Dear bu Tati, Bu, kalau ibu Tati yang datang dari Yunani ( meskipun sebelumnya lama di Jakarta ) "terenyuh" , saya amat maklum karena saya sendiri yang tinggal dan lama menetap di Jakarta, selalu terperangah bukan bangga karena kemajuannya ( yang harus diakui memang terus berkembang ) , tetapi ketimpangan dalam segala hal justru ikut berkembang juga selaras dengan perkembangan kotanya. Saya justru kuatir, Jakarta ini cantik dari tampilan luarnya saja, tetapi organ bagian dalamnya banyak yang mengalami sakit penyakit. Beruntung sekali ketika ibu sedang di Jakarta tidak berbarengan dengan "masa tawuran" anak anak sekolah dan mahasiswa . Bayangkan anak anak yang masih sangat kecil di tingkat sd hingga yang sudah kuliah , mudah sekali terlibat pertengkaran fisik. Teman saya yang lulusan Jerman, berkata bahwa tingkat intelektual orang yang lebih suka beradu fisik dengan mereka yang lebih suka berdebat secara pembicaraan memang sangatlah berbeda. Ia sendiri tak enak untuk mengatakan bahwa : "Bangsa kita memang belum bertumbuh secara intelektual ", karena toh sama sama orang Indonesia nya. Bertumbuhnya apartemen apartemen, juga diikuti dengan bertumbuhnya lagi tempat orang berproduksi narkoba, beberapa apartemen di Jakarta, diketahui menjadi sarang produksi narkoba . Bertambahnya mal mal bagi saya tak terlalu baik dari pertumbuhan ekonomi, karena seharusnya industrilah yang mesti bertambah karena menyerap labor lebih banyak , mal mal justru membuat anak anak kita makin boros , apalagi ditambah mudahnya memperoleh kartu kredit, sehingga anak anak baru gedepun sudah dapat berbelanja dengan tinggal gesek saja ( ya orangtuapun ikut berperan dalam memboroskan belanja bagi anak anaknya) , perkembangan teknologi hp pun, yang mudah menghabiskan rupiah lewat pulsa membuat biaya komunikasi jauh lebih mahal dari memakan makanan yang bergizi. Bayangkan saja ketimpangan ini bu, saya sendiri bergerak di salah satu Yayasan Sosial, sering terkaget kaget, ternyata anak anak yang orang tuanya mengaku tidak mampu membiayai anak anaknya sekolah, tetapi anak anaknya justru membahwa hp hp yang bagus dan mampu berlama lama ngobrol . Tidak mampu membiayai uang sekolah tetapi mampu untuk membeli dan memboroskan pulsa.
Anyway, saya senang sekali, membaca tulisan ibu, karena sangat jarang sekali orang yang sudah menetap di luar negeri masih menaruh perhatian yang sangat dalam buat ibu pertiwinya. Salam, HH ________________________________ From: Hartati Nurwijaya <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, December 22, 2008 11:24:25 AM Subject: Re: [bango-mania] Jakarta Akhir Tahun 2008 (bagian 2) Dear Dik Radityo, Saat ini saya sedang mengupdate blog. Baru membuat ringkasan kisah road show di Jakarta dan Yogya. Tentu saja dengan senang hati rumah kami terbuka, Kami tinggal 35 km dari Athena. Dalam rangka apa ke Yunani? Tugas atau meliput? Telpon rumah kami 30 2296021223 mobile 30 6945441660 Salam, Hartati Nurwijaya in Megara - Greece http://hartatinurwi jaya.blogspot. com/ --- On Mon, 12/22/08, mediacare <mediac...@cbn. net.id> wrote: From: mediacare <mediac...@cbn. net.id> Subject: Re: [bango-mania] Jakarta Akhir Tahun 2008 (bagian 2) To: bango-mania@ yahoogroups. com Date: Monday, December 22, 2008, 1:48 PM Dear Mbak Hartati, Terima kasih untuk postingannya. Maaf lho, waktu itu saya tidak sempat nongol di acara peluncuran buku kulinernya. Ramai kan? Boleh dong dishare ke milis. Oh ya, saya ada rencana berkunjung ke Yunani di bulan Maret 2009, bisa mampir? salam, radityo ----- Original Message ----- From: Hartati Nurwijaya To: alumni_fisipol_ u...@yahoogroups. com ; akarrum...@yahoogro ups.com ; sosiologibudaya@ yahoogroups. com ; Forum_LingkarPena@ yahoogroups. com ; supermindpower@ yahoogroups. com ; bango-mania@ yahoogroups. com ; wordsmartcenter@ yahoogroups. com Cc: l...@yahoogroups. com ; sman4...@yahoogroup s.com ; mediac...@yahoogrou ps.com ; penulislepas@ yahoogroups. com ; penulisbestseller Sent: Sunday, December 21, 2008 6:42 PM Subject: [bango-mania] Jakarta Akhir Tahun 2008 (bagian 2) Bagian Kedua dari dua tulisan; Menjadikan Jakarta sebagai obyek turis, tidak harus mengorbankan "banyak hal". Banyak hal yang menyangkut rakyat jelata dan pekerja sektor informal. Penggusuran penjual buku Kwitang yang ditempatkan di pasar Hypermarket bekas pasar Gang Lontar Jakarta misalnya. Jelas pelajar dan mahasiswa akan malas kesana. Sebab letaknya tidak strategis dan jauh dari lokasi kampus dan sekolah mereka. Memang tidak bisa kita pungkiri, Jakarta tujuan utama urbanisasi. Berbondong mengais rejeki di Jakarta. Peminta-minta di jalan raya sudah tidak terlihat. Namun betapa terkejutnya saya ketika menemukan peminta-minta yang bekerja menyapu sampah di dalam kereta api (KRL). Sambil menyapu lantai kereta yang kotor, mereka meminta-minta di dalam KA. Ketika hendak ke Glodok, supir mikrolet yang yang tumpangi memperingtakan tentang banyaknya copet di sekitar Glodok. Sempat was-was juga sampai di Glodok. Sambil mencari kaset PS3 pesanan sanak keluarga di Yunani. Ternyata harga kaset sama saja sebab yang dijual oleh pedagang Glodok. Kaset PS-3 adalah kaset asli dan mereka belum bisa menjual copy-annya. Pedagang kaset menjelaskan bahwa kaset bajakan hanya dapat disetel di Indonesia saja. Banyak sekali software program bajakan masih tetap dijual di Glodok. Tapi saya belum nekad membelinya, sebab takut ketangkap kalau saja ada pemeriksaan di bandara Yunani. Sambil turun tangga, saya sempat mendengar pembicaraan seorang pembeli VCD porno dengan pedagangnya, “Kalau filmnya tidak bagus boleh tukar ya?” Saya hanya bisa senyum melihat transaksi yang terjadi di tepi jalan raya. Ternyata UU Pornografi yang telah disyahkan belum masuk Glodok. Jakarta memang penuh dilemma. Hukum ditegakkan, dilakukan pembersihan. Kemudian pelanggar hukum akan muncul kembali. Para pendatang digusur, namun kembali lagi. Entah sudah berapa kali saya mendengar banyak pedagang VCD, CD bajakan dan software bajakan yang ditangkap. Juga penggusuran tempat-tempat mesum di sepanjang rel kereta api. Daerah Bongkaran di Tanah Abang misalnya. Sejak zaman saya masih SD (tahun 70-an) hingga kini saya masih melihat masih banyak wanita malam duduk di bangku di sepanjang rel KA. Jurang antara yang kaya dan miskin semakin lebar. Hal ini tampak jelas, ketika saya melewati daerah perumahan elit. Lihat saja, daerah Permata Hijau. Di seberangnya banyak berjajar rumah-rumah sederhana dari bahan tripleks. Kampung kumuh Kali Anyar masih tetap sama. Walau Mal Roxy Mas tempat pusat penjualan telepon selular terbesar di Asia Tenggara berada tepat di seberangnya. Bahkan ketika saya naik angkutan melewati daerah pemukiman Duren Tiga; berseberangan dengan rumah mewah tampak seorang Bapak berbaju lusuh sedang mencangkung (jongkok) diatas bangku menghirup kopi di kedai bambu yang kumuh. Di sisi lain semakin banyak saya melihat Starbuck toko kopi Franchaising asal US , yang membuka gerainya di luar mal. Ada gerainya bahkan bersebelahan dengan SPBU (penjual bensin). Menulis tentang Jakarta tidak akan pernah selesai. Banyak hal yang belum saya paparkan dalam dua tulisan ini. Satu hal yang pasti, perubahan yang menyenangkan telah terjadi. Perubahan pelayanan oleh sebagian kantor pemerintah. Pelayanan di kelurahan yang semakin cepat dan tidak pungli. Pelayanan di kantor Polisi yang serba gratis. Walau masih ada peringatan memberi seikhlasnya. Masalah banjir yang menyebabkan penyakit dan kemacetan jalan raya. Yang saya lihat hanya pengorekan lumpur oleh para pekerja di sepanjang jalan raya. Berkantong-kantong lumpur sudah dikorek, dan entah berapa biaya di pos ke aktifitas ini namun tetap tidak membawa hasil. Volume curah hujan lebih besar dibanding jumlah lumpur yang dikorek dari selokan sepanjang jalan Sudirman dllnya. Megara , 21 Desember 2008 Hartati Nurwijaya in Megara - Greece http://resep- mediterania. blogspot. com/
