Mas, di jl. Iskandar muda, depan seberang jalan ramayana mall...ada deretan 
warung warung
Ati ati ya mas, ntar naik tekanan darah hehhehe tapi emang enak lho...seperti 
yg mas Radit katakan
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: octo ferdi <[email protected]>

Date: Thu, 28 May 2009 10:41:08 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban


Boleh minta alamat rendang kepala kambing yg di mendan ?
soale dalam waktu dekat ini aku ada tugas ke sana..
trims


________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, May 28, 2009 6:53:33 AM
Subject: Re: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban





Mbak, di Medan juga ada Khusus rendang kepala kambing. Enak kok mbak hehehhehe


Feria
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!
________________________________
From:  elmy...@yahoo. com
Date: Wed, 27 May 2009 15:58:39 +0000
To: <bango-mania@ yahoogroups. com>
Subject: Re: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban

Sereeeemmmm. .hhiiii.. kaya orang bar-barian.. duh jadi bayangin sumanto..hahaha

"El"
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
________________________________
From:  "mediacare" 
Date: Wed, 27 May 2009 22:09:44 -0700
To: <media-jatim@ yahoogroups. com>; jatim mania<jatim_mania@ yahoogroups. 
com>; <bango-mania@ yahoogroups. com>; <appetitejourney@ yahoogroups. com>
Subject: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban

26/05/09 19:02
Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban


oleh Slamet Agus Sudarmojo

 
Tuban (ANTARA News)- Satu porsi  gulai yang satu ini, sulit bisa dihabiskan 
hanya untuk seorang. Masalahnya, menu  gulai masakan Mbah Run (60), penjual 
makanan di Desa Mbangunrejo, Kecamatan  Soko, Tuban, Jawa Timur ini, berupa 
satu kepala kambing utuh.

"Satu porsi  gulai kepala kambing ini, saya jual Rp50.000 biasanya pembelinya 
rombongan bisa  lima sampai sepuluh orang atau dibawa pulang,"kata Mbah Run, 
yang ditemui di  warungnya,Sabtu (23/5).

Kalau hanya seorang memesan satu porsi gulai  kepala kambing, katanya, mustahil 
bisa menghabiskan porsi gulai itu. Dan lagi,  seorang pembeli tidak mungkin 
membeli, gulai kepala kambing, hanya secukupnya,  sebab cara menjual gulai 
tersebut, tidak sepotong-potong, tetapi utuh satu  kepala kambing plus dua 
mangkuk kuah gulai.

Cara memakannya, bagi pembeli  yang makan di tempat, Mbah Run memberi kepala 
kambing utuh diletakkan di atas  piring, dilengkapi dua mangkuk kuah ditambah 
garpu dan pisau. Menurut Mbah Run,  di warungnya hanya menyediakan nasi putih.

"Pembeli lebih senang nasi  jagung, karena kalau nasi biasa sudah 
umum,"katanya. Dengan pisau, pembeli  mengiris sendiri mulai kulit kepala, 
hingga daging yang ada di kepala, menyantap  dengan nasi jagung dicampur kuah 
gulai.

Puncak menikmati hidangan adalah  dengan menyantap otak kambing. Terlebih dulu 
pembeli harus meminta bantuan Mbah  Run,untuk memecah batok kepala kambing.

Gulai biasa dibandingkan dengan  gulai kepala kambing, kata Mbah Run yang nama 
aslinya,Urip, bumbunya hampir sama  hanya ada perbedaan sedikit yakni khusus 
gulai kepala kambing, selain ada bumbu  merica,ketumbar, bawang putih,kemiri 
dan bawang merah, ditambah  santan.

Bumbu santan ini, jarang dijumpai pada masakan gulai yang biasa  dijual di 
pedagang lainnya. Santan, katanya, bermanfaat untuk melunakkan kepala  kambing, 
ketika memasak, sekaligus menambah rasa gurih dan lezat ketika  disantap.

Dia menjelaskan, memasak kepala kambing tidak membutuhkan waktu  lama. Semua 
kepala kambing, prinsipnya direbus. Tetapi, sedikit rumit justru  ketika harus 
menghilangkan bulu yang ada di kepala kambing, karena membutuhkan  ketelitian.

"Harus telaten, untuk bisa bersih,"kata Mbah Run, yang  memiliki lima karyawan 
di warungnya itu.. Mbah Run mengaku, sudah berjualan  gulai kepala kambing 
selama hampir 20 tahun.

Keahliannya membuat masakan  itu, belajar neneknya,Kadisah yang pernah 
berjualan gulai kepala kambing,  puluhan tahun yang lalu di seputaran alun-alun 
Kota Tuban. Neneknya itu,  berjualan gulai kepala kambing, karena 
kakeknya,Kasim, sehari-harinya menjadi  tukang jagal kambing, sehingga dengan 
mudah bisa mendapatkan kepala kambing  karena kepala kambing, di kala itu 
menjadi jatah jagal kambing.

"Karena  saya ikut nenek, akhirnya bisa membuat gulai kepala kambing.Cuma nenek 
saya  belajar dari mana saya tidak tahu,"katanya berusaha mengenang 
pengalamannya  itu.

Selama ini, Mbah Run mengaku, bisa menjual gulai kepala kambing  sehari 
rata-rata lima sampai 10 ekor dan pada hari-hari tertentu bisa mencapai  15 
ekor. Untuk mendapatkan kepala kambing, tidaklah sulit, sebab kepala kambing  
yang dijagal di wilayah Tuban dan sekitarnya sudah menjadi langganannya dan  
langsung dikirim ke tempatnya.

Peminat gulai kepala kambing masakan Mbah  Run, beragam mulai kalangan menengah 
hingga atas, dari daerah Tuban dan  sekitarnya dan Bojonegoro. Selain langsung 
datang memakan beramai-ramai, ada  yang membeli dibawa pulang kerumah.

Mbah Run mengaku bangga berjualan  gulai kepala kambing, sebab menu masakannya 
tersebut berbeda dengan gulai yang  selama ini dijual para pedagang yang ada, 
karena itu, dia melengkapi menu  masakannya dengan sate kambing, ayam, kuda dan 
itik.

"Saya memotong  sendiri, kecuali untuk daging kuda,"katanya. Untuk daging kuda, 
untuk  mendapatkan tidaklah sulit, ketika stok daging habis cukup angkat 
telepon dan  penjualnya datang mengantarkan daging kuda.

Di warung, Mbah Run, sate  tersebut harganya Rp11.000,00 per sepuluh tusuk 
untuk sate kambing dan kuda dan  Rp10.000,00 per sepuluh tusuk untuk sate itik 
dan sate ayam.

"Rata-rata  pembeli memburu sate kuda dan itik, karena di luaran tidak 
ada,"katanya  menjelaskan. Meski demikian, sate lainnya cukup diminati pembeli, 
sedangkan  dalam sehari Mbah Run menyembelih sendiri tiga ekor itik. 

Mencari warung  Mbah Run, tidaklah mudah, selain masuk ke jalanan desa, 
tempatnya tidak berbeda  dengan rumah lainnya di daerah pedesaan.

Tulisan warung Mbah Run,  terpasang dalam bentuk "banner", tetapi tidak di luar 
rumah atau warung tetapi  ada di dalam warungnya. Banner yang ada tulisannya, 
warung Mbah Run tersebut  dilengkapi dengan gambar seorang caleg dari parpol di 
Tuban.

"Karena  diberi ya saya biarkan untuk dipasang,sebab caleg lainnya ada yang 
memasang  kalender atau stiker,karena saya warung harus semuanya saya  
tampung,"katanya.

Mencapai lokasi warung, Mbah Run, jika ditempuh dari  Bojonegoro, Jawa Timur, 
jauhnya berkisar sembilan km. Setelah melewati jembatan  Glendeng, di Desa 
Kalirejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro, masih harus menempuh  perjalanan ke arah 
utara sejauh empat km, berbelok masuk di jalanan desa sekitar  satu km.(*)
 
http://antara. co.id/arc/ 2009/5/26/ gulai-kepala- kambing-ala- desa-tuban/

 
 
Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia
   


      

Kirim email ke