Iya Mbak Feria saya juga suka Gule Kepala Kambing. Rasanya nendang. 
Daging-daging kambing yang ngumpet di kepala, citaranya sungguh bedza dengan 
daging kambing yang umumnya buat Sate.

Dulu waktu saya masih kecil, usai Idul Adha, ibuku suka memasak Gule Kepala 
Kambing. Sebelum dimasak dan dibumbui, kepala kambing itu dibakar terlebih 
dahulu, untuk membuang bulu-bulu yang masih melekat.
Lalu kepala tersebut dipecah dengan kapak atau arit. Musti hati-hati, jangan 
sampai otaknya berantakan. Kalau dimasak utuh kepala, memang ngeri ngeliatnya.

Lalu mulai dimasak deh itu kepala kambing....nyam nyam nyam...


salam,

radityo









Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia


  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, May 27, 2009 4:53 PM
  Subject: Re: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban





  Mbak, di Medan juga ada Khusus rendang kepala kambing. Enak kok mbak hehehhehe


  Feria

  Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss...!



------------------------------------------------------------------------------
  From: [email protected]
  Date: Wed, 27 May 2009 15:58:39 +0000
  To: <[email protected]>
  Subject: Re: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban


  Sereeeemmmm..hhiiii..kaya orang bar-barian..duh jadi bayangin sumanto..hahaha

  "El"

  Sent from my BlackBerry®
  powered by Sinyal Kuat INDOSAT



------------------------------------------------------------------------------
  From: "mediacare" 
  Date: Wed, 27 May 2009 22:09:44 -0700
  To: <[email protected]>; jatim mania<[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
  Subject: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban



  26/05/09 19:02

  Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban


  oleh Slamet Agus Sudarmojo


  Tuban (ANTARA News)- Satu porsi gulai yang satu ini, sulit bisa dihabiskan 
hanya untuk seorang. Masalahnya, menu gulai masakan Mbah Run (60), penjual 
makanan di Desa Mbangunrejo, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur ini, berupa satu 
kepala kambing utuh.

  "Satu porsi gulai kepala kambing ini, saya jual Rp50.000 biasanya pembelinya 
rombongan bisa lima sampai sepuluh orang atau dibawa pulang,"kata Mbah Run, 
yang ditemui di warungnya,Sabtu (23/5).

  Kalau hanya seorang memesan satu porsi gulai kepala kambing, katanya, 
mustahil bisa menghabiskan porsi gulai itu. Dan lagi, seorang pembeli tidak 
mungkin membeli, gulai kepala kambing, hanya secukupnya, sebab cara menjual 
gulai tersebut, tidak sepotong-potong, tetapi utuh satu kepala kambing plus dua 
mangkuk kuah gulai.

  Cara memakannya, bagi pembeli yang makan di tempat, Mbah Run memberi kepala 
kambing utuh diletakkan di atas piring, dilengkapi dua mangkuk kuah ditambah 
garpu dan pisau. Menurut Mbah Run, di warungnya hanya menyediakan nasi putih.

  "Pembeli lebih senang nasi jagung, karena kalau nasi biasa sudah 
umum,"katanya. Dengan pisau, pembeli mengiris sendiri mulai kulit kepala, 
hingga daging yang ada di kepala, menyantap dengan nasi jagung dicampur kuah 
gulai.

  Puncak menikmati hidangan adalah dengan menyantap otak kambing. Terlebih dulu 
pembeli harus meminta bantuan Mbah Run,untuk memecah batok kepala kambing.

  Gulai biasa dibandingkan dengan gulai kepala kambing, kata Mbah Run yang nama 
aslinya,Urip, bumbunya hampir sama hanya ada perbedaan sedikit yakni khusus 
gulai kepala kambing, selain ada bumbu merica,ketumbar, bawang putih,kemiri dan 
bawang merah, ditambah santan.

  Bumbu santan ini, jarang dijumpai pada masakan gulai yang biasa dijual di 
pedagang lainnya. Santan, katanya, bermanfaat untuk melunakkan kepala kambing, 
ketika memasak, sekaligus menambah rasa gurih dan lezat ketika disantap.

  Dia menjelaskan, memasak kepala kambing tidak membutuhkan waktu lama. Semua 
kepala kambing, prinsipnya direbus. Tetapi, sedikit rumit justru ketika harus 
menghilangkan bulu yang ada di kepala kambing, karena membutuhkan ketelitian.

  "Harus telaten, untuk bisa bersih,"kata Mbah Run, yang memiliki lima karyawan 
di warungnya itu.. Mbah Run mengaku, sudah berjualan gulai kepala kambing 
selama hampir 20 tahun.

  Keahliannya membuat masakan itu, belajar neneknya,Kadisah yang pernah 
berjualan gulai kepala kambing, puluhan tahun yang lalu di seputaran alun-alun 
Kota Tuban. Neneknya itu, berjualan gulai kepala kambing, karena 
kakeknya,Kasim, sehari-harinya menjadi tukang jagal kambing, sehingga dengan 
mudah bisa mendapatkan kepala kambing karena kepala kambing, di kala itu 
menjadi jatah jagal kambing.

  "Karena saya ikut nenek, akhirnya bisa membuat gulai kepala kambing.Cuma 
nenek saya belajar dari mana saya tidak tahu,"katanya berusaha mengenang 
pengalamannya itu.

  Selama ini, Mbah Run mengaku, bisa menjual gulai kepala kambing sehari 
rata-rata lima sampai 10 ekor dan pada hari-hari tertentu bisa mencapai 15 
ekor. Untuk mendapatkan kepala kambing, tidaklah sulit, sebab kepala kambing 
yang dijagal di wilayah Tuban dan sekitarnya sudah menjadi langganannya dan 
langsung dikirim ke tempatnya.

  Peminat gulai kepala kambing masakan Mbah Run, beragam mulai kalangan 
menengah hingga atas, dari daerah Tuban dan sekitarnya dan Bojonegoro. Selain 
langsung datang memakan beramai-ramai, ada yang membeli dibawa pulang kerumah.

  Mbah Run mengaku bangga berjualan gulai kepala kambing, sebab menu masakannya 
tersebut berbeda dengan gulai yang selama ini dijual para pedagang yang ada, 
karena itu, dia melengkapi menu masakannya dengan sate kambing, ayam, kuda dan 
itik.

  "Saya memotong sendiri, kecuali untuk daging kuda,"katanya. Untuk daging 
kuda, untuk mendapatkan tidaklah sulit, ketika stok daging habis cukup angkat 
telepon dan penjualnya datang mengantarkan daging kuda.

  Di warung, Mbah Run, sate tersebut harganya Rp11.000,00 per sepuluh tusuk 
untuk sate kambing dan kuda dan Rp10.000,00 per sepuluh tusuk untuk sate itik 
dan sate ayam.

  "Rata-rata pembeli memburu sate kuda dan itik, karena di luaran tidak 
ada,"katanya menjelaskan. Meski demikian, sate lainnya cukup diminati pembeli, 
sedangkan dalam sehari Mbah Run menyembelih sendiri tiga ekor itik. 

  Mencari warung Mbah Run, tidaklah mudah, selain masuk ke jalanan desa, 
tempatnya tidak berbeda dengan rumah lainnya di daerah pedesaan.

  Tulisan warung Mbah Run, terpasang dalam bentuk "banner", tetapi tidak di 
luar rumah atau warung tetapi ada di dalam warungnya. Banner yang ada 
tulisannya, warung Mbah Run tersebut dilengkapi dengan gambar seorang caleg 
dari parpol di Tuban.

  "Karena diberi ya saya biarkan untuk dipasang,sebab caleg lainnya ada yang 
memasang kalender atau stiker,karena saya warung harus semuanya saya 
tampung,"katanya.

  Mencapai lokasi warung, Mbah Run, jika ditempuh dari Bojonegoro, Jawa Timur, 
jauhnya berkisar sembilan km. Setelah melewati jembatan Glendeng, di Desa 
Kalirejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro, masih harus menempuh perjalanan ke arah 
utara sejauh empat km, berbelok masuk di jalanan desa sekitar satu km.(*)
   
  http://antara.co.id/arc/2009/5/26/gulai-kepala-kambing-ala-desa-tuban/



  Please add my Facebook: 
  Radityo Indonesia
  Mediacare Indonesia



  

Kirim email ke