Betul...namanya kayu secang...makanya minumannya namanya Es Secank...kayu itu 
juga yg biasa dipake buat bir pletok (gaya betawi yah...)
Dirumahku bnyk kayu itu (emang sengaja nyetok) karena stiap ada hajatan di 
rumah pasti bikin minuman itu. Minuman ini bisa diminum hangat juga bisa 
diminum dingin...aku sih lebih suka yg hangat...Dan aku blom pernah nemuin Es 
Secank seenak bikinan Bunda tercinta...


----- Original Message ----
From: BUD'S 1 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, August 12, 2008 10:06:04 AM
Subject: Re: [bango-mania] Re: Bubur Pontianak di FJB

 
Memang betul, dulu saya juga pernah mendapatkan kayu tersebut. Warna dari kayu 
itu agak kecoklat-coklatan, dan keras sekali. kalau diserut di air terus 
dimasak airnya akan bewarna merah dan untuk diminum. Kalau tidak salah Kayu 
tersebut saya dapatkan di Sulawesi or Sumatera ( dah lupa sih, era tahun 90 an  
). dan waktu itu sempat saya bawa pulang tuh kayu sepotong.
 
Salam,
Budiman

 
On 8/11/08, mediacare <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote: 
Dear Winny
 
Terima kasih untuk masukannya yang amat berharga. Saya dan teman-teman juga 
sempat ngobrolin soal Bubur Pontianak dan Es Sepang (bener ya nulisnya 
begitu?). Kebetulan tenda mereka berseberangan dengan tenda dimana kami mangkal 
dari pagi hingga malam hari, yaitu Tenda Media (plus Tenda Komunitas Bango 
Mania).
 
Daripada cuma ngobrolin aja, pada malam hari kami membeli Bubur Pontianak. 
Bubur sudah diracik di mangkok, tinggal diguyur kuah panas. Setelah dicoba, 
hmmm rasanya lumayan, tidak terlalu istimewa. Cukup murah sih harganya, cuma Rp 
10 ribu per mangkok.
 
Di siang hari, kami bolak-balik membeli Es Sepang. Tadinya saya pikir ini cuma 
Es Sirup warna merah. Ternyata setelah saya tanya ke si penjual, munculnya 
warna merah bukan dari bahan pewarna buatan tetapi dari sejenis kayu hutan 
(namanya lupa) yang dicelupkan sehingga memunculkan warna merah. Memang, usai 
minum Es Sepang, mata jadi betah melek..:))
 
Untuk campuran lain sepertinya bukan jahe deh, tapi kayu manis 
(cinnamon..cmiiw) .
 
Yang bikin saya kecewa malah Tengkleng Bu Edi. Waktu di FJB Surabaya dan 
Bandung saya belum pernah coba. Mosok dengan harga Rp 20 ribu cuma dikasih 
tulang-tulang iga tanpa daging secuilpun?
Bener-bener kebangeten. Waktu itu saya tidak datang langsung sih, suruhan 
crew...jadi tidak tahu apa penyebabnya. Kemungkinan mereka sudah kehabisan 
stok..
 
salam,
 
mod
 
 
 
 
 
 
 
 
----- Original Message ----- 
From: Winny Nurlia 
To: [EMAIL PROTECTED] net.id 
Sent: Monday, August 11, 2008 6:08 PM
Subject: Bubur Pontianak di FJB

 
 

________________________________
  
 
Dear Mod,
 
Terus terang ini pertama kali aku datang ke FJB, karena ramainya ajang ini jadi 
perbincangan di milis KoBaMa. Sebelumnya gak pernah ngeh, entah karena kurang 
informasi atau emang karena bener2 gak perduli..( kacian ya).  Kesan pertama 
pas masuk area penyelenggaraan , ruamee bangett. Padahal aku dateng sabtu siang 
lo, lewat tengah hari, yang notabene bukan jam favorit  untuk hang out, apalagi 
di tempat terbuka dengan cuaca lumayan terik. Untung bawa payung.....
 
Setelah keliling plus bingung mau makan yang mana, akhirnya singgah ke stand 
pertama..... Buat kesepakatan dulu ama temen2 agar memesan makanan yang 
berbeda2, kalau bisa juga dari stand yang berbeda. Biar bisa tukar 
cicip...hehe. Yang rada komplit aku cobain adalah sop iga Bang Yus......boleh 
juga empuknya. Nikmat banget....hmmm. .......
 
Setelah itu hijrah ke stand sebelahnya, mencoba asinan sayur-nya Ny. Isye. 
Minjam istilah pak Bondan, asinannya juara dech. Langsung seger di cuaca panas 
dan penuh debu itu. Setelah itu langsung kenyang..... ..abis juga icap icip 
makanan yang diambil temen lain kan...?
 
Eh, giliran mau cabut ke stand Bango, ada antrian es krim Ragusa. Sepertinya es 
krim-nya baru datang, karena sebelum itu stand Ragusa kosong,  Cuma diisi oleh 
serombongan ibu2 yang "numpang" makan. Ya udah, sayang kan kalau dilewatkan. 
Mengantri kembalilah kita........
 
Menjelang pulang, aku sempat melihat stand Bubur Pontianak. Penasaran, 
sekaligus mau sedikit bernostalgia karena pernah 18 tahun tinggal di kota 
khatulistiwa itu, aku pun menyempatkan singgah. Gak terlalu antri sih kalo yang 
ini. Yg antri malah stand es durian di sebelahnya. Tapi sedikit kecewa karena 
aku justru gak tau apa2 dengan makanan Pontianak yang dihidangkan disitu. 
Tadinya aku pikir bubur pontianak itu bubur pedas yang emang khas Pontianak. 
Tapi ternyata bukan. Mm...terus, apa bedanya ya ama bubur yang lain..? Masih 
jadi pertanyaan.  Disitu ada minuman Sepang juga...yang rasanya jahe 
bangettt.... ....Ya udah, akhirnya aku cobain saja yang Sepang itu. Kecewa juga 
sih, gak ada Air Lidah Buaya, padahal aku penasaran banget pengen minum itu, 
secara ketika aku masih tinggal di Pontianak tahun 90-an kebawah, minuman itu 
belum populer.
 
Ok, akhirnya cukup dech petualangan kuliner kecil2an hari ini. Ada sedikit yang 
mengganjal. Panitia kayaknya harus menyediakan buanyaaaak sekali tempat sampah 
untuk penyelenggaraan FJB mendatang. Sampahnya kotor banget, agak sedikit 
menurunkan selera kalo kebetulan harus makan lesehan di selasar karena gak 
kebagian kursi. Tau sendiri kan, orang Indonesia masih suka males kalo buang 
sampah ke tempat yang agak jauh. Apalagi kalau yg makannya gak sampai habis, 
buang sampah masih dengan isinya...... .Hiii...bercecer an dimana2.
 
But it was  really  nice ......Thanks for FJB-nya..... ditunggu FJB – FJB 
berikutnya.. ......... ..
 
 
Rgrds,
Winny
 
 
 
 
 
 
  
 


      

Kirim email ke