Sudah bukan rahasia lagi, masih banyak tikus2 berdasi yang sewaktu2 mengerat 
siapa saja yang mendekat.
Ohh... Indonesiaku.... pahlawanku pejuang kemerdekaan... hingga kini kami belum 
seutuhnya 'MERDEKA'  !!
salam,
di2


  ----- Original Message ----- 
  From: Berthy B Rahawarin 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; pineleng ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, 13 November, 2008 11:41 PM
  Subject: [bango-mania] Kantor IMMIGRASI Jakarta Barat: "Preman" Berdasi?


        Dear All,

        Kalimat sarkastik ini tampaknya belum punah di jiwa sebagian 
penyelenggara birokrasi kita: "KALAU BISA DIPERSULIT, MENGAPA DIPERMUDAH!?!? 
KALAU DIPERLAMA, MENGAPA MESTI DIPERCEPAT (URUSAN WARGA-NEGARA)??? Dst. 
Karikatur GM Sudharta, di harian KOMPAS, Selasa, 11 November, sesuai dengan 
kejadian di Kantor Immigrasi Jakarta-Barat. 

        Pengalaman tak menyenangkan harus saya terima ketika mengurus passport 
di Kantor Immigarasi JAKARTA BARAT dalam PROSES MENGURUS PASSPORT. 

        Kronologinya: hari Senin, 3 November 2008, saya mengantar adik ipar 
sekeluarga yang mengurus passpor lewat Biro Jasa (jadi hanya datang foto). 
Dibantu kantor sosial, saya bertekad mengurus sendiri TANPA Biro Jasa. 
Bertambah semangat juga, karena tertarik "biaya resmi" yang tercantum TERANG 
dan RINCI di depan Kantor Immigrasi Jakarta Barat.

        Pada hari pertama itu, saya menyerahkan semua item berkas berkas 
copy-an yang diminta SECARA LENGKAP (tidak kurang). Saya menunggu kurang lebih 
dari jam 08.30 hingga jam 13.30, hanya untuk mendapatkan TANDA TERIMA (dengan 
CATATAN (TERTULIS), bahwa Rabu, jam 13.20, kembali lagi untuk pengambilan 
foto-diri dan sidik jari, serta wawancara, didahului dengan 
PEMBAYARAN-PELUNASAN total biaya sebesar Rp.270.000,- Saya mendapatkan tanda 
pembayaran untuk ditunjukkan waktu foto dan pengambilan sidik jari serta 
wawancara. Setelah diwawancarai sore itu, SECARA LISAN seorang ibu yang cukup 
ramah mengatakan silahkan datang kembali hari Jumat, 7 November. Saya tanya jam 
pengambilan, dan meminta datang sorean (karna saya datang jam hampir jam 
15.00). Kepada ibu yang ramah itu, saya mengatakan: "Saya akan datang Senen 
saja untuk mengambil passportnya". Ia mengiayakan. 

        Hari yang tidak mengenakkan itu akhirnya tiba. Tidak jadi datang hari 
Senin, 10 November, saya baru datang hari Selasa, 11 November. Setelah dua kali 
salah ruangan, saya datang ke tempat PENGAMBILAN PASSPORT. Setiba di situ, 
katanya data saya belum beres. Saya kembali menanyakan ibu pewawancara itu, 
yang kemudian mengantar saya ke tempat pengambilan passport (tentu dengan 
mengganggu klien yang antri). Sambil menunggu di ruang yang lain, saya 
menanyakan berapa lama saya harus menunggu, karena saya akan rapat pada jam 
11.00 di Jakarta Selatan.

        Pegawai yang tampak membawa berkas passport saya, kemudian mendekati 
saya sambil mengatakan: "Pak, bisa dibereskan hari ini, asal mengertilah...". 
Terpancing emosi saya mendengar perkataan orang berkaca-mata yang berkumis itu. 
"Mengerti maksudnya apa?" tanyaku dengan nada kesel. Akhirnya, pegawai yang 
saya baca bernama Dudung, MM itu kemudian tampak kelabakan dan menuju ruang 
lain, katanya untuk ditanda-tangani atasannya. Suasana sama-sekali sudah tidak 
mengenakkan, ditambah saya harus mengejar waktu ke Jakarta Selatan. Saya 
meminta Pak Dudung, MM itu untuk mengembalikan tanda-terima saya, sekaligus 
saya meminta SECARA TERTULIS menulis HARI, JAM dan NAMA-nya, di atas 
tanda-pembayaran (pelunasan) dengan setengah mendikte. Pak Dudung, MM menulis 
nama dengan samar "Sugeng"

        Saya baru mengambil passport Kamis, 13 November, jam 11.30. Pegawai di 
loket pengambilan passport yang menyerahkan passport. Pak Dudung, MM, yang 
menulis namanya dengan samar "sugeng", hari ini menggunakan nama "ARDANI". Luar 
biasa: Dudung, MM, alias Sugeng, alias ARDANI.

        Saya berpikir apa perlu mengirim SMS ke nomor pengaduan 08888300303, 
yang dicantumkan di depan loket. Karena, keseluruhan pelayanan HANYA TAMPAK 
TRANSPARAN. Tapi, sesungguhnya, dalam keseluruhannya praktik birokrasi kantor 
Immiggrasi Jakarta Barat itu telah nyata sebagai sebuah praktek yang GELAP, 
MAHAL dan LAMA. Semuanya hanya TERANG kalau secara TERANG-TERANGAN MEMBAYAR DI 
ATAS HARGA YANG DITENTUKAN. SEMAKIN MELAMBUNG MEMBAYARNYA, SEMAKIN SINGKAT 
JALANNYA. Waktu hanya sebuah daya tawar. 

        Kasihan saya pada ARDANI alias Sugeng, alias Dudung, tapi LEBIH KASIHAN 
pada RAKYAT lain yang PUNYA KETERBATASAN dalam segala aspeknya.

        wassalam,
        ex toto corde,
        Berthy B Rahawarin
        [EMAIL PROTECTED]

        Untuk sesuatu yang kuyakini sebagai benar, kuuji berulang-kali sampai 
kebenaran itu kuanggap tetap perlu diuji.
        (Oleh, Anak Ayahku yang bukan Saudaraku) 



   

Kirim email ke