Dear All,

Memang pengertian "Preman" terlihat begitu sempit, saya tak habis pikir ketika 
kemaren berkunjung ke pameran komputer di Senayan, maka untuk parkir saya 
diminta Rp 5.000- ( padahal untuk masuk hanya bayar Rp 3.000,- jadi tarif liar 
sudah mengalahkan tarif resmi. Saya mencoba menolak, dengan mengatakan : "Mas 
tidak takut kena razia preman, karena bagi saya ini sudah pemerasan juga 
sifatnya ". Dengan tenangnya ia menjawab" Ah emang ini kan sudah biasa, saya 
kan mesti setor juga , setorannya naik nih pak !". 
Mungkin sekali preman penerima setoran, bukan preman yang berkeringat di 
lapangan, bisa saja ia adalah oknum berdasi juga, yang menguasai Gelora Senayan 
dan sekitarnya.
Mestinya yang sifatnya semacam pemerasan begitu, jangan dibiarkan dong pak 
Polisi!.  
Anehnya , dulu di gelora senayan itu masuknya pake parkir jam jaman, sekarang 
cuma Rp 3000,- saya pikir alangkah bijakanya pemda dki dan pengelola gelora 
senayan, rupanya tetap saja mahalnya, karena didalam kita ditotok Rp. 5.000,-  
Mungkin dianggap semua pemakai mobil adalah orang kaya raya semua!.

Wassalam

HH





________________________________
From: Berthy B Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; pineleng <[EMAIL PROTECTED]>; 
[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, November 13, 2008 11:41:16 PM
Subject: [bango-mania] Kantor IMMIGRASI Jakarta Barat: "Preman" Berdasi?


Dear All,
 
Kalimat sarkastik ini tampaknya belum punah di jiwa sebagian penyelenggara 
birokrasi kita: "KALAU BISA DIPERSULIT, MENGAPA DIPERMUDAH!? !? KALAU 
DIPERLAMA, MENGAPA MESTI DIPERCEPAT (URUSAN WARGA-NEGARA) ??? Dst. Karikatur GM 
Sudharta, di harian KOMPAS, Selasa, 11 November, sesuai dengan kejadian di 
Kantor Immigrasi Jakarta-Barat. 
 
Pengalaman tak menyenangkan harus saya terima ketika mengurus passport di 
Kantor Immigarasi JAKARTA BARAT dalam PROSES MENGURUS PASSPORT. 
 
Kronologinya: hari Senin, 3 November 2008, saya mengantar adik ipar sekeluarga 
yang mengurus passpor lewat Biro Jasa (jadi hanya datang foto). Dibantu kantor 
sosial, saya bertekad mengurus sendiri TANPA Biro Jasa. Bertambah semangat 
juga, karena tertarik "biaya resmi" yang tercantum TERANG dan RINCI di depan 
Kantor Immigrasi Jakarta Barat.
 
Pada hari pertama itu, saya menyerahkan semua item berkas berkas copy-an yang 
diminta SECARA LENGKAP (tidak kurang). Saya menunggu kurang lebih dari jam 
08.30 hingga jam 13.30, hanya untuk mendapatkan TANDA TERIMA (dengan CATATAN 
(TERTULIS), bahwa Rabu, jam 13.20, kembali lagi untuk pengambilan foto-diri dan 
sidik jari, serta wawancara, didahului dengan PEMBAYARAN-PELUNASA N total biaya 
sebesar Rp.270.000,- Saya mendapatkan tanda pembayaran untuk ditunjukkan waktu 
foto dan pengambilan sidik jari serta wawancara. Setelah diwawancarai sore itu, 
SECARA LISAN seorang ibu yang cukup ramah mengatakan silahkan datang kembali 
hari Jumat, 7 November. Saya tanya jam pengambilan, dan meminta datang sorean 
(karna saya datang jam hampir jam 15.00). Kepada ibu yang ramah itu, saya 
mengatakan: "Saya akan datang Senen saja untuk mengambil passportnya" . Ia 
mengiayakan. 
 
Hari yang tidak mengenakkan itu akhirnya tiba. Tidak jadi datang hari Senin, 10 
November, saya baru datang hari Selasa, 11 November. Setelah dua kali salah 
ruangan, saya datang ke tempat PENGAMBILAN PASSPORT. Setiba di situ, katanya 
data saya belum beres. Saya kembali menanyakan ibu pewawancara itu, yang 
kemudian mengantar saya ke tempat pengambilan passport (tentu dengan mengganggu 
klien yang antri). Sambil menunggu di ruang yang lain, saya menanyakan berapa 
lama saya harus menunggu, karena saya akan rapat pada jam 11.00 di Jakarta 
Selatan.
 
Pegawai yang tampak membawa berkas passport saya, kemudian mendekati saya 
sambil mengatakan: "Pak, bisa dibereskan hari ini, asal mengertilah. ..". 
Terpancing emosi saya mendengar perkataan orang berkaca-mata yang berkumis itu. 
"Mengerti maksudnya apa?" tanyaku dengan nada kesel. Akhirnya, pegawai yang 
saya baca bernama Dudung, MM itu kemudian tampak kelabakan dan menuju ruang 
lain, katanya untuk ditanda-tangani atasannya. Suasana sama-sekali sudah tidak 
mengenakkan, ditambah saya harus mengejar waktu ke Jakarta Selatan. Saya 
meminta Pak Dudung, MM itu untuk mengembalikan tanda-terima saya, sekaligus 
saya meminta SECARA TERTULIS menulis HARI, JAM dan NAMA-nya, di atas 
tanda-pembayaran (pelunasan) dengan setengah mendikte. Pak Dudung, MM menulis 
nama dengan samar "Sugeng"
 
Saya baru mengambil passport Kamis, 13 November, jam 11.30. Pegawai di loket 
pengambilan passport yang menyerahkan passport. Pak Dudung, MM, yang menulis 
namanya dengan samar "sugeng", hari ini menggunakan nama "ARDANI". Luar biasa: 
Dudung, MM, alias Sugeng, alias ARDANI.
 
Saya berpikir apa perlu mengirim SMS ke nomor pengaduan 08888300303, yang 
dicantumkan di depan loket. Karena, keseluruhan pelayanan HANYA TAMPAK 
TRANSPARAN. Tapi, sesungguhnya, dalam keseluruhannya praktik birokrasi kantor 
Immiggrasi Jakarta Barat itu telah nyata sebagai sebuah praktek yang GELAP, 
MAHAL dan LAMA. Semuanya hanya TERANG kalau secara TERANG-TERANGAN MEMBAYAR DI 
ATAS HARGA YANG DITENTUKAN. SEMAKIN MELAMBUNG MEMBAYARNYA, SEMAKIN SINGKAT 
JALANNYA. Waktu hanya sebuah daya tawar. 
 
Kasihan saya pada ARDANI alias Sugeng, alias Dudung, tapi LEBIH KASIHAN pada 
RAKYAT lain yang PUNYA KETERBATASAN dalam segala aspeknya.
 
wassalam,
ex toto corde,
Berthy B Rahawarin
[EMAIL PROTECTED] com
 
Untuk sesuatu yang kuyakini sebagai benar, kuuji berulang-kali sampai kebenaran 
itu kuanggap tetap perlu diuji.
(Oleh, Anak Ayahku yang bukan Saudaraku) 
    


      

Kirim email ke