Siapa tak ingat es goyang? Siapa tak kangen kepada es unik ini? Ya, es 
goyang-atau ada pula yang menyebutnya sebagai es lilin-memang bikin kangen. 
Disebut es lilin karena bentuknya panjang menyerupai lilin, meski sebetulnya es 
ini berbentuk batangan. Disebut es goyang karena proses pembuatannya memang 
harus digoyang-goyang.
   
Sayang, es zaman lampau ini sekarang tak mudah ditemukan. Jenis es ini kalah 
oleh serbuan es krim modern yang tak hanya memenuhi pasar swalayan, tapi juga 
meramaikan jalan di perumahan hingga pasar malam di lapangan besar semacam 
Monas. 
   
Jika di masa lalu pedagang es goyang hanya menyediakan satu atau dua rasa. Kini 
pedagang menawarkan beberapa rasa plus lelehan cokelat. Ada juga pedagang yang 
menambah topping berupa remukan kacang tanah goreng. 

Kini pembeli bisa memilih rasa cokelat, stroberi, durian, nangka, kacang hitam, 
kacang hijau, atau lainnya. Tentu bahan utama tetaplah santan yang kemudian 
dicampur dengan berbagai macam rasa tadi. Ukuran es ini pun berubah. Jika dulu 
bentuk es ini kotak memanjang, kini bentuknya agak sedikit mirip es krim 
modern. Bedanya tentu saja bahan, rasa, proses pembuatan, proses penjualan, dan 
pemasarannya.

Pemasaran es goyang rata-rata masih menggunakan cara kuno, yakni dari mulut ke 
mulut, karena penjual es ini jarang yang mangkal. Kalaupun mangkal, bisa 
ditebak, cari saja di sekolah-sekolah. Contohnya, pedagang es goyang yang 
mangkal di Sekolah Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Pedagang lain juga 
kebanyakan mangkal di sekolah-sekolah, pada jam sekolah. Selepas itu mereka 
akan berkeliling.
   
Sebatang es goyang bisa ditukar dengan uang Rp 1.500. Tak puas sebatang, wajar. 
Di lidah, rasa itu bikin penasaran. Apalagi jika sebelum membeli, konsumen 
melihat proses pembuatannya. Makin penasaran.

Adalah M Junaedi yang biasa berdagang es goyang di daerah Jembatan Besi, 
Jakarta Barat. Perjalanan panjang dilaluinya sejak tahun 1974, saat ia memulai 
usaha ini. Setiap hari, pukul 07.00-12.00, gerobaknya parkir di depan Sekolah 
Setia Kawan, Jembatan Besi. "Abis itu keliling," ujar Junaedi.

Pradaningrum Mijarto
© 2008 Kompas

Kirim email ke