Bagian Kedua dari dua tulisan; Menjadikan Jakarta sebagai obyek turis, tidak harus mengorbankan "banyak hal". Banyak hal yang menyangkut rakyat jelata dan pekerja sektor informal. Penggusuran penjual buku Kwitang yang ditempatkan di pasar Hypermarket bekas pasar Gang Lontar Jakarta misalnya. Jelas pelajar dan mahasiswa akan malas kesana. Sebab letaknya tidak strategis dan jauh dari lokasi kampus dan sekolah mereka. Memang tidak bisa kita pungkiri, Jakarta tujuan utama urbanisasi. Berbondong mengais rejeki di Jakarta. Peminta-minta di jalan raya sudah tidak terlihat. Namun betapa terkejutnya saya ketika menemukan peminta-minta yang bekerja menyapu sampah di dalam kereta api (KRL). Sambil menyapu lantai kereta yang kotor, mereka meminta-minta di dalam KA. Ketika hendak ke Glodok, supir mikrolet yang yang tumpangi memperingtakan tentang banyaknya copet di sekitar Glodok. Sempat was-was juga sampai di Glodok. Sambil mencari kaset PS3 pesanan sanak keluarga di Yunani. Ternyata harga kaset sama saja sebab yang dijual oleh pedagang Glodok. Kaset PS-3 adalah kaset asli dan mereka belum bisa menjual copy-annya. Pedagang kaset menjelaskan bahwa kaset bajakan hanya dapat disetel di Indonesia saja. Banyak sekali software program bajakan masih tetap dijual di Glodok. Tapi saya belum nekad membelinya, sebab takut ketangkap kalau saja ada pemeriksaan di bandara Yunani. Sambil turun tangga, saya sempat mendengar pembicaraan seorang pembeli VCD porno dengan pedagangnya, “Kalau filmnya tidak bagus boleh tukar ya?” Saya hanya bisa senyum melihat transaksi yang terjadi di tepi jalan raya. Ternyata UU Pornografi yang telah disyahkan belum masuk Glodok. Jakarta memang penuh dilemma. Hukum ditegakkan, dilakukan pembersihan. Kemudian pelanggar hukum akan muncul kembali. Para pendatang digusur, namun kembali lagi. Entah sudah berapa kali saya mendengar banyak pedagang VCD, CD bajakan dan software bajakan yang ditangkap. Juga penggusuran tempat-tempat mesum di sepanjang rel kereta api. Daerah Bongkaran di Tanah Abang misalnya. Sejak zaman saya masih SD (tahun 70-an) hingga kini saya masih melihat masih banyak wanita malam duduk di bangku di sepanjang rel KA. Jurang antara yang kaya dan miskin semakin lebar. Hal ini tampak jelas, ketika saya melewati daerah perumahan elit. Lihat saja, daerah Permata Hijau. Di seberangnya banyak berjajar rumah-rumah sederhana dari bahan tripleks. Kampung kumuh Kali Anyar masih tetap sama. Walau Mal Roxy Mas tempat pusat penjualan telepon selular terbesar di Asia Tenggara berada tepat di seberangnya. Bahkan ketika saya naik angkutan melewati daerah pemukiman Duren Tiga; berseberangan dengan rumah mewah tampak seorang Bapak berbaju lusuh sedang mencangkung (jongkok) diatas bangku menghirup kopi di kedai bambu yang kumuh. Di sisi lain semakin banyak saya melihat Starbuck toko kopi Franchaising asal US, yang membuka gerainya di luar mal. Ada gerainya bahkan bersebelahan dengan SPBU (penjual bensin). Menulis tentang Jakarta tidak akan pernah selesai. Banyak hal yang belum saya paparkan dalam dua tulisan ini. Satu hal yang pasti, perubahan yang menyenangkan telah terjadi. Perubahan pelayanan oleh sebagian kantor pemerintah. Pelayanan di kelurahan yang semakin cepat dan tidak pungli. Pelayanan di kantor Polisi yang serba gratis. Walau masih ada peringatan memberi seikhlasnya. Masalah banjir yang menyebabkan penyakit dan kemacetan jalan raya. Yang saya lihat hanya pengorekan lumpur oleh para pekerja di sepanjang jalan raya. Berkantong-kantong lumpur sudah dikorek, dan entah berapa biaya di pos ke aktifitas ini namun tetap tidak membawa hasil. Volume curah hujan lebih besar dibanding jumlah lumpur yang dikorek dari selokan sepanjang jalan Sudirman dllnya. Megara, 21 Desember 2008
Hartati Nurwijaya in Megara - Greece http://resep-mediterania.blogspot.com/
