Mbak Yanti dan Pak Joko,
Saya punya pengalaman yang mirip pak Joko. Sayapun tidak tau apakah baik memberikan
iming-iming kue dan lain-lain untuk membuatnya tidak menangis. Yang jelas, saya
berusaha untuk jujur pada anak saya yang sekarang sudah berumur 2,5 tahun. Sejak dia
mengerti bahwa dirinya ditinggal ke kantor, saya biarkan dia menangis tapi tanpa
bosan-bosannya saya beri dia pengertian bahwa saya akan ke kantor dan bekerja, sebab
kalau tidak kita semua tak punya duit untuk membeli susunya, mainannya dan lain-lain.
Awalnya dia tidak mengerti, tapi lama-lama malah dia bisa cerita ke orang lain atau
menjawab pertanyaan orang lain kalau ibunya kerja untuk cari duit buat beli susunya.
Semakin meningkat usianya, pola ini saya tingkatkan dengan mengajarinya hari-hari
kerja saya (sekaligus belajar menghafal hari). Dia paling ingat hari minggu, karena
hari itu saya tidak bekerja. Kadang anak saya masih merajuk juga, mulai dari mencela
baju kantor saya (tidak usah pakai baju lengan panjang, pakai baju kaos
saja..maksudnya dengan baju kaos saya pasti tidak pergi bekerja) tapi tetap saya
bilang padanya saya akan pulang jam 5 sore dan tidak akan lama-lama di kantor. Kalau
saya terlambat pulang, saya akan minta maaf dan memberitahu dia mengapa saya
terlambat, misalnya karena saya harus ke pasar, dan saya ajak dia menyusun belanjaan
di kulkas (supaya ada bukti) sambil cerita kegiatan saya. Tujuannya supaya dia tidak
mengira saya menomorduakan dia. Pada malam haripun, usahakan untuk menemaninya terus
dan menanyakan kegiatannya sekalian cerita juga apa yang kita kerjakan di kantor.
Urusan mengerti atau tidak itu tidak terlalu penting, yang pasti anak suka kalau
diajak cerita dan lama-lama dia akan mengerti sendiri. Tentu harus ditekankan bahwa
kita bekerja karena kita sayang padanya dan selalulah jujur padanya. Sebelum
berangkatpun saya memeluk dan menciuminya, alhamdulillah anak saya mengerti, meskipun
setiap baru bangun tidur dan melihat saya sudah berpakaian lengkap dia mengomel
panjang lebar.
Nadhira
>>> "Djoko Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> 03/31 10:33 PM >>>
Mbak Yanthi, saya tidak tahu apakah cara tersebut cukup baik untuk memberi
pengertian bahwa kepada baby kita bahwa bapak ibunya bekerja, untuk
sementara mungkin karena perhatiannya beralih ke biskuit, tapi ketika
penalarannya berkembang seiring dengan bertambahnya usia, mungkin saja suatu
ketika dia aka tetap menangis meskipun sudah diberi biskuit. Atau haruskah
kita memberikan sesuatu yang lain yang saat itu sudah menjadi kegemaran
barunya ?, lalu sampai kapan kita akan terus seperti ini ? ( selalu mencari
sesuatu yang baru untuk diberikan agar tidak menangis karena yang kemarin
sudah tidak menarik perhatian baby kita ).Pengalaman saya begini : saya
biarkan dia merajuk dan menangis ketika kami harus ngantor ( nangis kan
nggak apa apa malah sehat ), tanpa saya sadari terbentuk begini : kalau kami
pergi dengan seragam kantor, dia nggak pernah nangis lagi, ngantar dihalaman
dan dagg .. dagg, tapi kalau nggak pakai seragam pasti deh rewel, nangis dan
mau ikut. Kalau memang utk santai ya kami ajak, tapi kalau mau kondangan ya
terpaksa kami tinggal dan kembali kami biarkan dia merajuk. Lama lama dia
kok ngerti sendiri, kalau nggak diajak ya nggak apa apa . Semoga bermanfaat
...
Untuk melihat diskusi milis ini sebelumnya, klik:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
--------------------------------------------------------------------------
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
Berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet