Saya pernah mengurus pasport di kantor imigrasi Jakarta Timur. Biaya 
pengurusan lewat calo (baca: aparat imigrasi-red) adalah Rp 700.000,- 
setelah negosiasi yang semula Rp 800.000,-. Tapi saya termasuk beruntung, 
karena dibagian belakang kantor imigrasi banyak berjejer meja-meja 
"swasta" untuk pengurusan para TKI. Besar biaya pengurusan pasport untuk 
para "duta" bangsa ini sebesar Rp 1.300.000,-. Masya Allah, ternyata 
pemerasan terhadap bangsa sendiri justru dimulai dari para PEJABAT yang 
bermental TIKUS. Ya Rabb, ampunilah dosa-dosa hamba MU ini yang 
mendapatkan rezeki melalui cara-cara yang tidak halal ini. Lindungi dan 
Selamatkan anggota keluarga mereka dari api neraka atas rezeki yang 
mengalir di dalam tubuh mereka. Amien.





"Didi" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
14/11/2008 08:29
Please respond to
[email protected]


To
<[email protected]>
cc

Subject
Re: [bango-mania] Kantor IMMIGRASI Jakarta Barat: "Preman" Berdasi?









Sudah bukan rahasia lagi, masih banyak tikus2 berdasi yang sewaktu2 
mengerat siapa saja yang mendekat.
Ohh... Indonesiaku.... pahlawanku pejuang kemerdekaan... hingga kini kami 
belum seutuhnya 'MERDEKA'  !!
salam,
di2
 
 
----- Original Message ----- 
From: Berthy B Rahawarin 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; pineleng ; 
[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, 13 November, 2008 11:41 PM
Subject: [bango-mania] Kantor IMMIGRASI Jakarta Barat: "Preman" Berdasi?



Dear All,
 
Kalimat sarkastik ini tampaknya belum punah di jiwa sebagian penyelenggara 
birokrasi kita: "KALAU BISA DIPERSULIT, MENGAPA DIPERMUDAH!?!? KALAU 
DIPERLAMA, MENGAPA MESTI DIPERCEPAT (URUSAN WARGA-NEGARA)??? Dst. 
Karikatur GM Sudharta, di harian KOMPAS, Selasa, 11 November, sesuai 
dengan kejadian di Kantor Immigrasi Jakarta-Barat. 
 
Pengalaman tak menyenangkan harus saya terima ketika mengurus passport di 
Kantor Immigarasi JAKARTA BARAT dalam PROSES MENGURUS PASSPORT. 
 
Kronologinya: hari Senin, 3 November 2008, saya mengantar adik ipar 
sekeluarga yang mengurus passpor lewat Biro Jasa (jadi hanya datang foto). 
Dibantu kantor sosial, saya bertekad mengurus sendiri TANPA Biro Jasa. 
Bertambah semangat juga, karena tertarik "biaya resmi" yang tercantum 
TERANG dan RINCI di depan Kantor Immigrasi Jakarta Barat.
 
Pada hari pertama itu, saya menyerahkan semua item berkas berkas copy-an 
yang diminta SECARA LENGKAP (tidak kurang). Saya menunggu kurang lebih 
dari jam 08.30 hingga jam 13.30, hanya untuk mendapatkan TANDA TERIMA 
(dengan CATATAN (TERTULIS), bahwa Rabu, jam 13.20, kembali lagi untuk 
pengambilan foto-diri dan sidik jari, serta wawancara, didahului dengan 
PEMBAYARAN-PELUNASAN total biaya sebesar Rp.270.000,- Saya mendapatkan 
tanda pembayaran untuk ditunjukkan waktu foto dan pengambilan sidik jari 
serta wawancara. Setelah diwawancarai sore itu, SECARA LISAN seorang ibu 
yang cukup ramah mengatakan silahkan datang kembali hari Jumat, 7 
November. Saya tanya jam pengambilan, dan meminta datang sorean (karna 
saya datang jam hampir jam 15.00). Kepada ibu yang ramah itu, saya 
mengatakan: "Saya akan datang Senen saja untuk mengambil passportnya". Ia 
mengiayakan. 
 
Hari yang tidak mengenakkan itu akhirnya tiba. Tidak jadi datang hari 
Senin, 10 November, saya baru datang hari Selasa, 11 November. Setelah dua 
kali salah ruangan, saya datang ke tempat PENGAMBILAN PASSPORT. Setiba di 
situ, katanya data saya belum beres. Saya kembali menanyakan ibu 
pewawancara itu, yang kemudian mengantar saya ke tempat pengambilan 
passport (tentu dengan mengganggu klien yang antri). Sambil menunggu di 
ruang yang lain, saya menanyakan berapa lama saya harus menunggu, karena 
saya akan rapat pada jam 11.00 di Jakarta Selatan.
 
Pegawai yang tampak membawa berkas passport saya, kemudian mendekati saya 
sambil mengatakan: "Pak, bisa dibereskan hari ini, asal mengertilah...". 
Terpancing emosi saya mendengar perkataan orang berkaca-mata yang berkumis 
itu. "Mengerti maksudnya apa?" tanyaku dengan nada kesel. Akhirnya, 
pegawai yang saya baca bernama Dudung, MM itu kemudian tampak kelabakan 
dan menuju ruang lain, katanya untuk ditanda-tangani atasannya. Suasana 
sama-sekali sudah tidak mengenakkan, ditambah saya harus mengejar waktu ke 
Jakarta Selatan. Saya meminta Pak Dudung, MM itu untuk mengembalikan 
tanda-terima saya, sekaligus saya meminta SECARA TERTULIS menulis HARI, 
JAM dan NAMA-nya, di atas tanda-pembayaran (pelunasan) dengan setengah 
mendikte. Pak Dudung, MM menulis nama dengan samar "Sugeng"
 
Saya baru mengambil passport Kamis, 13 November, jam 11.30. Pegawai di 
loket pengambilan passport yang menyerahkan passport. Pak Dudung, MM, yang 
menulis namanya dengan samar "sugeng", hari ini menggunakan nama "ARDANI". 
Luar biasa: Dudung, MM, alias Sugeng, alias ARDANI.
 
Saya berpikir apa perlu mengirim SMS ke nomor pengaduan 08888300303, yang 
dicantumkan di depan loket. Karena, keseluruhan pelayanan HANYA TAMPAK 
TRANSPARAN. Tapi, sesungguhnya, dalam keseluruhannya praktik birokrasi 
kantor Immiggrasi Jakarta Barat itu telah nyata sebagai sebuah praktek 
yang GELAP, MAHAL dan LAMA. Semuanya hanya TERANG kalau secara 
TERANG-TERANGAN MEMBAYAR DI ATAS HARGA YANG DITENTUKAN. SEMAKIN MELAMBUNG 
MEMBAYARNYA, SEMAKIN SINGKAT JALANNYA. Waktu hanya sebuah daya tawar. 
 
Kasihan saya pada ARDANI alias Sugeng, alias Dudung, tapi LEBIH KASIHAN 
pada RAKYAT lain yang PUNYA KETERBATASAN dalam segala aspeknya.
 
wassalam,
ex toto corde,
Berthy B Rahawarin
[EMAIL PROTECTED]
 
Untuk sesuatu yang kuyakini sebagai benar, kuuji berulang-kali sampai 
kebenaran itu kuanggap tetap perlu diuji.
(Oleh, Anak Ayahku yang bukan Saudaraku)

 

<<image/gif>>

Kirim email ke