apalagi kalo pelayannya yayangnya selow, yayangnya dental, dan yayangnya
kecek. ehm2, dijamin laris manis.

ndang, low. nggaweo lesehan dan gratis hotspot. ben aku iso ngesot dan
nyedot. :D


On Tue, Jun 10, 2008 at 3:26 PM, Nyoman Andre Ramayadi <
[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saylow salah satu ownernya tuh Ton...dia punya angkringan dengan hot
> spot di Jogja...coba suruh dia buka nasi jinggo+hotspot disini kali-kali
> mau...kan dirumahnya udah berdiri tiang pancang Mercury
> kaakakakakkakakakakakakkakakka
>
> antonemus wrote:
> >
> > info menarik soal jogja. pantes saja joe, dr dani, dan bli andi betah
> > di jogja. bs dpt free hotspot di mana2. :)
> >
> > hmmm, coba di denpasar bisa begini. mungkin akan kopdar tiap hari.
> > hihihi..
> >
> > thx,
> >
> > --
> >
> > Republik "Hot Ngelesot"
> >
> > Kompas Minggu, 8 Juni 2008 | 00:37 WIB
> >
> > Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari
> >
> > Orang Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot
> > disediakan di mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak,
> > kedai, kos-kosan, arena futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya
> > hotspot, anak-anak muda di sini berseloroh, "Kalau ada republik
> > hotspot, Yogyakarta pasti jadi ibu kotanya."
> >
> > Jika Anda jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza (Amplas) di Jalan Laksda
> > Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop.
> > Mudah ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang
> > dilengkapi hotspot (area di mana orang bisa mengakses internet tanpa
> > kabel). Mereka akan memesan segelas minuman, kemudian menyalakan
> > laptopnya dan mulai berinternet selama dua jam sesuai batas maksimal
> > yang ditetapkan kafe-kafe di sana.
> >
> > Pemandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di Jalan Brigjen
> > Katamso, tepatnya di lantai tiga. Jumat (6/6) sore, ada dua belas
> > orang duduk lesehan di selasar toko sambil memangku laptopnya dan
> > asyik berselancar di dunia maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah
> > para pemburu hotspot. Bedanya, mereka tidak perlu mampir di kedai dan
> > membeli minuman sebagai prasyarat menikmati fasilitas hotspot. Mereka
> > cukup memanfaatkan gelombang hotspot gratisan yang meluber hingga ke
> > selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini mungkin termasuk orang
> > yang hemat atau mungkin bokek.
> >
> > Sejumlah kedai di sepanjang Selokan Mataram, Gejayan, Sagan, dan
> > Terban juga banyak yang ber-hotspot. Biasanya kafe itu akan memasang
> > spanduk bertuliskan "Free Hotspot, Unlimited". Ada juga yang
> > bertuliskan "Hot Ngelesot". Maksudnya, fasilitas hotspot bisa
> > digunakan sambil ngelesot atau lesehan di lantai.
> >
> > Fasilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di Kafe
> > Djendelo Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh
> > Djendelo Bersoebsidi seharga Rp 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan
> > fasilitas hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul
> > 22.00. Itu kalau Anda tidak malu!
> >
> > Nyatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan
> > yang tidak punya rasa malu. "Main internet dari pagi sampai malam kok
> > cuma pesan satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir
> > mudik di depannya, eh dia cuek aja," katanya.
> >
> > Tidak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga
> > dilengkapi hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya
> > ketimbang ngerumpi dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai
> > belajar dan bermain di TK.
> >
> > Yang lebih fenomenal, hotspot juga bisa dijumpai di angkringan. Salah
> > satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman. Kamis
> > (5/6) malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang
> > sekadar chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster,
> > YouTube, bahkan ada yang sedang bertransaksi bisnis (mungkin jutaan
> > rupiah) sambil menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran
> > porsi makan kucing yang harganya cuma Rp 1.000 per bungkus).
> >
> > Ah, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang
> > merupakan simbol kaum jelata Yogyakarta bertabrakan dengan internet
> > yang menjadi simbol kelas menengah. Gaya metropolis pengunjung
> > bertabrakan dengan gojek kere (humor kaum jelata) khas Yogya yang
> > biasa beredar di angkringan.
> >
> > "Bapakmu masih kerja di Segitiga Bermuda? Kenapa enggak pindah ke
> > Segiempat Bermuda atau Trapesium Bermuda?" canda salah satu pengunjung.
> >
> > "Booming"
> > Bagaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet,
> > perusahaan penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya
> > dimulai sejak munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di
> > sepanjang Selokan Mataram tahun 2004. "Kedai-kedai itu menyediakan
> > fasilitas hotspot untuk menarik mahasiswa," ujarnya.
> >
> > Setelah Amplas—yang dilengkapi fasilitas hotspot—berdiri tahun 2006,
> > demam hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil
> > berselancar di dunia maya.
> >
> > Para pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang
> > efektif untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General Manager
> > Neofutsal, mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya
> > memasang fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp
> > 380.000 per bulan untuk berlangganan internet. "Dana yang dikeluarkan
> > sebanding dengan penambahan pengunjung," katanya.
> >
> > Manager Data Internet PT Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko
> > mengatakan, penggunaan akses internet nirkabel di Yogya memang
> > mengalami ledakan sejak tahun lalu. Orang tinggal menambahkan
> > perangkat access point seharga Rp 400.000 ke koneksi internet dan,
> > bimsalabim, layanan hotspot tersedia.
> >
> > Taryoko menambahkan, saat ini pelanggan Speedy (produk layanan
> > internet Telkom) di Yogyakarta berjumlah 7.000 orang. Dia
> > memperkirakan lebih dari 100 pelanggan telah menambahkan fasilitas
> > hotspot.
> >
> > Riza dan Taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya,
> > pengguna internet di Yogyakarta makin praktis dan mobil. Apalagi
> > laptop yang dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin
> > murah. Dengan uang kurang dari Rp 5 juta, orang sudah bisa memiliki
> > laptop dengan Wi-Fi.
> >
> > Gejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di
> > Yogyakarta laris bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax
> > Fortune Jogja—distributor notebook Apple—mengatakan, sejak membuka
> > gerai di Amplas tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan
> > sangat tinggi. Bahkan, angka penjualan di gerai ini melampaui angka
> > penjualan gerai Emax di Jakarta. Sayangnya, dia tidak bersedia
> > menyebutkan jumlahnya.
> >
> > Sekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja
> > untuk mendapatkan notebook. Notebook yang banyak dicari adalah yang
> > harganya berkisar Rp 10 juta-Rp 11 juta dengan model trendi.
> > Kebanyakan pembelinya mahasiswa.
> >
> > Diaz Ario, Junior Project Manager PT Dyandra Promotion Yogyakarta,
> > yang sering mengadakan pameran komputer mengatakan, penjualan laptop
> > satu-dua tahun terakhir di Yogyakarta memang gila-gilaan, terutama
> > yang harganya berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. "Sekali pameran, ratusan
> > laptop yang terjual. Banyak yang tidak kebagian sehingga laptop
> > pajangan pun ditawar," katanya.
> >
> > Weleh... weleh!
> >
> > --
> >
> > anton | http://rumahtulisan .com <http://rumahtulisan.com>
> >
> >
>
>
> ------------------------------------
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


-- 

anton | http://rumahtulisan.com

Kirim email ke