kasi informasi donk tg yang nomor 2... lokasinya dimananya otista? yang nomor 3 juga jempolan..
Hori. Pada 24 November 2008 16:56, adm.bangus1 <[EMAIL PROTECTED]>menulis: > Wah… > > Baca ceritanya mpe ngeces… hehehehe.. > > > > Soale aku pencinta ma makanan betawi yang satu ini… > > Daftar asinan yang aku punya, dan rasanya mak nyus banget… > > > > 1. Asinan Pasar Jangkrik belakang stasiun jatinegara > 2. Asinan Bang Sodri di Otista > 3. Asinan Kamboja di Rawamangun > 4. Asinan Condet juga tuh,,,lupa tepatnya di mana… > 5. Asinan yang belakang Jogja Plaza – klender di Pahlawan revolusi juga > mantapp....dagangnya pake gerobak juga tuh… > > > > Tapi yang paling top mah asinan di Pasar Jangkrik itu… > > Hmmmmm…. > > > > Kuliner Asinan yuks… > > > > Cheers > > wita > > > > > > -----Original Message----- > *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On > Behalf Of *Hori Prastowo > *Sent:* Monday, November 24, 2008 9:24 AM > *To:* [email protected] > *Subject:* Re: [bango-mania] Nostalgia Asinan Betawi 1950-an > > > > walaupun mak Anih rada2 judes tapi asinan-nya muantap banget... > > yang penasaran ma wajah mak Anih, silahkan dilihat di attachment > dapet dari blogwalking : > http://mnrp.wordpress.com/2008/09/18/asinan-jakarta/ > > > Pada 24 November 2008 07:44, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Nostalgia Asinan Betawi 1950-an > > > > Begitu mendengar nama Menteng Pulo, Jakarta, ingatan banyak orang langsung > tertuju ke kuburan. Kuburan taman yang tertata rapi itu adalah kuburan milik > Belanda bernama Ereveld Menteng Pulo. Padahal selain yang seram-seram itu, > kawasan tersebut juga menyimpan makanan tradisional yang sudah ada setengah > abad lamanya. > > > > Tepatnya di seberang Jalan Menteng Pulo, ada gang bernama Gang Sadar. Di > mulut gang ini setiap hari nangkring pedagang Asinan Betawi. Asinan ini kini > sudah memasuki generasi ketiga. Riwayatnya berawal dari sang kakek, yang > asli Betawi, berkeliling menjajakan asinan pikulan hingga ke seputaran Jalan > Dr Satrio di masa kini. > > > > Setelah si kakek lelah memikul dagangan, tongkat estafet diserahkan ke > generasi kedua yang sebentar berjualan dengan pikulan untuk kemudian memilih > mangkal di kawasan Menteng Pulo. Berlanjut kemudian ke generasi ketiga. > "Saya enggak tau kalau ditanya tahun berapa. Tapi udah lama, dari sejak > kakek," ujar Anih, generasi ketiga Asinan Betawi ini. > > > > Sayangnya, baik Anih maupun adiknya, Inah, mengaku sama sekali tak ingat > nama ayahnya, penerus kedua. Apalagi nama sang kakek. "Udah enggak ada > semua. Saya enggak tau namanya siapa," tegas Inah, yang diamini Anih. > > > > Asinan Betawi yang satu ini masih dijajakan menggunakan pikulan, meski > penjualnya mangkal. Biasanya, orang membeli asinan ini untuk dibawa pulang > karena memang tak ada tempat tersisa bagi mereka yang ingin menyantap asinan > segar ini di tempat jualannya. Karena berada di gang sempit, maka pembeli > dan pedagang harus selalu bersenggolan dengan pengendara motor yang hilir > mudik dari dan ke gang ini. > > > > Bungkus pisang > > > Asinan seharga Rp 7.000 per porsi ini dibungkus dengan daun pisang sehingga > menambah aroma. Isinya taoge dan kol di tambah sawi Cina, tahu dan timun > yang sudah direndam air cabai dan cuka. Setelah itu, kacang tanah digoreng > ditebar, kemudian diguyur lelehan gula jawa, sambal (jika mau), plus sedikit > garam. > > > > Setelah itu kuah cuka ditambahkan ke adonan tersebut. Terakhir, kerupuk > kampung berwarna merah disebar. Jika mau, bisa ditambah kerupuk mi berwarna > kuning. Harganya Rp 2.000 per kerupuk. Sebelum asinan ini disantap, aduk > semua sampai rata. Maka rasa sebenarnya akan langsung menyentak lidah. Asam, > manis, asin, dan berbagai rasa asli dari sayur-mayur yang digunakan. Jika > ditambah sambal, tentu rasa pedas makin bikin semangat. > > > > Karena dagangan ini sudah ada sejak sekitar 1950-an, maka tak aneh jika > pelanggannya juga banyak dan turun temurun. Contohnya saat Warta Kota tanpa > sengaja bertemu pelanggan yang sudah sejak tahun 1960-an sering menikmati > asinan ini. > > > > "Sudah sejak tahun 1960-an, sejak masih kecil, saya udah sering makan > asinan ini. Dulu saya tinggal di Berlan, sering main ke sini cuma untuk cari > asinan ini," ujar Spriati, yang kini tinggal di Pasar Rebo dan tetap kangen > kepada Asinan Betawi ini. Sekarang, Supriati menjabat Kepala Sekolah Dasar > Palmeriam. Bersama putrinya, dia rela menerjang jalanan Jakarta yang macet > dan berdenu demi sebuah nostalgia dari seporsi Asinan Betawi. > > > > Asinan Betawi memang tak hanya ada di Gang Sadar, Jembatan Merah, Jakarta > Selatan, ini. Di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Kamboja, Rawamangun,juga > ada Asinan Betawi yang sudah berumur. Di tempat itu pembeli bisa makan di > tempat karena penjual asinan ini punya tempat bernaung berupa warung. Soal > rasa, semua tergantung selera. (pra) > > > > Warta Kota > Minggu, 22 Juni 2008 > ________________________________________________________ > > > > Pernah tertipu > > > > Anih dan Inah adalah dua dari 11 bersaudara putra-putri si jagoan Asinan > Betawi Jembatan Merah. Entah kekecewaan sebesar apa yang pernah menimpa > mereka sampai-sampai kapok menghadapi wartawan. Bahkan ketika beberapa > panitia menawari mereka untuk ikut pada acara jajanan yang sudah sering > digelar, acara pernikahan, atau mengisi di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), > mereka menampiknya. "Capek kalau ikut kayak gitu. Enggak ada tenaganya. Kita > kan pagi-pagi udah harus belanja," kata Anih. > > > > Untung Anih akhirnya mau angkat bicara setelah sebelumnya mereka berdua > tiba-tiba tutup mulut begitu tahu ada wartawan datang. "Abis dulu kita > pernah ditipu. Ada dari majalah katanya mau dikasih bonus sama majalahnya. > Sampai sekarang enggak pernah nongol. Dari koran itu juga pernah dateng dua > orang. Katanya korannya mau dianter, tapi akhirnya kita beli sendiri. Jadi > kita udah trauma sama wartawan," kata Inah yang sempat tiba-tiba mengeluh > sakit gigi sehingga tak mau bicara. > > > > Dua bersaudara ini tentu saja cuma warga lugu yang berusaha melanjutkan > warisan orangtua. Mereka yang tak biasa dengan basa-basi orang Jakarta yang > kadang kebablasan, akhirnya memilih makin menyembunyikan diri. "Pokoknya > saya enggak tahu apa-apa. Kita cuma jualan aja di sini," tandas Anih. (pra) > > > > Warta Kota > Minggu, 22 Juni 2008 > ________________________________________________________ > > > > > -- > Facebook me! > http://www.facebook.com/people/Hori_Prastowo/1317077006 > http://www.linkedin.com/in/horiprastowo > > > ------------------------------ > *NOTE:* The information contained in this e-mail is intended only for the > use of the individual or entity named above and may contain information that > is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. > If you are not the intended party to receive the message and its > attachment(s), you are hereby notified that any dissemination, distribution > or copy of the message is strictly prohibited. Please immediately notify the > sender and delete the message as soon as possible. Thank you for kind > attention. > > *CATATAN*: Email yang terkirim melalui PT. PERTAMINA EP bersifat pribadi > dan mungkin rahasia. Jika secara tidak sengaja Anda menerima surat > elektronik ini, mohon maaf. Sekiranya berkenan, mohon untuk memberitahu > kepada pihak pengirim akan kekhi lafannya serta menghapus suratnya. Terima > kasih atas perhatian Anda. > > -- Facebook me! http://www.facebook.com/people/Hori_Prastowo/1317077006 http://www.linkedin.com/in/horiprastowo
