Dear Mbak Hartati,

Terima kasih untuk postingannya. Maaf lho, waktu itu saya tidak sempat nongol 
di acara peluncuran buku kulinernya. Ramai kan? Boleh dong dishare ke milis.

Oh ya, saya ada rencana berkunjung ke Yunani di bulan Maret 2009, bisa mampir?

salam,

radityo



  ----- Original Message ----- 
  From: Hartati Nurwijaya 
  To: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] 
  Cc: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; penulisbestseller 
  Sent: Sunday, December 21, 2008 6:42 PM
  Subject: [bango-mania] Jakarta Akhir Tahun 2008 (bagian 2)


        Bagian Kedua dari dua tulisan; 

         

         

        Menjadikan Jakarta sebagai obyek turis, tidak harus mengorbankan 
"banyak hal". Banyak hal yang menyangkut rakyat jelata dan pekerja sektor 
informal. Penggusuran penjual buku Kwitang yang ditempatkan di pasar 
Hypermarket bekas pasar Gang Lontar Jakarta misalnya. Jelas pelajar dan 
mahasiswa akan malas kesana. Sebab letaknya tidak strategis dan jauh dari 
lokasi kampus dan sekolah mereka. 

         

         

        Memang tidak bisa kita pungkiri, Jakarta tujuan utama urbanisasi. 
Berbondong mengais rejeki di Jakarta. Peminta-minta di jalan raya sudah tidak 
terlihat. Namun betapa terkejutnya saya ketika menemukan peminta-minta yang 
bekerja menyapu  sampah di dalam kereta api (KRL). Sambil menyapu lantai kereta 
yang kotor, mereka meminta-minta di dalam KA. 

         

        Ketika  hendak ke Glodok, supir mikrolet yang yang tumpangi 
memperingtakan tentang banyaknya copet di sekitar Glodok.  Sempat was-was juga 
sampai di Glodok. Sambil  mencari kaset PS3 pesanan sanak keluarga di Yunani. 
Ternyata harga kaset sama saja sebab yang dijual oleh pedagang Glodok. Kaset 
PS-3 adalah kaset asli dan mereka belum bisa menjual copy-annya. Pedagang kaset 
menjelaskan bahwa kaset bajakan hanya dapat disetel di Indonesia saja. Banyak 
sekali software program bajakan masih tetap  dijual di Glodok. Tapi saya belum 
nekad membelinya, sebab takut ketangkap kalau saja ada pemeriksaan di bandara 
Yunani. 

         

        Sambil turun tangga, saya sempat mendengar pembicaraan seorang pembeli 
VCD porno dengan pedagangnya, "Kalau filmnya tidak bagus boleh tukar ya?" 

        Saya hanya bisa senyum melihat transaksi yang terjadi di tepi jalan 
raya. Ternyata UU Pornografi yang telah disyahkan belum masuk Glodok. 

         

        Jakarta memang penuh dilemma. Hukum ditegakkan, dilakukan pembersihan. 
Kemudian pelanggar hukum akan muncul kembali. Para pendatang digusur, namun 
kembali lagi. 

         

        Entah sudah berapa kali saya mendengar banyak pedagang VCD, CD  bajakan 
dan software bajakan yang ditangkap. Juga penggusuran tempat-tempat mesum di 
sepanjang rel kereta api. Daerah Bongkaran di Tanah Abang misalnya. Sejak zaman 
saya masih SD (tahun 70-an) hingga  kini saya masih melihat masih banyak wanita 
malam duduk di bangku di sepanjang rel KA. 

         

         

        Jurang antara yang kaya dan miskin semakin lebar. Hal ini tampak jelas, 
ketika saya melewati daerah perumahan elit. Lihat saja, daerah Permata Hijau. 
Di seberangnya banyak berjajar rumah-rumah sederhana dari bahan tripleks. 
Kampung kumuh Kali Anyar masih tetap sama. Walau Mal Roxy Mas tempat pusat 
penjualan telepon selular terbesar di Asia Tenggara berada tepat di 
seberangnya. Bahkan ketika saya naik angkutan melewati daerah pemukiman Duren 
Tiga;  berseberangan dengan rumah mewah tampak seorang Bapak berbaju lusuh 
sedang mencangkung (jongkok) diatas bangku menghirup kopi di kedai  bambu yang 
kumuh. Di sisi lain semakin banyak saya melihat Starbuck toko kopi Franchaising 
asal US, yang membuka gerainya di luar mal. Ada gerainya bahkan bersebelahan 
dengan SPBU (penjual bensin). 

         

        Menulis tentang Jakarta tidak akan pernah selesai. Banyak hal yang 
belum saya paparkan dalam dua tulisan ini. Satu hal yang pasti, perubahan yang 
menyenangkan telah terjadi. Perubahan pelayanan oleh sebagian kantor 
pemerintah. Pelayanan di kelurahan yang semakin cepat dan tidak pungli. 
Pelayanan di kantor Polisi yang serba gratis. Walau masih ada peringatan 
memberi seikhlasnya. 

         

        Masalah banjir yang menyebabkan penyakit dan kemacetan jalan raya. Yang 
saya lihat hanya pengorekan lumpur oleh para pekerja di sepanjang jalan raya. 
Berkantong-kantong lumpur sudah dikorek, dan entah berapa biaya di pos ke 
aktifitas ini namun tetap tidak membawa hasil. Volume curah hujan lebih besar 
dibanding jumlah lumpur yang dikorek dari selokan sepanjang jalan Sudirman 
dllnya. 

        Megara, 21 Desember 2008 

         

           

        Hartati Nurwijaya in Megara - Greece


        http://resep-mediterania.blogspot.com/
       



   

Kirim email ke