Saya berjalan ke arah Blok M Mall, menyeberangi jembatan.

Seperti biasa, jembatan penyeberangan itu setengahnya dipenuhi jejeran lapak 
pedagang. Macam-macam jualannya. Mulai dari sandal jepit, jepit rambut hingga 
tas. Hari itu ada tas ransel warna-warni yang berlapis jaring macam net dari 
benang putih atau hitam. Serombongan anak berseragam biru putih, tampak 
bergerombol di tempat penjual. Beberapa tas tampak digatung di tiang penyangga 
atap penyeberangan.

Kendati ramai, lalu lintas orang yang melewati area ke arah terminal bis tidak 
sepadat jika ekonomi meriah. Pedagang di kios-kios kecil, hanya tampak 
menikmati dentuman musik dari CD player, yang antara kios satu dan lainnya 
membunyikan berpengeras saling berlomba. Jarak satu kios dan lainnya yang tiga 
meteran itu seakan tak berdinding. Kuping sulit fokus menyimak yang mana.

Di tingkah aneka suara gaduh demikian, terlihat seorang ibu dengan tenong - - 
baskom besar - - di kepala.

"Sala lauak, sala lauak," ujarnya.

Sala lauk, sejenis makanan asal Padang, seperti bakso, terbuat dari tepung 
beras, diadon dengan bawang merah, kunyit dan daun kunyit, sedikit cabe, lalu 
di tengahnya diberi ikan asin, dibulat-bulatkan macam bakso. Lantas digoreng 
atau disala - - istilah digoreng bagi orang Minang.

Untuk memudahkan Anda membayangkan penganan ini, ia ibarat bakso goreng, tetapi 
di tengahnya berisi potongan kecil ikan asin. Di daerah asalnya sana, ikan asin 
sala dari ikan kembung.

Mendekati ujung, setelah melewati berbagai deretan pedagang dan mall yang 
umumnya dipenuhi oleh Ramayana, saya mengorder rujak dan es timun di restoran 
Mie Aceh di bawah tangga.

- dipetik dari tulisan panjang Narliswandi Piliang - 

Kirim email ke