Makanan adalah bagian dari budaya. Di tengah gempuran berbagai makanan asing 
yang masuk ke Indonesia, kita patut berbangga karena makanan tradisional masih 
punya tempat tersendiri di hati dengan ragam bahan dan bumbu khas Indonesia.

Agenda tahunan bertajuk Festival Jajanan Bango (FJB), PT Unilever Tbk memilih 
Surabaya sebagai salah satu ikon pusat makanan, selain Jakarta, Bandung, dan 
Medan. Tahun ini FJB mengangkat tema "80 Tahun Bango, Kualitas Sepanjang Masa", 
sekaligus merayakan ulang tahun Surabaya ke 715, menghadirkan 80 ragam makanan 
dan jajanan khas yang ada di Surabaya dan sekitarnya. 

"Karena makanan juga bagian dari budaya suatu bangsa maka kita perlu 
melestarikan makanan tradisional Indonesia dan kecap sebagai salah satu bahan 
asli Indonesia yang memberikan kekayaan rasa pada masakan," jelas Memoria Dwi 
Prasita, brand manager Bango, saat pembukaan FJB di lapangan Kodam Brawijaya, 
Jalan Hayam Wuruk, Surabaya, Sabtu (10/5). 

Di sinilah hampir sebagian besar makanan dan jajanan kondang di Surabaya 
berkumpul. Rawon Setan Bu Sup di embong Malang, Bebel Papin di Jl Kalianyar, 
Gado-gado Arjuno, Pecel Semanggi, Rujak Cingur Sedati, Soto Daging Madura 
Wawan, Lontong Balap Pak gendut, Bebek Cak Yudi Perak, Kikil Sapi Pak Said, 
Sate Buntel Karangmenjangan 29, dan Ikan Bakar Bu Adji, adalah sebagian kecil 
dari ragam makanan dan jajanan khas Suroboyo.


________________________________________________________

Bebek Goreng Papin Nan Renyah 

Inilah salah satu ikon menu bebek terkenal di Surabaya. Siapa yang tidak tahu 
betapa renyah dan gurihnya Bebek Papin dari singkatan Pasar Pecindilan di Jlana 
Kalianyar 53 ini kondang sejak 1985 silam. Jika biasanya orang jualan bebek 
membuka dagangan pukul 17.00 WIB, Bebek Papin bisa didapatkan pukul 09.00-21.00 
WIB.

Bebek Papin rupanya memanjakan lidah penggemar cita rasa asin. Maklum bumbu 
kuningnya alias kaldunya, bercita rasa khas Madura alias agak keasinan. 
Sambalnya pun diracik khas paduan cita rasa Madura dan Jawa Timuran. Pedas asin 
segar beradu di lidah.

Tentu saja penggoda utama bebek olahan Hajah Wagini yang tinggal di Pecindilan 
I nomor 35, adalah kerenyahan daging bebek hingga ke tulang-tulangnya. Sayang 
dilewatkan nikmatnya keempukan daging bebek pilihan (usia sedang) tanpa meremuk 
habis hingga ke tulangnya. Tak heran berkat proses oven daging bebek selama 3-4 
jam sebelum digoreng.

Siapkan uang antara Rp 8.000-Rp 15.000 untuk seporsi bebek renyah. Satu porsi 
bebek seharga Rp 10.000 berisi satu potong dada bebek, satu hati, dan satu 
ampela. Jika ditambah nasi, kita harus menambah Rp 2.500, sudah bikin perut 
kenyang dan hati puas.

________________________________________________________

Pecel Pincuk Semanggi Super Pedas

Bicara soal makanan khas Surabaya, tak lengkap rasanya jika tanpa menyertakan 
Pecel Semanggi. Salah satu tenda makanan yang menawarkan makanan khas tertua di 
Surabaya adalah Nasi Pecel Pincuk dan Semanggi Optik Melawai Kertajaya. 
Sumarni, sang peracik bumbu pecel, mengaku punya resep keluarga turun temurun 
dan dijajakan berkeliling. Jika dulu Pecel Semangginya bisa didapat di depan 
Optik Melawai, kini penggemar Semanggi bisa mencarinya di rumah makan Kartika 
Pujasera di Jalan Diponegoro 58 sejak tiga tahun lalu.

Penggemar masakan pedas dijamin suka dengan Pecel Semanggi ini. Pedasnya 
menggigit tapi segan buat berhenti menyantapnya. Bumbu kacangnya yang padat dan 
kental dengan paduan rasa manis dan asin yang pas dari campuran ketela, gula 
merah, petis, bawang putih, dan garam. Dua kerupuk uli yang terbuat dari beras 
dan super kriuk melengkapi Pecel Semanggi siap disantap.

Mungkin karena berlokasi di Pujasera, tak heran Pecel Semanggi Sumarni 
dibandrol dengan harga Rp 8.000-8.500, tapi kalau kita beli di penjual keliling 
tentu saja cuma Rp 2.000-3.000. Demi mendapatkan sepincuk Pecel Semanggi, 
rentang buka Pujasera tempat Sumarni berjualan cukup panjang, pukul 09.00-23.00.

________________________________________________________

Ikan Bakar Bu Adji sedap dan gurih

Tak heran jika Ikan Bakar Bu Adji sukses menyabet juara pertama di FJB 2007. 
Bukan cuma atraksi mengolah ikan kemudian proses pengolesan bumbu dan membakar, 
aromanya sebanding dengan cita rasanya yang bakal memanjakan selera para 
penggemar ikan laut.

Baru saja dioles dengan bumbu rempah dan sebentar berada di atas alas 
pembakaran, aroma sedapnya menusuk hidung dan rasa lapar tiba-tiba menyeruak. 
Belum lagi cara mengoles bumbu ke seluruh permukaan ikan yang tak 
tanggung-tanggung melakukannya. Ada beberapa pilihan ikan yang bisa dinikmati 
dengan Sambal Asam Manis Pedasnya atau Sambal Pecit resep warisan keluarga yang 
menggoda, yaitu gurami, kakap, dorang dan teristimewa adalah ikan baronang raja 
yang didatangkan langsung dari Banyuwangi.

Bumbu rempahnya yang berwarna kuning cerah, mantap dan padat melumuri tubuh 
ikan di atas alat pembakarnya. Paling enak dinikmati dalam kondisi pembakaran 
sedang karena bumbu lebih terasa dan aroma khas ikan yang menambah aroma. 

Ikan Bakar Bu Adji yang buka secara komersial di tahun 2002, beralamatkan di 
depot sekaligus rumah Bu Adji di Jalan Jagir Wonokromo nomor 250 atau di Bendul 
Merisi Utara nomor 26, bisa dinikmati dari pukul 11.00-21.00 WIB. Satu ekor 
ikan dihargai Rp 25.000-27.000 (tambah rp 2.500 untuk satu porsi nasi). Namun, 
ikan bakar Bu Adji juga ada paket plus nasi dengan harga Rp 15.000 saja. 

________________________________________________________

Manisnya Petis Tahu Pong Bu Rudy

Sebagai penutup makanan, jangan lewatkan Tahu Pong Bu Rudy di Jalan 
Dharmahusada. Petisnya manis khas Surabaya dan Tahu Pong gurih minta di goreng 
garing. Kita cukup mengeluarkan Rp 3.000 untuk satu porsi Tahu Pong yang 
dikemas dalam kemasan kotak berbahan plastik jika dibawa pulang, yang siap 
disantap. (dta)

________________________________________________________


Harian Surya - Minggu, 11 Mei 2008

Kirim email ke