Masakan tradisional merupakan elemen yang tak bisa terpisahkan dari kebudayaan kuliner Indonesia. Keragaman bumbu, metode pengolahan hingga cara penyajian, seyogyanya tetap di lestarikan agar warisan nenek moyang tidak hilang di tengah serbuan masakan asing yang mulai merambah ke Tanah Air.
"Lewat festival Jajanan Bango, kami berupaya untuk mengangkat kembali masakan tradisional Nusantara yang dewasa ini sedikit terpinggirkan oleh serbuan masakan mancanegara," kata Brand Manager Bango, Memoria Dwi Prasita di Jakarta, baru-baru ini. Dia menambahkan, pihaknya akan menggelar festival di tiga kota besar yaitu Surabaya, Bandung dan Jakarta. Sesuai dengan tema pilihan, festival kali ini juga akan menghadirkan 80 masakan tradisional khas kota setempat yang akan ditambah dengan partisipasi delapan duta Bango dari luar kota. Delapan duta Bango itu merupakan para pemilik restoran dan warung makan tradisional Indonesia yang akan menyajikan masakannya sepanjang festival digelar. Para Duta Bango yang ikut serta adalah Ketoprak Ciragil dari Jakarta, Nasi Bug Trunojoyo Malang, Gudeg RM Adem Ayem Yogyakarta, Tengkleng Bu Edi Surakarta, dan Kupat Tahu Gempol Bandung. Selain itu ada juga Soto Udang RM Rinaldy Medan, Tutug Oncom Saung Kiray Bogor, Coto Daeng Muchtar Khas Makasar, dan Rawon Dengkul Nguling dari Surabaya. Tidak ketinggalan akan ada penjaja makanan yang mewakili kota-kota seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Makassar, Bogor, Solo dan Medan. "Koki Bango juga akan tampil dengan berbagai tips meracik dan mengolah beragam menu masakan khas tradisional. Inilah keunggulan kami, pengunjung bisa menikmati kuliner khas Nusantara tanpa harus mengunjungi satu per satu tempat makan enak di berbagai daerah," imbuhnya. Sementara itu, Foods Managing Director PT Unilever Indonesia Tbk Okty Damayanti mengatakan, pihaknya ikut mendukung Tahun Kunjungan Wisata atau Visit Indonesia Year 2008 lewat acara kuliner yang akan mendongkrak sektor pariwisata di Indonesia. (BAMS-AE) Rakyat Merdeka - Minggu, 11 Mei 2008
