Kue Pengantin Betawi: Patangan Dilanggar, Kue Gagal



PELESTARIAN
kuliner nusantara memerlukan kepedulian generasi muda. Hal itu disadari
oleh pasangan suami-istri Nawiyah (35) dan Ahmad Rido (40). Mereka
meneruskan usaha sang ibu (almarhumah) Hj Idop dalam membuat jajanan
hantaran pengantin Betawi, seperti kue geplak, kue wajik, kue lapis
pepe, uli, dan tape ketan, serta dodol betawi.
Beberapa jenis kue
memang sering kita lihat di pasar, seperti kue pepe (kue lapis dari
tepung sagu), tape dan ketan uli. Namun untuk geplak dan dodol sudah
agak jarang yang membuatnya. Mungkin karena tingkat kesulitannya tinggi
dan banyak tata cara dalam membuat panganan tersebut.
"Membuat dodol
dan geplak banyak pantangannya. Percaya tidak percaya, kalau dilanggar
bisa tidak jadi kuenya," kata Ahmad Rido, atau yang akrab disapa Edo,
ketika ditemui di rumah sekaligus warungnya di Tegal Rotan, Bintaro.
Biasanya
panganan itu khusus dipesan untuk hantaran pengantin Betawi. Ada juga
yang pesan untuk hajatan (selamatan). Jadi pembuatannya berdasarkan
pesanan.
Hanya dodol saja yang paling sering dibuat, meski tidak ada
pesanan. Paling tidak dua hari sekali Edo memproduksinya dan dijual per
kilogram. Kemasannya sengaja dibuat tidak terlalu besar. Sedangkan pada
bulan Puasa, 15 hari menjelang Lebaran pembuatan dodol mulai meningkat.
Adapun pesanan sudah harus dilakukan sebulan sebelumnya.
Biasanya,
untuk pesanan hantaran pengantin, kemasannya memakai tenong (wadah
bulat terbuat dari anyaman bambu) berukuran 15 cm x 15 cm atau 20 cm x
20 cm. Selagi panas langsung dicetak di wadah yang telah dialasi
plastik bening. Harganya berkisar R 75.000-Rp 150.000.
Dodol Betawi
buatan Nawiyah terasa legit tetapi tidak terlalu manis. Kadar rasa
manis bisa dipesan sesuai selera. Begitu juga dengan geplak dan
lainnya. Dodol terbuat dari beras ketan yang digiling lalu ditambahkan
gula merah dan santan kelapa yang diambil patinya. Pembuatannya memakan
waktu hingga tujuh jam.

Dipukul
Sedangkan
geplak dibuat dari beras yang agak pera lalu digiling menjadi tepung
dan disangrai, dicampur dengan kelapa parut yang juga sudah disangrai
sebelumnya. Kemudian adonan itu dicampur dengan gula pasir yang sudah
dicairkan hingga agak mengental dan selagi panas diaduk-aduk hingga
menjadi adonan yang padat.
"Agak repot memang, apalagi dalam kondisi
panas (meski awalnya pakai centong --Red) harus diaduk dengan tangan.
Baru kemudian dicetak ditenong atau wadah lalu diratakan dengan tangan
dengan setengah dipukul, karenanya disebut dengan geplak," tutur
Nawiyah.
Supaya tidak lengket di tangan, di atas permukaan geplak
ditaburi tepung giling yang disangrai, lalu didiamkan selama 2 jam
sampai mengeras. Penampilannya jadi cukup menarik. Kue ini meski
kelihatan kokoh tapi saat dimakan sangat empuk dan gampang hancurnya.
Rasanya manis gurih. Tersedia dalam ukuran tenong 15 m x 15 cm dan 20 m
x 20 cm harganya Rp 50.000-Rp 100.000.
Ketahanan kue geplak bila di
suhu ruangan bisa sampai 3 hari, sedangkan di dalam kulkas bisa sampai
seminggu dan akan semakin renyah. Sedangkan dodol bisa sampai tiga
minggu di suhu ruang.
Pembuatan wajik pun tidak jauh beda dengan
dodol dan geplak. Bahan dasarnya beras ketan yang direndam selama 6 jam
supaya empuk, lalu dicampur dengan kelapa yang sudah disangrai, gula
merah, dan santan. Semua bahan diaduk di atas api hingga dua jam sampai
tanak. Harga per loyang Rp 50.000-Rp 100.000.
Selain itu mereka juga
menerima pesanan kue pepe. Dibuat sesuai selera pemesan. Ada yang minta
berlapis dengan warna merah putih atau hijau putih. Ada juga yang pesan
cokelat semua, hanya lapisannya diberi kelapa muda sebagai variasi. Kue
ini dikukus dan butuh kesabaran dalam membuatnya. Tersedia dalam ukuran
15 cm x 15 cm dengan harga Rp 35.000 dan ukuran 20 cm x 20 cm Rp 50.000.
Warung
kue Nawiyah tidak terlalu besar. Selain menerima pesanan kue, juga
menjual gado-gado dan laksa. Lokasinya berada di seberang Pasar Bintaro
Jaya.

Pantangan
Usaha
pembuatan kue hantaran khas Betawi ini dirintis Idop pada tahun 1987.
Mulanya hanya coba-coba. Saat ada yang mau hajatan lalu minta
dibuatkan, Idop menyanggupinya. Lama kelamaan menjadi usaha yang serius.
Dari
ketiga anak Idop, hanya Nawiyah yang mengembangkan bakat membuat kue
tersebut. Sebagai penerus, Nawiyah mengembangkan usaha ini dibantu sang
suami. "Pesan ibu cuma satu, yaitu harus menjaga kualitas dan
memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan. Kami harus selalu
ramah juga," ujar ibu empat anak ini.
Mengenai pantangan dan tata
cara selama pembuatan kue juga harus diikuti. Meski agak sulit diterima
akal, imbuh Nawiyah, hal itu bisa menggagalkan pembuatan kue jika
dilanggar.
Seperti pada saat membuat dodol, biasanya ada 'syaratnya'
yakni disiapkan cabe merah dan bawang yang ditusuk dengan lidi, serta
uang logam Rp 500 yang direndam di dalam air. Selama bahan dodol masih
berbentuk adonan, si pengaduk tidak boleh punya pikiran negatif atau
membicarakan yang jelek-jelek, tidak boleh banyak berbicara, tidak
boleh kesal. Mendengar berita buruk seperti ada orang yang meninggal
juga tidak diperbolehkan. "Makanya saya suka kejam sama anak kecil.
Kasarnya mereka nggak boleh dekat-dekat kalau lagi membuat adonan,"
kata Rido.
Kebanyakan pembuat dodol memang laki-laki. Soalnya, butuh
tenaga lumayan besar saat pengadukan. Dodol dimasak dalam kuali besar
di atas bara arang. Diaduk dengan kayu yang berbentuk seperti dayung.
Kalau hanya setengah kuali bisa dikerjakan dua orang, tetapi kalau
penuh, paling tidak harus ada tiga orang yang mengerjakannya.
Rido
menuturkan, dodol itu disebut juga dengan kue bacot (dalam bahasa
Betawi artinya pembicaraan). Jika seorang besan datang dengan dodol
yang bagus dan banyak jumlahnya, berarti termasuk orang kaya. Kalau
dilihat tampilan dodolnya kurang baik maka akan jadi bahan pembicaraan
pula. Ada-ada saja! (Dian Anditya M)

Warung Hj Idop/Nawiyah
Jalan Tegal Rotan 7 A, Bintaro
Telepon: 97965131

Sumber: Warta Kota/KOMPAS
Kunjungi juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org


      

Kirim email ke