Omong omong soal es, saya ingat bahwa di Rawon Setan Mbak Endang, Jalan Mangga besar 100A , ternyata ada jual es krim yang rasanya unik, bayangkan ada es krim rasa ketan item, ada yang rasa mangga jadinya es krim ini bener bener paham selera orang kita . Abis makan rawon, ayam penyet dan pecel, kayaknya cocok deh makan es krim unik ini , udah gitu low fat , jadi seperti hidangan semua umur . Dari anak anak kecil sampe mbah dan eyang kakung bisa makan . Kalau gak salah pilihan rasanya ada 59 , mmmm boleh juga kalo dicoba ( mudah mudahan aja lengkap rasanya ), tetapi kalo belum lengkap coba aja yang rasa unik tadi
Untuk yang tinggal di daerah Tebet, maka es krim low fat ini ada di Tebet Indraya Square ( TIS ), yaitu di resto Bakmi Toko Tiga, kalao biasanya orang rada was was makan es krim, maka yang ini gak usah mikir terlalu jauh deh, kayaknya disini cocok yang rasa green tea dan strawberry, tapi buat anak anak banyak banget pilihannya, suggest sih cookies and cream ... Soal harga, pasti dijamin masih terjangkau..... Best regards, Hend ----- Original Message ---- From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected]; media jakarta <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, September 9, 2008 8:56:14 AM Subject: [bango-mania] Es Goyang Siapa tak ingat es goyang? Siapa tak kangen kepada es unik ini? Ya, es goyang-atau ada pula yang menyebutnya sebagai es lilin-memang bikin kangen. Disebut es lilin karena bentuknya panjang menyerupai lilin, meski sebetulnya es ini berbentuk batangan. Disebut es goyang karena proses pembuatannya memang harus digoyang-goyang. Sayang, es zaman lampau ini sekarang tak mudah ditemukan. Jenis es ini kalah oleh serbuan es krim modern yang tak hanya memenuhi pasar swalayan, tapi juga meramaikan jalan di perumahan hingga pasar malam di lapangan besar semacam Monas. Jika di masa lalu pedagang es goyang hanya menyediakan satu atau dua rasa. Kini pedagang menawarkan beberapa rasa plus lelehan cokelat. Ada juga pedagang yang menambah topping berupa remukan kacang tanah goreng. Kini pembeli bisa memilih rasa cokelat, stroberi, durian, nangka, kacang hitam, kacang hijau, atau lainnya. Tentu bahan utama tetaplah santan yang kemudian dicampur dengan berbagai macam rasa tadi. Ukuran es ini pun berubah. Jika dulu bentuk es ini kotak memanjang, kini bentuknya agak sedikit mirip es krim modern. Bedanya tentu saja bahan, rasa, proses pembuatan, proses penjualan, dan pemasarannya. Pemasaran es goyang rata-rata masih menggunakan cara kuno, yakni dari mulut ke mulut, karena penjual es ini jarang yang mangkal. Kalaupun mangkal, bisa ditebak, cari saja di sekolah-sekolah. Contohnya, pedagang es goyang yang mangkal di Sekolah Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Pedagang lain juga kebanyakan mangkal di sekolah-sekolah, pada jam sekolah. Selepas itu mereka akan berkeliling. Sebatang es goyang bisa ditukar dengan uang Rp 1.500. Tak puas sebatang, wajar. Di lidah, rasa itu bikin penasaran. Apalagi jika sebelum membeli, konsumen melihat proses pembuatannya. Makin penasaran. Adalah M Junaedi yang biasa berdagang es goyang di daerah Jembatan Besi, Jakarta Barat. Perjalanan panjang dilaluinya sejak tahun 1974, saat ia memulai usaha ini. Setiap hari, pukul 07.00-12.00, gerobaknya parkir di depan Sekolah Setia Kawan, Jembatan Besi. "Abis itu keliling," ujar Junaedi. Pradaningrum Mijarto © 2008 Kompas
