Latihan Musik Mengasah Kemampuan Berbahasa

Jakarta, Jumat

        
Kirim Teman | Print Artikel
ist
Musik meningkatkan kemampuan bahasa

Beberapa orangtua memutarkan musik Mozart untuk bayinya dengan harapan
buah hatinya tumbuh menjadi anak yang jenius atau paling tidak
memberinya pengalaman ketika mulai bersekolah. Di lain pihak irama
musik ternyata juga dapat digunakan untuk melatih kemampuan berbahasa.
Paling tidak inilah pengaruh yang terlihat dari kemampuan para pemusik
dalam membedakan lafal ucapan.

Para pemusik memiliki kemampuan lebih baik dalam membedakan suara
ucapan dibanding selain pemusik. Temuan hasil penelitian ini
kemungkinan dapat juga menjelaskan mengapa terapi musik kadang-kadang
membantu anak-anak belajar berbahasa dan membaca.

Kemampuan berkata sudah dilatih sejak bayi dari percakapan orang-orang
di sekitarnya. Namun, mendengarkan orang bercakap-cakap relatif lebih
kompleks dari yang diperkirakan. Otak harus menyusun satu suara
tunggal - disebut fonem - yang menyusun kata dengan tepat dan tidak
boleh tertukar. Misalnya, membedakan antara ucapan "ba" dan "da" yang
hanya berselisih 40 milidetik.

Masalah dalam membedakan keduanya merupakan penyebab kesulitan membaca
pada anak-anak penderita disleksia. Tapi, penelitian telah menunjukkan
bahwa menyanyi dan permainan irama akan memperbaiki cara pengucapan
dan kemampuan berbahasa para penderita disleksia.

Itulah yang membuat Gaab dari Massachusetts Institute of Technology di
Cambridge penasaran apakah musik dapat meningkatkan kemampuan seorang
anak untuk membedakan perubahan suara yang begitu cepat. Ia dan
koleganya kemudian mengumpulkan 14 pemusik dewasa yang telah belajar
musik sebelum berusia 7 tahun dan terus berlatih paling tidak beberapa
jam setiap minggu. Mereka kemudian membandingkan kemampuan membedakan
ucapannya dengan 14 orang selain pemusik yang memiliki umur, jenis
kelamin, dan kemampuan dasar bahasa yang sama.

Para peneliti memintanya untuk mendengarkan sepasang lafal ucapan yang
mirip. Mereka diminta menyatakan apakah keduanya sama atau tidak.
Kemudian, kedua lafal ucapan dibuat semakin mirip hingga mereka tidak
dapat membedakannya sama sekali.

Kelompok yang menguasai musik ternyata dapat membedakannya dengan
lebih baik. Ketika pemusik dan selain pemusik dihadapkan pada sepasang
lafal yang hanya berbeda frekuensi, atau disebut pitch, pemusik lebih
mahir meskipun selisih waktunya sangat kecil. Mereka dapat mengenali
perbedaan jarak antara vokal dan konsonan seperti pengucapan yang
sangat mirip misalnya "ka" dan "ga".

Saat waktu dan frekuensi dibedakan, misalnya pada perbedaan yang besar
seperti "ba" dan "wa", para pemusik jauh lebih baik dalam
membedakannya dibandingkan yang bukan pemusik. Latihan tersebut akan
meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengkategorikan setiap bentuk
ucapan sehingga mungkin inilah yang memperbaiki memori para pemusik.
Demikian disampaikan Gaab dalam presentasinya di depan pertemuan
Society of Neuroscience.

Ahli ilmu otak (neuroscientist) Robert Zatorre dari McGill University
di Montreal, Kanada, menyatakan bahwa kesimpulan ini sangat berarti.
Namun masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan
jenis latihan musik seperti apakah yang mungkin memperbaiki kemampuan
berbahasa.

Sumber:  Science
Penulis:         Wah





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke