Ario, Junior Project Manager PT Dyandra Promotion Yogyakarta, > yang sering mengadakan pameran komputer mengatakan, penjualan laptop > satu-dua tahun terakhir di Yogyakarta memang gila-gilaan, terutama > yang harganya berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. "Sekali pameran, ratusan > laptop yang terjual. Banyak yang tidak kebagian sehingga laptop > pajangan pun ditawar," katanya. > > Weleh... weleh! > > -- > > anton | http://rumahtulisan .com <http://rumahtulisan.com> > > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links No virus found in this incoming message. Checked by AVG. Version: 8.0.100 / Virus Database: 270.0.0/1490 - Release Date: 6/8/2008 5:32 PM

