Mas Mediacare,
Gulai kepala kambing ngga cuma ada di Tuban aja lho. Tradisi makan gulai 
kambing atau asem-asen Kepala kambing dah ada dari dulu di keluarga kami. 
Biasanya, Ayah saya yang jadi juru "iris" nya. Terus kita ditanya, maunya 
bagian apa ? kebetulan saya paling suka lidah. Di Desa asal saya, Kemantran - 
Tegal, juga ada warung-warung sate kambing yang menyediakan gule kambing itu.. 
Proses memasaknya pun sama persis, seperti yang di warung mba rum. Jadi bukan 
hanya di Tuban aja lho, yang ada gule kepala kambing....

--- On Thu, 5/28/09, mediacare <[email protected]> wrote:

From: mediacare <[email protected]>
Subject: [bango-mania] Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban
To: [email protected], "jatim mania" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected]
Date: Thursday, May 28, 2009, 5:09 AM











    
            
            


      
      


26/05/09 19:02
Gulai Kepala Kambing Ala Desa Tuban


oleh Slamet Agus Sudarmojo

 
Tuban (ANTARA News)- Satu porsi 
gulai yang satu ini, sulit bisa dihabiskan hanya untuk seorang. Masalahnya, 
menu 
gulai masakan Mbah Run (60), penjual makanan di Desa Mbangunrejo, Kecamatan 
Soko, Tuban, Jawa Timur ini, berupa satu kepala kambing utuh.

"Satu porsi 
gulai kepala kambing ini, saya jual Rp50.000 biasanya pembelinya rombongan bisa 
lima sampai sepuluh orang atau dibawa pulang,"kata Mbah Run, yang ditemui di 
warungnya,Sabtu (23/5).

Kalau hanya seorang memesan satu porsi gulai 
kepala kambing, katanya, mustahil bisa menghabiskan porsi gulai itu. Dan lagi, 
seorang pembeli tidak mungkin membeli, gulai kepala kambing, hanya secukupnya, 
sebab cara menjual gulai tersebut, tidak sepotong-potong, tetapi utuh satu 
kepala kambing plus dua mangkuk kuah gulai.

Cara memakannya, bagi pembeli 
yang makan di tempat, Mbah Run memberi kepala kambing utuh diletakkan di atas 
piring, dilengkapi dua mangkuk kuah ditambah garpu dan pisau. Menurut Mbah Run, 
di warungnya hanya menyediakan nasi putih.

"Pembeli lebih senang nasi 
jagung, karena kalau nasi biasa sudah umum,"katanya. Dengan pisau, pembeli 
mengiris sendiri mulai kulit kepala, hingga daging yang ada di kepala, 
menyantap 
dengan nasi jagung dicampur kuah gulai.

Puncak menikmati hidangan adalah 
dengan menyantap otak kambing. Terlebih dulu pembeli harus meminta bantuan Mbah 
Run,untuk memecah batok kepala kambing.

Gulai biasa dibandingkan dengan 
gulai kepala kambing, kata Mbah Run yang nama aslinya,Urip, bumbunya hampir 
sama 
hanya ada perbedaan sedikit yakni khusus gulai kepala kambing, selain ada bumbu 
merica,ketumbar, bawang putih,kemiri dan bawang merah, ditambah 
santan.

Bumbu santan ini, jarang dijumpai pada masakan gulai yang biasa 
dijual di pedagang lainnya. Santan, katanya, bermanfaat untuk melunakkan kepala 
kambing, ketika memasak, sekaligus menambah rasa gurih dan lezat ketika 
disantap.

Dia menjelaskan, memasak kepala kambing tidak membutuhkan waktu 
lama. Semua kepala kambing, prinsipnya direbus. Tetapi, sedikit rumit justru 
ketika harus menghilangkan bulu yang ada di kepala kambing, karena membutuhkan 
ketelitian.

"Harus telaten, untuk bisa bersih,"kata Mbah Run, yang 
memiliki lima karyawan di warungnya itu.. Mbah Run mengaku, sudah berjualan 
gulai kepala kambing selama hampir 20 tahun.

Keahliannya membuat masakan 
itu, belajar neneknya,Kadisah yang pernah berjualan gulai kepala kambing, 
puluhan tahun yang lalu di seputaran alun-alun Kota Tuban. Neneknya itu, 
berjualan gulai kepala kambing, karena kakeknya,Kasim, sehari-harinya menjadi 
tukang jagal kambing, sehingga dengan mudah bisa mendapatkan kepala kambing 
karena kepala kambing, di kala itu menjadi jatah jagal kambing.

"Karena 
saya ikut nenek, akhirnya bisa membuat gulai kepala kambing.Cuma nenek saya 
belajar dari mana saya tidak tahu,"katanya berusaha mengenang pengalamannya 
itu.

Selama ini, Mbah Run mengaku, bisa menjual gulai kepala kambing 
sehari rata-rata lima sampai 10 ekor dan pada hari-hari tertentu bisa mencapai 
15 ekor. Untuk mendapatkan kepala kambing, tidaklah sulit, sebab kepala kambing 
yang dijagal di wilayah Tuban dan sekitarnya sudah menjadi langganannya dan 
langsung dikirim ke tempatnya.

Peminat gulai kepala kambing masakan Mbah 
Run, beragam mulai kalangan menengah hingga atas, dari daerah Tuban dan 
sekitarnya dan Bojonegoro. Selain langsung datang memakan beramai-ramai, ada 
yang membeli dibawa pulang kerumah.

Mbah Run mengaku bangga berjualan 
gulai kepala kambing, sebab menu masakannya tersebut berbeda dengan gulai yang 
selama ini dijual para pedagang yang ada, karena itu, dia melengkapi menu 
masakannya dengan sate kambing, ayam, kuda dan itik.

"Saya memotong 
sendiri, kecuali untuk daging kuda,"katanya. Untuk daging kuda, untuk 
mendapatkan tidaklah sulit, ketika stok daging habis cukup angkat telepon dan 
penjualnya datang mengantarkan daging kuda.

Di warung, Mbah Run, sate 
tersebut harganya Rp11.000,00 per sepuluh tusuk untuk sate kambing dan kuda dan 
Rp10.000,00 per sepuluh tusuk untuk sate itik dan sate ayam.

"Rata-rata 
pembeli memburu sate kuda dan itik, karena di luaran tidak ada,"katanya 
menjelaskan. Meski demikian, sate lainnya cukup diminati pembeli, sedangkan 
dalam sehari Mbah Run menyembelih sendiri tiga ekor itik. 

Mencari warung 
Mbah Run, tidaklah mudah, selain masuk ke jalanan desa, tempatnya tidak berbeda 
dengan rumah lainnya di daerah pedesaan.

Tulisan warung Mbah Run, 
terpasang dalam bentuk "banner", tetapi tidak di luar rumah atau warung tetapi 
ada di dalam warungnya. Banner yang ada tulisannya, warung Mbah Run tersebut 
dilengkapi dengan gambar seorang caleg dari parpol di Tuban.

"Karena 
diberi ya saya biarkan untuk dipasang,sebab caleg lainnya ada yang memasang 
kalender atau stiker,karena saya warung harus semuanya saya 
tampung,"katanya.

Mencapai lokasi warung, Mbah Run, jika ditempuh dari 
Bojonegoro, Jawa Timur, jauhnya berkisar sembilan km. Setelah melewati jembatan 
Glendeng, di Desa Kalirejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro, masih harus menempuh 
perjalanan ke arah utara sejauh empat km, berbelok masuk di jalanan desa 
sekitar 
satu km.(*)
 
http://antara. co.id/arc/ 2009/5/26/ gulai-kepala- kambing-ala- desa-tuban/

 
 
Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke