Nostalgia Asinan Betawi 1950-an Begitu mendengar nama Menteng Pulo, Jakarta, ingatan banyak orang langsung tertuju ke kuburan. Kuburan taman yang tertata rapi itu adalah kuburan milik Belanda bernama Ereveld Menteng Pulo. Padahal selain yang seram-seram itu, kawasan tersebut juga menyimpan makanan tradisional yang sudah ada setengah abad lamanya.
Tepatnya di seberang Jalan Menteng Pulo, ada gang bernama Gang Sadar. Di mulut gang ini setiap hari nangkring pedagang Asinan Betawi. Asinan ini kini sudah memasuki generasi ketiga. Riwayatnya berawal dari sang kakek, yang asli Betawi, berkeliling menjajakan asinan pikulan hingga ke seputaran Jalan Dr Satrio di masa kini. Setelah si kakek lelah memikul dagangan, tongkat estafet diserahkan ke generasi kedua yang sebentar berjualan dengan pikulan untuk kemudian memilih mangkal di kawasan Menteng Pulo. Berlanjut kemudian ke generasi ketiga. "Saya enggak tau kalau ditanya tahun berapa. Tapi udah lama, dari sejak kakek," ujar Anih, generasi ketiga Asinan Betawi ini. Sayangnya, baik Anih maupun adiknya, Inah, mengaku sama sekali tak ingat nama ayahnya, penerus kedua. Apalagi nama sang kakek. "Udah enggak ada semua. Saya enggak tau namanya siapa," tegas Inah, yang diamini Anih. Asinan Betawi yang satu ini masih dijajakan menggunakan pikulan, meski penjualnya mangkal. Biasanya, orang membeli asinan ini untuk dibawa pulang karena memang tak ada tempat tersisa bagi mereka yang ingin menyantap asinan segar ini di tempat jualannya. Karena berada di gang sempit, maka pembeli dan pedagang harus selalu bersenggolan dengan pengendara motor yang hilir mudik dari dan ke gang ini. Bungkus pisang Asinan seharga Rp 7.000 per porsi ini dibungkus dengan daun pisang sehingga menambah aroma. Isinya taoge dan kol di tambah sawi Cina, tahu dan timun yang sudah direndam air cabai dan cuka. Setelah itu, kacang tanah digoreng ditebar, kemudian diguyur lelehan gula jawa, sambal (jika mau), plus sedikit garam. Setelah itu kuah cuka ditambahkan ke adonan tersebut. Terakhir, kerupuk kampung berwarna merah disebar. Jika mau, bisa ditambah kerupuk mi berwarna kuning. Harganya Rp 2.000 per kerupuk. Sebelum asinan ini disantap, aduk semua sampai rata. Maka rasa sebenarnya akan langsung menyentak lidah. Asam, manis, asin, dan berbagai rasa asli dari sayur-mayur yang digunakan. Jika ditambah sambal, tentu rasa pedas makin bikin semangat. Karena dagangan ini sudah ada sejak sekitar 1950-an, maka tak aneh jika pelanggannya juga banyak dan turun temurun. Contohnya saat Warta Kota tanpa sengaja bertemu pelanggan yang sudah sejak tahun 1960-an sering menikmati asinan ini. "Sudah sejak tahun 1960-an, sejak masih kecil, saya udah sering makan asinan ini. Dulu saya tinggal di Berlan, sering main ke sini cuma untuk cari asinan ini," ujar Spriati, yang kini tinggal di Pasar Rebo dan tetap kangen kepada Asinan Betawi ini. Sekarang, Supriati menjabat Kepala Sekolah Dasar Palmeriam. Bersama putrinya, dia rela menerjang jalanan Jakarta yang macet dan berdenu demi sebuah nostalgia dari seporsi Asinan Betawi. Asinan Betawi memang tak hanya ada di Gang Sadar, Jembatan Merah, Jakarta Selatan, ini. Di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Kamboja, Rawamangun,juga ada Asinan Betawi yang sudah berumur. Di tempat itu pembeli bisa makan di tempat karena penjual asinan ini punya tempat bernaung berupa warung. Soal rasa, semua tergantung selera. (pra) Warta Kota Minggu, 22 Juni 2008 ________________________________________________________ Pernah tertipu Anih dan Inah adalah dua dari 11 bersaudara putra-putri si jagoan Asinan Betawi Jembatan Merah. Entah kekecewaan sebesar apa yang pernah menimpa mereka sampai-sampai kapok menghadapi wartawan. Bahkan ketika beberapa panitia menawari mereka untuk ikut pada acara jajanan yang sudah sering digelar, acara pernikahan, atau mengisi di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), mereka menampiknya. "Capek kalau ikut kayak gitu. Enggak ada tenaganya. Kita kan pagi-pagi udah harus belanja," kata Anih. Untung Anih akhirnya mau angkat bicara setelah sebelumnya mereka berdua tiba-tiba tutup mulut begitu tahu ada wartawan datang. "Abis dulu kita pernah ditipu. Ada dari majalah katanya mau dikasih bonus sama majalahnya. Sampai sekarang enggak pernah nongol. Dari koran itu juga pernah dateng dua orang. Katanya korannya mau dianter, tapi akhirnya kita beli sendiri. Jadi kita udah trauma sama wartawan," kata Inah yang sempat tiba-tiba mengeluh sakit gigi sehingga tak mau bicara. Dua bersaudara ini tentu saja cuma warga lugu yang berusaha melanjutkan warisan orangtua. Mereka yang tak biasa dengan basa-basi orang Jakarta yang kadang kebablasan, akhirnya memilih makin menyembunyikan diri. "Pokoknya saya enggak tahu apa-apa. Kita cuma jualan aja di sini," tandas Anih. (pra) Warta Kota Minggu, 22 Juni 2008 ________________________________________________________
